Pengertian dan Ciri-Ciri Pendekatan Developmentally Appropriate Practice (DAP)

Diposting pada

Pengertian dan Ciri-Ciri Pendekatan Developmentally Appropriate Practice (DAP)Developmentally Appropriate Practice (DAP) merujuk pada aplikasi pengetahuan tentang perkembangan anak usia dini dalam program pengembangan anak usia dini. Segala teori dan riset tentang bagaimana anak berkembang dan belajar sesuai tahap perkembangan digunakan dalam merekayasa lingkungan yang selaras dengan kebutuhan dan kemampuan anak. Artinya DAP berdasarkan pengetahuan dan pengertian tentang anak, bukan berdasarkan harapan atau keinginan orang tua belaka. Developmentally Appropriate Practice (DAP) bukan merupakan kurikulum atau seperangkat standar kaku, melainkan seperangkat kerangka kerja, filosofi atau pendekatan dalam pengembangan anak. Developmentally Appropriate Practice (DAP) adalah proses pembelajaran yang asik dan menyenangkan.

Pendekatan Developmentally Appropriate Practice (DAP) Haspari,ariati dan widiasari (2015: 2) memposisikan anak sebagai pemegang peranan utama dalam proses pembelajaran, dimana kegiatan yang akan dan sedang dilakukan mewadahi gagasan anak, memberikan banyak kesempatan untuk anak aktif bergerak dan bertanya, menjelajah serta mencoba. Media pembelajaran disesuaikan dengan karakter perkembangan anak usia pra sekolah yang masih berada pada tahap Pra-Operational, dimana anak membutuhkan benda konkrit dan lingkungan.

Bredekamp (Ilfiandra, 2011: 2). Menyatakan yang akan melibatkan ke semua indera yang dimiliki anak secara aktif perkembangan anak merupakan suatu proses yang kompleks, bahkan terkadang melahirkan berbagai teka-teki bahkan spekulasi. Oleh karena itu, dapat dimaklumi terdapat berbagai sudut pandang dalam menjelaskan dinamika perkembangan dan belajar anak. Dengan merujuk pada pendapat beberapa ahli psikologi perkembangan, (Ilfiandra, 2011: 2) menjelaskan bagaimana anak berkembang dan belajar sebagai berikut.

  1. Perkembangan berlangsung sebagai suatu keseluruhan ranah fisik, sosial, emosional, dan kognitif yang saling terjalin, Menjelaskan bahwa perkembangan itu terjadi secara menyeluruh dalam seluruh aspek perkembangan dan sekaligus ada keterjalinan erat antara satu ranah dengan ranah lainnya.
  2. Perkembangan terjadi dalam urutan yang relatif dapat diprediksi; abilitas, keterampilan dan pengetahuan selanjutnya dibangun berdasarkan apa yang sudah diperoleh terdahulu. Perkembangan berlangsung dalam rentang bervariasi antar anak dan juga antar bidang perkembangan dari masing-masing fungsi.
  3. Pengalaman awal memiliki pengaruh kumulatif dan tertunda terhadap perkembangan anak. Pengalaman awal bersifat kumulatif dalam arti jika suatu pengalaman jarang terjadi, maka pengalaman tersebut dapat memiliki pengaruh sedikit. Sebaliknya, jika pengalaman tersebut sering terjadi, maka pengaruhnya dapat kuat, kekal dan bahkan bertambah.
  4. Perkembangan berlangsung dalam arah yang dapat diprediksi ke arah kompleksitas, kekhususan, organisasi, dan internalisasi yang lebih meningkat. Belajar pada anak berlangsung dari pengetahuan behavioral yang sederhana ke pengetahuan simbolik atau representasional yang lebih kompleks.
  5. Anak adalah pembelajar aktif, mengambil pengalaman fisik dan sosial serta juga pengetahuan yang ditransmisikan secara kultural untuk mengkonstruk pemahamannya tentang lingkungan sekitar.
  6. Perkembangan dan belajar merupakan hasil dari interaksi kematangan biologis dan lingkungan yang mencakup lingkungan fisik dan sosial tempat anak tinggal. Bermain merupakan suatu sarana penting bagi perkembangan sosial, emosional, dan kognitif anak, dan juga merefleksikan perkembangan anak.
  7. Perkembangan dapat mengalami percepatan bila anak memiliki kesempatan untuk mempraktekan keterampilan-keterampilan yang baru diperoleh dan juga ketika mereka mengalami tantang di atas tingkat penguasaannya.
  8. Anak mendemonstrasikan dan anak memahami lingkungan dengan banyak cara dan ia cenderung memiliki cara belajar yang lebih disukai atau lebih kuat. Modalitas ini mengimplikasikan bahwa guru perlu menyediakan kesempatan bagi anak tidak hanya untuk menggunakan cara-cara belajar yang disukainya.
  9. Anak berkembang dan belajar terbaik dalam suatu konteks komunitas yang menghargai, memenuhi kebutuhan-kebutuhan fisiknya, dan aman baik secara fisik maupun psikologis.
  1. Miskonsepsi (kesalahpahaman mengenai suatu  pengertian atau  pandangan) Developmentally Appropriate Practice (DAP)

