Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Model PembelajaranPembelajaranPenelitianPerkuliahan

Pengertian Model Pembelajaran IMPROVE (Introducing new concept, Metakognitive questioning, Practicing, Reviewing and reducing difficulty, Obtaining mastery, Verivication, Enrichment)

0
×

Pengertian Model Pembelajaran IMPROVE (Introducing new concept, Metakognitive questioning, Practicing, Reviewing and reducing difficulty, Obtaining mastery, Verivication, Enrichment)

Sebarkan artikel ini

Pengertian Model Pembelajaran IMPROVE (Introducing new concept, Metakognitive questioning, Practicing, Reviewing and reducing difficulty, Obtaining mastery, Verivication, Enrichment) – Model pembelajaran IMPROVE merupakan salah satu model pembelajaran yang didasarkan pada teori kognisi dan metakognisi sosial. Model ini merupakan model yang didesain pertama kali oleh Mevarech dan Kramarsky (1997) untuk kelas yang heterogen. Model ini memiliki 3 komponen yang interdependen yaitu aktivitas metakognitif, interaksi dengan teman sebaya, dan kegiatan yang sistematik dari umpan balik-perbaikan- pengayaan.22

Model pembelajaran IMPROVE merupakan singkatan dari Introducing the new concept, Metacognitive questioning, Practicing, Reviewing and reducing difficulties, Obtaining mastery, Verification, and Enrichment.23 Model   pembelajaran   IMPROVE   berdasarkan    pada questioning self melalui penggunaan pertanyaan metakognitif yang berfokus pada:

Scroll untuk melihat konten
  1. Pemahaman masalah
  2. Mengembangkan hubungan antara pengetahuan yang lalu dan sekarang
  3. Menggunakan strategi penyelesaian permasalahan yang tepat
  4. Merefleksikan proses dalam solusi.

Model pembelajaran IMPROVE menekankan pula pada sistem pembelajaran aktif. Dalam pembelajaran dengan menggunakan model IMPROVE, akan diberikan pertanyaan-pertanyaan metakognitif yang mampu memberi kesempatan kepada siswa untuk memperoleh pengetahuan dengan jalan mengkonstruksinya sendiri. Selain itu, dalam pembelajaran dengan menggunakan model IMPROVE, siswa dapat leluasa berinteraksi dengan sesama temannya. Interaksi itu dapat memotivasi mereka untuk berbagi pendapat dan memperkaya pengetahuannya.24

Langkah-langkah penerapan model pembelajaran IMPROVE adalah sebagai berikut :

  1. Introducing the new concept. Guru memberikan konsep baru melalui pertanyaan-pertanyaan yang membangun pengetahuan siswa.
  2. Meta-cognitive questioning. Guru memberikan pertanyaan-pertanyaan metakognitif kepada siswa terkait materi.
  3. Practicing. Siswa berlatih memecahkan permasalahan yang diberikan oleh guru.
  4. Reviewing and reducing difficulties. Guru memberikan review terhadap kesalahan-kesalahan yang dihadapi oleh siswa pada saat latihan.
  5. Obtaining mastery. Melakukan tes pada pertemuan berikutnya untuk mengetahui penguasaan materi siswa.
  6. Verification. Melakukan verifikasi untuk mengetahui siswa mana yang mencapai batas kelulusan dan siswa mana yang belum mencapai batas kelulusan.
  7. Enrichment. Pengayaan terhadap siswa yang belum mencapai batas kelulusan.25

Kelebihan:

