Model Pembelajaran VAK (Visualization Auditory Kinestetic)

Diposting pada

Model Pembelajaran VAK (Visualization Auditory Kinestetic) – Desain model pembelajaran VAK (Visual Auditory Kinestetic) mengacu pada pengoptimalan modalitas belajar yang bertujuan menjadikan pembelajar merasa nyaman, tujuan pembelajaran, materi, prinsip, latar dan prosedur pembelajaran.

Prinsip pembelajaran dengan model VAK (Visual Auditory Kinestetic)

Pembelajaran dengan model VAK (Visual Auditory Kinestetic) menganggap bahwa pembelajaran akan efektif dengan memperhatikan gaya belajar dan memanfaatkan potensi yang telah siswa miliki dengan melatih dan mengembangkannya. Kebanyakan orang lebih suka dan cenderung menggunakan satu gaya belajar tertentu dibandingkan menggunakan gaya belajar secara berasama-sama. Menurut DePorter dkk. (1999: 112) bahwa pada pembelajaran VAK, pembelajaran difokuskan pada pemberian pengalaman belajar secara langsung (direct experience) dan menyenangkan.

Pengalaman belajar secara langsung dengan cara belajar dengan mengingat (Visual), belajar dengan mendengar (Auditory), dan belajar dengan gerak dan emosi (Kinestethic). Lebih lanjut DePorter mengungkapkan Visual, audio, dan kinestetik merupakan tiga modalitas yang dimiliki oleh setiap manusia. Ketiga modalitas tersebut kemudian dikenal sebagai gaya belajar. Gaya belajar merupakan kombinasi dari bagaimana seseorang dapat menyerap dan kemudian mengatur serta mengolah informasi.

Menurut Rose Colin dan Nicholl (2002:130), sebuah penelitian ekstensi, khususnya di Amerika Serikat, yang dilakukan oleh Profesor Ken dan Rita Dunn dari Universitas St. John, di Jamaica, New York, dan para pakar pemrograman Neuro- Linguistik seperti, Richard Bandler, John Grinder, dan Michael Grinder, telah mengidentifikasi tiga gaya belajar dan komunikasi yang kemudian menjadi acuan dasar dalam pembelajaran dengan model VAK sebagai berikut.

Gaya visual (Belajar dengan Cara Melihat)

Belajar harus menggunakan indra mata melalui mengamati, menggambar, mendemonstrasikan, membaca, menggunakan media dan alat peraga. Seorang siswa lebih suka melihat gambar atau diagram, suka pertunjukan, peragaan atau menyaksikan video. Bagi siswa yang bergaya belajar visual, yang memegang peranan penting adalah mata atau penglihatan (visual). Dalam hal ini metode pengajaran yang digunakan guru sebaiknya lebih banyak dititik beratkan pada peragaan/media, ajak siswa ke objek-objek yang berkaitan dengan pelajaran tersebut, atau dengan cara menunjukkan alat peraganya langsung pada siswa atau menggambarkannya di papan tulis.

Ciri-ciri siswa yang lebih dominan memiliki gaya belajar visual misalnya lirikan mata ke atas bila berbicara dan berbicara dengan cepat. Anak yang mempunyai gaya belajar visual harus melihat bahasa tubuh dan ekspresi muka gurunya untuk mengerti materi pelajaran. Siswa cenderung untuk duduk di depan agar dapat melihat dengan jelas. Siswa berpikir menggunakan gambar-gambar di otak dan belajar lebih cepat dengan menggunakan tampilan-tampilan visual, seperti diagram, buku pelajaran bergambar, dan video. Di dalam kelas anak visual lebih suka mencatat sampai detil-detilnya untuk mendapatkan informasi.