Berbagai penolakan terhadap Developmentally Appropriate Practice (DAP) disebabkan oleh kekeliruan mengartikan Developmentally Appropriate Practice (DAP). Beberapa kesalahpahaman bersumber dari kedangkalan pengetahuan mengenai perkembangan anak dan kecenderungan menyederhanakan perilaku anak yang kompleks. Menurut Gestwicki  (Ilfiandra, 2011: 4) terdapat beberapa mengenai Developmentally Appropriate Practice (DAP).

  1. Hanya ada satu cara dalam mengimplementasikan Developmentally Appropriate Practice (DAP). Miskonsepsi ini terjadi sekitar 1987 karena beberapa kalangan mengkontradiksikan antara praktik yang tepat (appropriate) dan praktik yang tidak tepat (inappropriate). Ada pandangan yang menolak pengalaman belajar yang terstruktur dengan alasan terlalu kaku dan berpusat pada guru.
  2. Guru yang menerapkan Developmentally Appropriate Practice (DAP) melakukan pengajaran secara minimal, bahkan tidak ada sama sekali. Sekali lagi kekeliruan ini di sebabkan oleh keterbatasan sudut pandang orang yang mengemukakan bahwa guru cukup melakukan pengarahan dan pengendalian.
  3. Pembelajaran yang berorientasi Developmentally Appropriate Practice (DAP) tidak memasukan aspek akademik. Interpretasi keliru ini berasal dari ketakutan orang terhadap pandangan bahwa jika anak terlalu dini memperoleh stimulasi akademik, maka mereka akan mengalami kesulitan pada tingkat pendidikan yang lebih tinggi.
  4. Praktik pembelajaran berorientasi Developmentally Appropriate Practice (DAP) dapat dicapai melalui boneka dan materi tertentu.Miskonsepsi ini merupakan bentuk omong kosong (nonsense) karena merupakan pandangan yang terlalu menyederhanakan persoalan.
  5. Pembelajaran berorientasi Developmentally Appropriate Practice (DAP) tidak memiliki tujuan yang jelas Bredekamp and Rosegrant,(  Ilfiandra,2011:5).Miskonsepsi ini berasal dari kekeliruan mengartikan istilah  tujuan pembelajaran meliputi semua dimensi perkembangan, berdasarkan pemahaman terhadap tingkat perkembangan, dan kebutuhan dan perkembangan individual anak.
  6. Kurikulum dalam praktik Developmentally Appropriate Practice (DAP) adalah perkembangan anak. Misinterpretasi ini disebabkan oleh pengabaian terhadap fakta bahwa disiplin ilmu lain dalam pembelajaran mesti bersinergi dengan ilmu perkembangan anak untuk memastikan anak dapat mewujudkan potensinya.
  7. Developmentally Appropriate Practice (DAP) merupakan salah satu kecenderungan (trend) pendidikan. Developmentally Appropriate Practice (DAP), guru tidak diminta untuk mengubah segala sesuatu yang dilakukannya, melainkan menyelaraskan tindakan pendidikan mereka dengan pengetahuan mengenai perkembangan anak.
  1. Ciri-ciri proses pembelajaran Developmentally Appropriate Practice (DAP)
Baca Juga:   Pengertian, Dasar dan Tujuan Strategi Pembelajaran

Program pembelajaran berorientasi Developmentally Appropriate Practice (DAP) menggunakan perspektif perkembangan anak,pengetahuan mengenai perkembangan anak. Bredekamp dan Rosegrant (Ilfiandra, 2011: 7) mengemukakan bahwa Developmentally Appropriate Practice (DAP) dijelaskan sebagai berikut.