  1. Peserta didik lebih aktif karena terdapat latihan-latihan sehingga leluasa untuk mengeksploitasi ide-idenya.
  2. Suasana pembelajaran tidak membosankan karena banyak tahapan yang dilakukan peserta didik.
  3. Adanya penjelasan di awal dan latihan-latihan membuat peserta didik lebih memahami materi.26
  4. Mendorong pemikiran dan pemahaman siswa.
  5. Meninjau kembali isi pelajaran yang penting
  6. Untuk mengontrol dan menilai kemajuan siswa.27 Kekurangan:
  7. Guru harus mempunyai strategi khusus agar semua peserta didik dapat mengikuti langkah-langkah yang ada dalam model pembelajaran ini.
  8. Kemampuan peserta didik tidak sama dalam menyelesaikan permasalahan ataupun menjawab pertanyaan yang diberikan sehingga diperlukan bantuan dan bimbingan khusus oleh guru. Ini berarti waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan materi cukup lama.
  9. Tidak semua peserta didik mempunyai kemampuan dalam mencatat informasi yang didengarkan secara lisan.28
  10. Tidak mudah membuat pertanyaan yang sesuai dengan tingkat berpikir dan mudah dipahami siswa.
  11. Siswa merasa takut, apalagi bila guru kurang dapat mendorong siswa untuk berani belajar dan menjawab pertanyaan.29

Adapun teori yang mendukung model pembelajaran IMPROVE adalah sebagai berikut:

Teori Metakognisi

Metakognisi merupakan unsur utama dalam penerapan model pembelajaran IMPROVE. Hal ini dikarenakan metakognisi bagian terpenting dari urutan model pembelajaran IMPROVE dan yang membedakannya dengan model lain yang sejenis.

Kesuksesan seseorang dalam meyelesaikan masalah antara lain bergantung pada kesadaran tentang apa yang mereka ketahui dan bagaimana dia melakukannya. Metakognisi merupakan teori yang berkaitan dengan pengenalan terhadap diri sendiri dan bagaimana dia mengontrol serta menyesuaikan perilakunya. Anak perlu menyadari akan kelebihan dan kekurangan yang dimilikinya. Menurut Tim MKPBM, metakognisi adalah suatu bentuk kemampuan untuk melihat pada diri sendiri sehingga apa yang dia lakukan dapat terkontrol secara optimal. Dengan kemampuan seperti ini seseorang dimungkinkan memiliki kemampuan tinggi dalam pemecahan masalah, karena dalam setiap langkah yang dia kerjakan senantiasa muncul pertanyaan: “ Apa yang saya kerjakan?”, “Mengapa saya mengerjakan ini?”, “Hal apa yang bisa membantu dalam menyelesaikan masalah ini?”.30

Menurut Noornia, secara sederhana metakognisi sering diartikan “thinking about thinking”. Secara bebas dapat diartikan berpikir terkait proses berpikir atau adanya kesadaran dalam diri pribadi untuk menghayati apa yang ada dalam benaknya ketika sedang berpikir.

Menurut Ridley, sebagaimana dikutip oleh Noornia metakognitif diartikan sebagai berikut.

Metacognitive skills include taking conscious control of learning, planning and selecting strategies, monitoring the progress of learning, correcting errors, analyzing the effectiveness of learning strategies, and changing learning behaviors and strategies when necessary.

Kemampuan metakognitif adalah kemampuan seseorang mengontrol proses belajarnya, mulai dari tahap perencanaan, memilih strategi yang tepat sesuai dengan masalah yang dihadapi, memonitor kemajuan proses belajarnya, mengoreksi kesalahan selama proses belajarnya, menganalisis keefektifan strategi belajar yang telah dipilih, dan mengubah kebiasaan belajar serta strategi belajar jika dibutuhkan.31

Menurut Noornia metakognisi adalah sesuatu yang berkenaan dengan refleksi diri, tanggung jawab pribadi, dan kesadaran diri. Siswa yang diberi kesempatan dan latihan untuk mengembangkan kemampuan metakognitif akan menjadi penyelesai soal yang baik.32

Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa metakognisi merupakan aktivitas abstrak yang tidak terlihat secara fisik karena merupakan proses berpikir atau lebih tepatnya adalah proses refleksi diri seseorang dalam memecahkan suatu masalah, mulai dari perencanaan, pemilihan strategi, analisis keefektifan strategi sampai pada tahap perubahan strategi penyelesaian masalah jika diperlukan. Keterampilan metakognisi ini sangat dibutuhkan oleh setiap siswa dalam menunjang proses belajarnya. Oleh karena itu, peran serta guru sangatlah penting dalam rangka menumbuhkembangkan kemampuan metakognitif siswa.

