Unsur-Unsur Dalam Novel

Diposting pada

Unsur-Unsur Dalam Novel – Unsur intrinsik adalah unsur-unsur yang membangun karya itu sendiri (Nurgiyantoro, 2013: 30). Unsur-unsur inilah yang menyebabkan suatu teks hadir sebagai teks sastra, unsur-unsur yang secara faktual akan dijumpai jika orang membaca karya sastra. Unsur intrinsik sebuah novel adalah unsur-unsur yang (secara lansung) turut serta membangun cerita. Adapun yang terdapat pada unsur intrinsik adalah sebagai berikut:

  1. Tema

Tema merupakan gagasan dasar umum yang menopang sebuah karya sastra dan yang menyangkut persamaan-persamaan atau perbedaan-perbedaan (Hartoko dan Rahmanto dalam Nurgiyantoro, 2013 : 115). Tema menjadi dasar pengembangan keseluruhan cerita, maka ia pun bersifat menjiwai seluruh bagian cerita itu. Tema dapat kita temui setelah mengetahui jalan cerita yang disampaikan dalam sebuah karya sastra. Tema disaring dari motif-motif yang terdapat dalam karya bersangkutan yang menentukan hadirnya peristiwa-peristiwa, konflik, dan situasi tertentu. Menemukan tema sebuah karya sastra juga harus disimpulkan dari keseluruhan cerita, tidak hanya berdasarkan bagian-bagian tertentu cerita.

  1. Alur (Plot)

Plot merupakan unsur terpenting, bahkan tidak sedikit orang yang menganggapnya sebagai yang terpenting diantara berbagai unsur fiksi yang lain. Plot adalah cerita yang berisi urutan kejadian, namun tiap kejadian itu hanya dihubungkan secara sebab akibat, peristiwa yang satu disebabkan atau menyebabkan terjadinya peristiwa yang lain (Stanton dalam Nurgiyantoro, 2013: 167). Agar menjadi sebuah plot, peristiwa-peristiwa itu harus diolah dan disiasati secara kreatif sehingga hasil pengolahan dan penyiasatannya itu sendiri merupakan sesuatu yang indah dan menarik.

Plot merupakam cerminan atau bahkan berupa perjalanan tingkah laku para tokoh dalam bertindak, berpikir, berasa, dan bersikap dalam menghadapi berbagai masalah kehidupan. Namun tidak semua tingkah laku menjadi patokan jalan cerita. Ada beberapa faktor pendukung juga yang menjadi dasar plot atau alur cerita. Plot juga kita temukan dengan membaca keseluruhan dari sebuah karya tersebut, tidak hanya pada bagian-bagian tertentu.

  1. Tokoh

Sama halnya dengan plot dan pemplotan, tokoh dan penokohan merupakan unsur terpenting dalam cerita fiksi. Tokoh dan penokohan memiliki makna yang berbeda. Istilah tokoh menunjuk kepada orangnya atau pelaku cerita (Nurgiyantoro, 2013 : 247). Hal ini berupa siapa tokoh dalam cerita, berapa orang tokoh dalam cerita, nama tokoh dalam cerita dan sebagainya. Istilah penokohan adalah pelukisan gambaran yang jelas tentang seseorang yang ditampilkan dalam sebuah cerita (Jones dalam Nurgiyantoro, 2013 : 247). Penokohan tergambar jelas dari tingkah laku dan kebiasaan tokoh dalam cerita. Mencerminkan seperti apa sikap tokoh tersebut dan apa yang menjadi sifat tokoh tersebut. Tokoh cerita menempati posisi strategis sebagai pembawa dan penyampaian pesan, amanat, moral, atau sesuatu yang sengaja ingin disampaikan kepada pembaca.

Baca Juga:   Upaya Guru Dalam Mengatasi Penghambat Motivasi Belajar Siswa

Tokoh-tokoh cerita dalam sebuah cerita fiksi dapat dibedakan kedalam beberapa jenis penamaan berdasarkan sudut pandang mana penamaan itu dilakukan. Menurut Nurgiyantoro (2013:258) “berdasarkan perbedaan tersebut, terdapat beberapa kategori tokoh seperti tokoh utama dan tambahan, tokoh protagonis dan tokoh antagonis, tokoh sederhana dan tokoh bulat, tokoh statis dan tokoh berkembang, serta tokoh tipikal dan tokoh netral”. Setiap tokoh memiliki lawan yang berbeda karakternya. Guna untuk menjalankan alur cerita menjadi semakin menarik.

Masalah penokohan dalam karya tidak semata-mata hanya berhubungan dengan masalah pemilihan jenis dan perwatakan para tokoh cerita saja, tetapi juga bagaimana melukiskan kehadiran dan penghadirannya secara tepat sehingga mampu menciptakan dan mendukung tujuan artistik cerita fiksi yang bersangkutan.

  1. Latar

Dalam sebuah karya fiksi juga membutuhkan latar untuk memperjelas waktu, tempat dan suasana dalam cerita. Latar atau setting yang disebut juga sebagai landasan tumpu, menunjuk pada pengertian tempat, hubungan waktu sejarah, dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan (Abrams dalam Nurgiyantoro 2013:302).

Latar memberikan pijakan cerita secara konkret dan jelas. Hal ini memberikan kesan realistis kepada pembaca, menciptakan suasana tertentu yang seolah-olah sungguh ada dan terjadi. Sehingga pembaca merasa terbawa dalam situasi cerita yang disampaikan dan menemukan sesuatu dalam cerita itu yang sebenarnya menjadi bagian dirinya. Pembaca dapat merasakan dan menilai kebenaran, ketetapan, dan aktualisasi latar yang diceritakan sehingga merasa lebih akrab. Hal ini akan terjadi jika latar mampu mengangkat suasana setempat, warna lokal, lengkap dengan karakteristiknya yang khas ke dalam cerita.