  1. Developmentally Appropriate Practice (DAP) Kegiatan mengarahkan, memberi tahu dan menginstruksikan merupakan fokus dalam Developmentally Appropriate Practice (DAP). Jadi,dalam Developmentally Appropriate Practice (DAP) disesuaikan dengan perkembangan anak dengan fokus agar anak mampu melakukan konstruksi pengetahuan secara mandiri.
  2. Developmentally Appropriate Practice (DAP), belajar dipandang sebagai proses yang berkelanjutan sehingga pengukuran dan kuantifikasi tidak banyak digunakan dan rencana belajar yang disusun guru lebih bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada anak mengalami belajar.
  3. Developmentally Appropriate Practice (DAP), ranah belajar terkait antar semua dimensi perkembangan, dan aktivitas belajar dapat berlangsung melalui proyek, pusat belajar, dan bermain yang mencerminkan minat anak.
  4. Sedangkan dalam Developmentally Appropriate Practice (DAP), materi belajar bersifat konkrit dan dipilih yang betul-betul relevan dengan pengalaman keseharian anak.
  5. Sedangkan dalam Developmentally Appropriate Practice (DAP), rencana pembelajaran berdasarkan hasil observasi dan pengukuran secara reguler mengenai aktivitas anak, minat, kebutuhan, dan tingkat keterlibatan.
  6. Developmentally Appropriate Practice (DAP), guru lebih berfokus pada memberikan dorongan kepada anak untuk mencari tantangan baru dalam rangka mengembangkan perasaan mampu dan kendali diri.
  7. Developmentally Appropriate Practice (DAP), guru menyadari bahwa setiap pengalaman merupakan peluang belajar bagi anak dalam rangka menumbuhkan perasaan mampu dan bertanggung jawab pada anak.
  8. Sedangkan dalam Developmentally Appropriate Practice (DAP), guru menfasilitasi pengembangan kendali diri dan komunikasi sosial anak yang disesuaikan dengan kemampuan bahasa dan tingkat kognisi anak.
  9. Guru berbicara satu persatu dengan anak, menfasilitasi interaksi verbal dan menyajikan pengalaman belajar bahasa secara terstruktur merupakan ciri dari praktik Developmentally Appropriate Practice (DAP).
  10. Sedangkan dalam Developmentally Appropriate Practice  (DAP), aktivitas dalam dan di luar ruangan digunakan secara bervariasi dengan intensitas keterlibatan guru secara penuh.
  11. Informasi dan gagasan orang membantu guru untuk mengerti lebih baik mengenai anak dan anak sendiri juga merasa betah untuk bolak-balik antara rumah dan sekolah karena adanya komunikasi reguler guru-orang merupakan ciri dalam praktik Developmentally Appropriate Practice (DAP).
  12. Penggunaan tes dan asesmen untuk mengetahui kelayakan anak mengikuti program yang lebih tinggi merupakan cara yang dipakai.
  13. Dalam Developmentally Appropriate Practice (DAP), karena guru menyadari variasi perkembangan anak maka program belajar disesuaikan dengan kebutuhan dan tingkat perkembangan anak dan tidak memaksakan sistem yang dikembangkan oleh guru.
Baca Juga:   Pengertian dan Langkah-Langkah Strategi Pembelajaran PQ4R

Praktik dalam Developmentally Appropriate Practice (DAP), guru dan staf yang terlibat dalam program pengembangan anak dibekali dengan pengetahuan dan pelatihan yang memadai tentang tumbuh kembang anak.

  1. Dampak Implementasi Bersifat Positif dan Negatif Developmentally Appropriate Practice (DAP)

Dalam perspektif developmental, pertumbuhan dan kematangan individu berlangsung secara evolusioner setiap saat. Proses perkembangan individu dapat diprediksi sesuai dengan kematangan kapasitas inheren dan stimulus eksternal yang diperoleh. Praktik pembelajaran.