Teori Konstruktivisme

Menurut Slavin, sebagaimana dikutip oleh Trianto menjelaskan bahwa teori pembelajaran konstruktivisme merupakan teori pembelajaran kognitif yang baru dalam psikologi pendidikan yang menyatakan bahwa siswa harus menemukan sendiri dan mentransformasikan informasi kompeks, mengecek informasi baru dengan aturan-aturan lama dan merevisinya apabila aturan-aturan itu tidak sesuai lagi. Bagi siswa agar benar-benar memahami dan dapat menerapkan pengetahuan, mereka harus bekerja memecahkan masalah, menemukan sesuatu untuk dirinya, berusaha dengan susah payah dengan ide-ide.33

Menurut teori konstruktivis ini, satu prinsip paling penting dalam psikologi pendidikan adalah bahwa guru tidak dapat hanya sekedar memberikan pengetahuan kepada siswa. Siswa harus membangun sendiri pengetahuan di benaknya. Guru dapat memberikan kemudahan untuk proses ini dengan memberikan siswa kesempatan untuk menemukan dan menerapkan ide-ide mereka sendiri, dan membelajarkan siswa dengan secara sadar menggunakan strategi mereka sendiri untuk belajar. Guru dapat memberi siswa anak tangga yang membawa siswa ke pemahaman yang lebih tinggi, dengan catatan siswa sendiri yang harus memanjatnya.34

Berdasarkan uraian di atas terkait konstruktivisme maka dapat disimpulkan bahwa konstruktivisme merupakan teori belajar yang mendorong siswa untuk aktif dalam rangka menemukan sendiri pengetahuan atau suatu konsep, sedangkan guru berfungsi sebagai fasilitator dalam rangka membimbing siswa menemukan konsep tersebut. Kaitannya dengan model IMPROVE, model ini dilandasi oleh teori konstruktivisme salah satunya karena pada salah satu tahapan pembelajaran khususnya pada tahap mengenalkan suatu konsep baru, guru tidak langsung memberikan suatu konsep baru secara langsung, tetapi mengarahkan siswa untuk aktif secara individu atau kelompok untuk menemukan konsep secara mandiri.

Daftar Pustaka

21Dini Rosdiani, Model Pembelajaran Langsung dalam Pendidikan Jasmani dan Kesehatan, Bandung: Alfabeta, 2012, hlm. 19-20.

22Miftahul Huda, Model-model Pengajaran dan Pembelajaran: Isu-isu Metodis dan Paradigmatis, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2014, hlm. 254.

23Aris Shoimin, Op.Cit, hlm. 83.

24Agustin Patmaningrum, Penggunaan Metode Improve untuk Meningkatkan Hasil Belajar Mahasiswa pada Mata Kuliah Kalkulus II, 2013, [online], tersedia di http://dharmapendidikan.blogspot.com/2013/05/penggunaan-metode-improve-untuk.html, diakses pada tanggal 20 Maret 2015, hlm. 3.

25Aris Shoimin ,Op.Cit, hlm. 84.

30Jesyich Anjras Purnamadewi, Keefektifan Pembelajaran Metode Improve dengan pendekatan PMRI terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Siswa Kelas VII Materi Segiempat, 2013 [online], tersedia di http://lib.unnes.ac.id/17443/1/4101409012.pdf, diakses pada tanggal 25 Maret 2015, hlm. 23-24.

31Anton Noornia, Pengaruh Penguasaan Kemampuan Metakognitif terhadap Penyelesaian Soal Problem Solving, [online], tersedia di http://karyailmiah-batang. blogspot.com/2009/11/pengaruh-penguasaan-kemampuan.html, 2009, di akses pada tanggal 25 Maret 2015, hlm. 2.

Sekian dulu pembahasan kali ini tentang Pengertian Model Pembelajaran IMPROVE (Introducing new concept, Metakognitive questioning, Practicing, Reviewing and reducing difficulty, Obtaining mastery, Verivication, Enrichment) semoga postingan ini bermanfaat dan dapat dijadikan referensi bagi anda. Jika postingan ini dirasa bermanfaat bagi anda, silahkan share/bagikan postingan ini di media sosial anda. Terima kasih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.