Baca Juga:   Pengertian Populasi, Sampel, Jenis Sampling, dan Teknik Sampling
Gaya Auditori (Belajar dengan Cara Mendengar)

Belajar haruslah mendengarkan, menyimak, berbicara, presentasi, mengemukakan pendapat, gagasan, menanggapi dan beragumentasi. Seorang siswa lebih suka mendengarkan kaset audio, ceramah-kuliah, diskusi, debat dan instruksi (perintah) verbal. Alat rekam sangat membantu pembelajaran pelajar tipe auditori. Dr. Wenger (Rose Colin dan Nicholl, 2002:143) merekomendasikan setelah membaca sesuatu yang baru, deskripsikan dan ucapkan apa yang sudah dibaca tadi sambil menutup mata dengan suara lantang. Alasannya setelah dibaca, divisualisasikan (ketika mengingat dengan mata
tertutup) dan dideskripsikan dengan lantang, maka secara otomatis telah belajar dan menyimpannya dalam multi-sensori.

Ciri-ciri siswa yang lebih dominan memiliki gaya belajar auditori misalnya lirikan mata ke arah kiri/kanan, mendatar bila berbicara dan sedang-sedang saja. Untuk itu, guru sebaiknya harus memperhatikan siswanya hingga ke alat pendengarannya. Anak yang mempunyai gaya belajar auditori dapat belajar cepat dengan menggunakan diskusi verbal dan mendengarkan apa yang guru katakan. Anak auditori mencerna makna yang disampaikan melalui tone, suara, pitch (tinggi rendahnya), kecepatan berbicara dan hal-hal auditori lainnya. Informasi tertulis terkadang mempunyai makna yang minim bagi anak auditori. Anak-anak seperti ini biasanya dapat menghafal lebih cepat dengan membaca  teks dengan keras dan mendengarkan kaset.

Gaya Kinestetik (Belajar dengan Cara Bergerak, Bekerja dan Menyentuh)

Belajar melalui aktivitas fisik dan keterlibatan langsung. Seorang siswa lebih suka menangani, bergerak, menyentuh dan merasakan/mengalami sendiri, gerakan tubuh (hands-on, aktivitas fisik). Bagi siswa kinestetik belajar itu haruslah mengalami dan melakukan. Ciri-ciri siswa yang lebih dominan memiliki gaya belajar kinestetik misalnya lirikan mata ke bawah bila berbicara dan berbicara lebih lambat. Anak seperti ini sulit untuk duduk diam berjam-jam karena keinginan mereka untuk beraktifitas dan eksplorasi sangatlah kuat. Siswa yang bergaya belajar ini belajarnya melalui gerak dan sentuhan.

Baca Juga:   Jenis-jenis Pola Asuh

Pada dasarnya setiap siswa mempunyai kecenderungan pada gaya belajar mana yang lebih ia sukai daripada gaya-gaya belajar yang lain. Keberagaman gaya belajar akan mempengaruhi daya tangkap, pemahaman dan kebiasaan belajar siswa. Berdasarkan keragaman gaya (tipe) belajar tersebut, maka visual, audio, dan kinestetik dijadikan sebuah model pembelajaran menulis. Model pembelajaran VAK (Visualization Audiotory Kinestetic), yaitu model pembelajaran yang melibatkan gerak tubuh dan alat indra. Menekankan bahwa dalam kegiatan belajar harus memanfaatkan alat indra dan memperhatikan keefektifannya.

Latar

Kegiatan pembelajaran dilakukan pada latar yang dikondisikan sesuai dengan karakteristik model pembelajaran VAK (Visualization Audiotory Kinestetic) untuk menciptakan pembelajaran yang nyaman dan efektif. Latar yang dipersiapkan adalah sebagai berikut.

  1. Guru dan siswa diberikan arahkan bagaimana langkah-langkah pembelajaran VAK (Visualization Audiotory Kinestetic) sebagai dasar awal kegiatan belajar mengajar.
  2. Alat dan bahan dipersiapkan untuk mendukung berjalannya model pembelajaran. Sebagai salah satu komponen model pembelajaran, alat/media memiliki peranan penting dalam menunjang keberlangsungan pembelajaran. Dalam model ini, media yang diusung berupa seperangkat komputer/laptop lengkap dengan infokus. Sesuai dengan tujuan penggunaan media, perangkat ini akan lebih memudahkan siswa melakukan proses pembelajaran. Selain itu, penggunaan media juga akan menimbulkan motivasi tersendiri pada diri siswa meskipun dalam tingkatan yang berbeda-beda.
  3. Selain media, faktor yang lebih penting adalah objek pengamatan yang telah dipilih dan dipersiapkan dengan mempertimbangkan segala aspek, mulai dari kesesuaian topik dengan tingkat perkembangan siswa, hingga pada pemilihan objek yang diamati. Benda, orang, dan keindahan alam sebagai bahan pembelajaran ini kemudian dikemas dalam bentuk film atau video agar dapat ditampilkan melalui media yang telah dipersiapkan.