  1.  Bersifat positif
  1. Developmentally Appropriate Practice (DAP) akan memberi arah dan warna tersendiri terhadap perkembangan anak. Secara sederhana, implementasi praktik yang berorientasi Developmentally Appropriate Practice (DAP) akan mempengaruhi harga diri, kendali diri, tingkat stres dan pola kemampuan akademik.
  2. Dimensi harga diri (self-esteem), menurut Greenberg (Ilfiandra, 2011: 9) aspek harga diri anak berkembang melalui pemerolehan pengalaman belajar bermakna. Anak akan menghargai dirinya ketika mampu melakukan sesuatu yang penting bagi dirinya.
  3. Dimensi kendali diri (self-control), seiring dengan perkembangan kognitif anak maka kemampuan mengelola perilakunya juga meningkat. Ketika orang dewasa menggunakan “power-driven techniques” dalam mengembangkan disiplin, maka anak memiliki sedikit peluang untuk belajar dan menginternalisasi informasi sebagai bentuk dari kendali diri. Sebaliknya, dalam Developmentally Appropriate Practice (DAP) guru memahami bahwa anak perlu disiplin sebagai pengendali perilaku dan keinginan mereka. Melalui alternatif positif, guru berperan sebagai fasilitator dan pembimbing sehingga anak menyadari keinginan anak yang lain dan mendorong anak belajar bekerja sama. Kendali diri tidak akan berkembangan ketika anak tidak dibantu memahami dan mengalami berperilaku yang selayaknya yang dapat diterima oleh anak-anak lain. Belajar mengambil keputusan merupakan komponen penting disipilin diri. Keberadaan lingkungan dan interkasi yang mendukung kemampuan memilih merupakan hal yang krusial bagi kendali diri yang sehat pada anak.
  4. Pola kemampuan akademik, pengalaman akademik yang terlalu prematur bagi anak menjadi kontraproduktif bagi kesiapan anak untuk belajar pada level yang lebih tinggi. Pengalaman belajar yang tidak relevan dengan usia anak akan menyebabkan perasa tidak berdaya (helplessness) dan terlalu bergantung pada orang dewasa dan pada saat bersamaan mengurangi inisiatif, rasa ingin tahu dan kemampuan memecahkan masalah. Terpaaan pengalaman belajar akademik yang terlalu dini melahirkan semacam “jeopardized” terhadap kesuksesan anak di masa yang akan datang.
  1. Bersifat Negatif
  1. Ketika orang dewasa berharap anak mampu melakukan aktivitas diluar jangkauan tingkat perkembangannya akan melahirkan perasaan gagal. Penolakan yang berulang-ulang terhadap ketidakmampuan anak akan melukai harga diri anak.
  2. Begitu juga ketika anak tidak memperoleh ruang yang memadai untuk memilih pengalaman yang dianggap penting bagi dirinya juga akan mencederai harga diri anak.
  3. Dimensi stres, ada pandangan bahwa anak sekarang lebih rentan diterpa stres. Resiko stres terjadi ketika anak dihadapkan pada permintaan yang eksesif, misalnya anak diminta belajar dengan metode yang berbeda dengan gaya belajarnya maka anak secara alami berada dalam situasi konflik karena dipaksa untuk menekan dan mengendalikan perilakunya.

Praktik pembelajaran yang berorientasi pada perkembangan menurut Gestwicki (zein ,2015: 2)  mempertimbangkan beberapa hal berikut.

  1. Memandang anak secara utuh.
  2. Program belajar secara individual dan keterlibatan anak untuk bereksplorasi.
  3. Aktivitas belajar menciptakan anak yang aktif dan kreatif.
  4. Kegiatan bermain merupakan sarana belajar.
  5. Fleksibel.
  6. kurikulum terpadu.
  7. Berorientasi pada minat, bakat dan kemampuan anak.
  8. Melakukan penilaian.
  9. Kerjasama antara sekolah dengan orang tua.

Putra, Sudiana dan Martha (2015: 10) ada beberapa langkah pembelajaran yang efektif. Langkah-langkah tersebut sebagai berikut.

  1. guru melakukan pemeriksaan terhadap kesiapan belajar siswa (absensi, fisik dan mental siswa,  memfokuskan perhatian siswa dan menciptakan suasana belajar yang nyaman.
  2. guru mengajukan pertanyaan untuk mengetahui pengetahuan awal siswa tentang membaca ekstensif.
  3. guru menyampaikan materi membaca ekstensif dan menjelaskan strategi pembelajaran yang ditetapkan, yaitu strategi pembelajaran Developmentally Appropriate Practice (DAP).
  4. guru menjelaskan dan melatih siswa menentukan unsur-unsur intrinsik pada cerpen, menemukan tema, menunjukkan latar (tempat), mengidentifikasi alur, menyebutkan tokoh, dan menemukan amanat pada cerpen, menerapkan strategi pembelajaran Developmentally Appropriate Practice (DAP) sesuai dengan langkah-langkah pembelajarannya.
  5. guru menjelaskan contoh-contoh yang relevan untuk memperjelas materi yang diajarkan dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya.
  6. guru membagikan cerpen kepada masing-masing siswa dan menugasi untuk membaca dengan seksama.
  7. siswa melakukan kegiatan membaca dalam hati dengan pembatasan waktu.
  8. siswa mencatat unsur-unsur intrinsik dalam cerpen sebagai bahan diskusi berdasarkan hasil memahami terhadap isi cerpen yang dibaca.
  9. guru mengomentari hasil pekerjaan siswa dan memberikan penekanan jika ada hal yang masih dirasa perlu diluruskan.
  10. guru memberikan tindak lanjut terhadap pembelajaran berupa evaluasi.
  11. guru bersama siswa mengadakan refleksi .
Baca Juga:   Pengertian dan Langkah-langkah Metode Synergetic Teaching