Baca Juga:   Perbedaan dan Persamaan Kurikulum 2013 dan Kurikulum Humanistik
  1. Sudut Pandang

Sudut pandang pada hakikatnya merupakan strategi, teknik, siasat, yang secara sengaja dipilih pengarang untuk mengemukakan gagasan  cerita (Nurgiyantoro 2013:338). Ia merupakam cara dan atau pandangan yang dipergunakan pengarang sebagai sarana untuk menyajikan cerita dalam sebuah karya fiksi kepada pembaca (Abrams dalam Nurgiyantoro 2013:338).

Sudut pandang dianggap sebagai salah satu unsur fiksi yang penting dan menentukan. Karena sebelum pengarang menulis cerita, harus menentukan sudut pandang tertentu. Hal itu disebabkan sebuah karya yang menawarkan nilai-nilai, sikap, dan pandangan hidup oleh pengarang sengaja disiasati, dikontrol, dan disajikan dengan sarana sudut pandang,  dengan sarana itu ia dapat mencurahkan berbagai sikap dan pandangannya melalui tokoh cerita. Sudut pandang terdapat banyak macamnya tergantung dari sudut mana ia dipandang dan seberapa rinci ia dibedakan. Pembedaan sudut pandang yang akan dikemukakan berikut berdasarkan pembedaan yang telah umum dilakukan orang, yaitu bentuk persona tokoh cerita: persona ketiga,persona pertama, dan ditambah persona kedua (Nurgiyantoro 2013:347).

  1. Gaya Bahasa

Bahasa merupakan sarana pengungkapan sastra. Dipihak lain sastra lebih dari sekedar bahasa, deretan kata, namun unsur ‘kelebihan’-nya itu hanya dapat diungkapkan dan ditafsirkan melalui bahasa. Bahasa dalam sastra pun mengemban fungsi utamanya, yaitu fungsi komunikatif. Struktur fiksi dan segala sesuatu yang dikomunikasikan senantiasa dikontrol lansung oleh manipulasi bahasa pengarang (Fowler dalam Nurgiyantoro 2013:364).

Membedakan gaya bahasa berdasarkan lansung tidaknya makna ke dalam dua kelompok, yaitu gaya bahasa retoris dan kiasan (Gorys Keraf dalam Nurgiyantoro 2013:399). Gaya retoris adalah gaya bahasa yang maknanya harus diartikan menurut nilai lahirnya. Bahasa yang dipergunakan adalah bahasa yang mengandung unsur kelansungan makna. Gaya bahasa kiasan adalah gaya bahasa yang maknanya tidak dapat ditafsirkan sesuai dengan makna kata-kata yang membentuknya.

Baca Juga:   Pengertian Drama

Bahasa dan sastra mempunyai fungsi sebagai alat komunikasi dalam sastra. Gaya bahasa merupakan gaya yang digunakan dalam membuat karya sastra dengan bahasa yang lazim dan sesuai kepandaian pengarang membuat karya sastra. Gaya bahasa menempatkan diri sesuai jenis karya yang disajikan.

  1. Amanat

Amanat dapat disebut juga sebuah pesan yang disampaikan pengarang. Amanat dapat kita temukan pada akhir cerita dan dapat juga ditemukan pada alur cerita serta perilaku tokoh dalam cerita. Pesan yang disampaikan pengarang kepada pembaca, terdapat makna positif agar tidak hanya dibaca saja tetapi dihayati dan menjadi hikmah bagi pembaca. Amanat bisa menjadi potret kehidupan yang sebenarnya. Sehingga menjadi solusi untuk fenomena yang ada disekitar pembaca.

  1. Unsur Ektrinsik

Unsur ektrinsik sebuah novel haruslah tetap dipandang sebagai sesuatu yang penting. Unsur ekstrinsik adalah unsur-unsur yang berada di luar teks sastra itu, tetapi secara tidak lansung memengaruhi bangun atau sistem organisme teks sastra (Nurgiyantoro, 2013:30). Secara lebih khusus dapat dikatakan sebagai unsur-unsur yang memengaruhi bangun cerita sebuah karya sastra, namun itu sendiri tidak ikut menjadi bagian di dalamnya. Unsur ekstrinsik juga terdiri dari sejumlah unsur. Unsur-unsur yang dimaksud antara lain adalah keadaan subjektivitas individu pengarang yang memiliki sikap, keyakinan, dan pandangan hidup yang semuanya itu akan mempengaruhi karya yang ditulisnya.

Keadaan di lingkungan pengarang seperti ekonomi, politik, sosial juga akan berpengaruh terhadap karya sastra, dan hal itu merupakan unsur ekstrinsik pula. Unsur ekstrinsik yang lain misalnya pandangan hidup suatu bangsa, berbagai karya seni yang lain, dan sebagainya. Unsur ini lebih melihat kejadian luar dari tokoh yang dicantumkan. Unsur ekstrinsik tersebut menyajikan pesan moral dan norma-norma yang terkait dalam sebuah karya sastra.

Sekian dulu pembahasan tentang Unsur-Unsur Dalam Novel semoga dapat menjadi referensi dan bermanfaat bagi anda, jika artikel ini dirasa menarik bagi anda, silahkan bagikan/share artikel ini. terima kasih telah berkunjung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.