Pemilihan media/alat dan bahan memang haruslah disesuaikan dengan kondisi dan fasilitas yang ada. Mengingat penetapan standar pendidikan nasional mengenai sarana dan prasarana, perangkat sebgai media yang telah disebutkan di atas menjadi standar yang harus dimiliki setiap satuan pendidikan. Seandainya media tersebut belum tersedia, model ini tetap dapat dilaksanakan dengan beberapa alternatif, salah satunya adalah dengan mengoptimalkan peranan guru sebagai fasilitator.

Baca Juga:   Pengertian dan Langkah-langkah Model Pembelajaran Discovery
Prosedur Pembelajaran

Model pembelajaran VAK (Visualization Audiotory Kinestetic) ini digunakan untuk tiga kali pertemuan tatap muka atau sama dengan 6 X 90 menit pembelajaran. Waktu ini disesuaikan dengan alokasi yang telah ditetapkan dalam silabus sesuai dengan waktu efektif pembelajaran untuk kompetensi yang dibidik.

Pelaksanaan pembelajaran menulis deskriptif dengan model VAK (Visualization Audiotory Kinestetic) ini dilakukan melalui langkah-langkah berikut.

  1. Peneliti memberikan arahan kepada guru model mengenai pelaksanaan pembelajaran dengan model pembelajaran VAK (Visualization Audiotory Kinestetic) yang akan diujicobakan.
  2. Guru model melakukan pembelajaran dengan model pembelajaran VAK (Visualization Audiotory Kinestetic) sesuai arahan yang telah dijelaskan peneliti.
  3. Langkah pembelajaran diawali dengan pengeksplorasian pengetahuan awal siswa mengenai pengalaman menulis deskriptif, kemudian memberikan contoh tulisan deskriptif. Pada langkah ini, guru sebagai motivator membangun motivasi siswa.
  4. Pembelajaran dilanjutkan dengan penayangan objek yang dipilih (film). Penayangan film juga menjadi salah satu langkah dalam membangun motivasi siswa sekaligus memberikan pengindraan mengenai materi pembelajaran yang akan dilakukan.
  5. Siswa menentukan ide topik-topik yang dapat dikembangkan menjadi paragraf deskriptif berdasarkan hasil pengamatan, menyusun kerangka, dan mengembangkan kerangka yang telah disusun paragraf deskriptif.
  6. Siswa menulis deskriptif. guru sebagai mediator siswa memaksimalkan perannya dalam tahap ini. Hal ini ditujukan untuk membantu siswa menyimpan pengalaman belajarnya dalam memori jangka panjang.
  7. Pada akhir pembelajaran, pembelajaran ditutup dengan menyimpulkan dan merespon kegiatan yang telah dialami. Tahap ini merupakan salah satu bentuk konfirmasi dalam pembelajaran.
Evaluasi
  1. Prosedur evaluasi/penilaian dilakukan selama dan setelah kegiatan berlangsung.
  2. Jenis evaluasi: evaluasi tertulis (karangan deskriptif) menjadi salah satu jenis evaluasi utama. Melalui evaluasi ini keberhasilan pembelajaran dapat diukur.
  3. Sasaran evaluasi: proses dan hasil
  4. Aspek hasil yang dievaluasi meliputi isi karangan, organisasi ide karangan, pilihan kata, kalimat, ejaan, dan tulisan.
  5. Penilaian proses dilakuakn oleh observer dan guru. Sementara penilaian hasil dilakukan oleh satu orang penilai dengan menggunakan format pedoman penilaian yang telah divalidasi.

Sekian dulu postingan singkat tentang Model Pembelajaran VAK (Visualization Auditory Kinestetic) semoga dapat menjadi inspirasi dan referensi bagi anda, jika postingan ini dirasa menarik bagi anda silahkan share/bagikan postingan ini. Terima kasih telah berkunjung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.