Putra,Sudiana dan Martha (2015: 11) Kegiatan pembelajaran Developmentally Appropriate Practice (DAP) dilakukan sesuai langkah-langkah pembelajaran berdasarkan strategi pembelajaran Developmentally Appropriate Practice (DAP) sebagai berikut:

  1. menciptakan lingkungan belajar yang dapat membuat anak asik dalam pengalaman belajar yaitu dengan melibatkan aspek fisiologi anak.
  2. menciptakan minat anak dan kontekstual, sehingga anak menangkap makna atau dari apa yang dipelajarinya.
  3. menciptakan suasana belajar yang bebas tekanan dan ancaman, tetapi tetap menantang bagi anak untuk mencari tahu lebih banyak.
  4. menciptakan pengalaman kongkrit, terutama dalam pemecahan masalah, karena proses belajar paling efektif bukan dengan ceramah, tetapi dengan memberikan pengalaman nyata.
  1. Kelebihan dan Kekurangan Pendekatan Pembelajaran Developmentally Appropriate Practice (DAP)

Kelebihan dan Kekurangan pendekatan Pembelajaran Developmentally Appropriate Practice adalah sebagai berikut.

  1. Kelebihan
  1. Pendekatan Developmental Appropriate Practice (DAP) memposisikan anak sebagai pemegang peranan utama dalam proses pembelajaran, dimana kegiatan yang akan dan sedang dilakukan mewadahi gagasan anak.
  2. Memberikan banyak kesempatan untuk anak aktif bergerak dan bertanya, menjelajah serta mencoba.
  3. Media pembelajaran disesuaikan dengan karakter perkembangan anak usia pra sekolah yang masih berada pada tahap Pra-Operational, dimana anak membutuhkan benda konkrit dan lingkungan nyata yang akan melibatkan kesemua indera yang dimiliki anak secara aktif.
  4. Mampu menciptakan suasana belajar yang aktif dan menyenangkan degan pendekatan cara belajar bermain dalam lingkungan.
  5. pendekatan ini diupayakan agar anak dapat memotivasi dan mengarahkan diri secara intrinsik, pembelajaran yang efektif yang mampu membangkitkan keingintahuan mereka melalui kegiatan eksplorasi, eksperimen dan dalam pengalaman nyata.
  1. Kelemahan
  1. proses pembelajara harus sesuai dengan tahap perkembangan anak.
  2. Harus sesuai denga kemampuan kognitif siswa.
  3. Tidak semua materi pembelajaran cocok diterapkan.

 Menurut Aunurrahman (2012: 196)“ Dalam pelaksanan tugas pembelajaran, guru tidak hanya berkewajiban menyajikan materi pembelajaran dan mengevaluasi pekerjaan siswa, akan tetapi juga bertanggung jawab terhadap pelaksanan bimbingan belajar”Kualitas dan hasil pembelajaran yang baik dan bermutu merupakan suatu akibat dari sistem pembelajaran dengan pengelolaan metode ataupun strategi pembelajaran yang menarik sehingga tercipta lah proses pembelajaran yang asik dan menarik dan menciptakan suasana proses pembelajaran yang kondusif dengan menerapkan proses pembelajaran  dengan  pendekatan Developmentally Appropriate Practice (DAP).

Berdasarkan penjelasan tentang model pembelajaran Developmentally Appropriate Practice (DAP)  maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran Developmentally Appropriate Practice (DAP)  sangatlah penting dalam proses pembelajaran, karena guru hanya sebagai fasilitator dan tidak lagi sebagai tokoh paling utama dalam pembelajaran dalam kelas dan siswa tidak hanya sebagai penerima yang tidak aktif dalam pembelajaran, tetapi para siswa bertanggung jawab untuk atas pembelajaran mereka sendiri.

Dalam kelompok kecil setiap anggota kelompok bertanggung jawab untuk keberhasilan pembelajarannya dan anggota kelompoknya, ketika pembelajaran pembelajaran membutuhkan identifikasi suatu masalah, tiap-tiap anggota akan berbagi tugas dan masing-masing akan menjadi sumber dari tugas tersebut dan bersama-sama menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru.

Demikian ulasan singkat tentang Pengertian dan Ciri-Ciri Pendekatan Developmentally Appropriate Practice (DAP) semoga dapat dijadikan referensi bagi anda, dan jika ulasan ini dirasa bermanfaat bagi anda, silahkan bagikan ulasan ini. Terima kasih telah berkunjung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.