Permasalahan Yang Timbul Pada Peserta Didik

Diposting pada
  1. Permasalahan Yang Timbul Pada Peserta Didik

Masalah adalah suatu hal yang selalu melekat dalam sebuah kehidupan. Dan permasahan itu akan semakin memuncak ketika mereka menginjak usia yang transisi yang itu pada fase remaja. Karena banyak perubahan yang terjadi pada masa itu. Dalam buku karangan Prof.Dr.H.Sunarto dan Dr.Ny.B.Agung Hartono dalam bukunya yang berjudul Perkembangan Peserta Didik menjelaskan bahwa ada 3 faktor yang mempengaruhi kehidupan seseorang ialah faktor bawaan (heredity), kematangan (maturation), dan lingkungan (training and learning). Ketiga hal itu yang mempengaruhi karakter peserta didik yang hasilnya senantiasa bervariasi yaitu ada yang menguntungkan atau menghambat perkembangan karakter tersebut. Oleh karena garis lintang perpindahan awal sampai akhir peserta didik tidaklah selalu berjalan lurus dan mulus, tetapi mungkin sebaliknya berliku-liku yang bergantung pada variasi salah satu atau beberapa dari faktor dominan tersebut. Liku-liku perkembangan yang extreme merupakan masalah yang tidak mudah teratasi, baik oleh individu yang bersangkutan atau oleh masyarakat secara keseluruhan.

Gunarsa (1989) merangkum beberapa karakteristik peserta didik  yang dapat menimbulkan berbagai permasalahan pada diri peserta didik, yaitu:

  • Kecanggungan dalam pergaulan dan kekakuan dalam gerakan. Karna telah ada perubahan fisik yang mencolok
  • Ketidakstabilan emosi sehingga sering bentrok dengan sesama teman.
  • Adanya perasaan hampa akibat perubahan pandangan dan petunjuk hidup.
  • Adanya sikap menentang orang tua karena telah memiliki pola fikir sendiri.
  • Pertentangan di dalam dirinya sering menjadi pangkal penyebab pertentangan -pertentang dengan orang tua. Karna hal ini tidak adanya keselarasan antara keinginan dengan bakat khusus.
  • Kegelisahan karena banyak hal diinginkan tetapi  tidak sanggup memenuhi semuanya.
  • Senang bereksperimentasi dan mencoba banyak hal.
  • Senang bereksplorasi.
  • Mempunyai banyak fantasi, khayalan, dan bualan.
  • Kecenderungan membentuk kelompok dan kecenderungan kegiatan berkelompok. Seperti hidup dalam gang yang tidak terbimbing sehingga mudah menimbulkan kenakalan-kenakalan.
  • Melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak sesuai dengan norma masyarakat dan agama.
  • Penyesuaian yang sulit terhadap sosial.
  • Ada kecendrungan untuk mandiri tapi belum bisa mengatur sendiri.
  • Keingian yang tidak sesuai dengan perekonomian keluarga.
Baca Juga:   Pendekatan Dalam Proses Pembelajaran

            Berdasarkan tinjauan teori perkembangan, peserta didik khususnya seusia remaja adalah masa saat terjadinya perubahan-perubahan yang cepat, termasuk perubahan yang sangat fundamental pada karakter, emosi, sosial, prilaku dan masa depan .Sebagian peserta didik mampu mengatasi transisi ini dengan baik, namun beberapa peserta didik bisa jadi mengalami penurunan pada kondisi psikis, fisiologis, dan sosial. Beberapa permasalahan  yang muncul biasanya banyak berhubungan dengan karakteristik yang yang ada pada peserta didik.

Banyak sekali faktor-faktor yang ikut berperan terhadap timbulnya permasalahan pada peserta didik yaitu:

a.   Faktor pribadi atau faktor intern, meliputi:

1. Sifat yang menurun dari orang tua.

2. Cacat tubuh.

3. Ketidakmampuan menyesuaikan diri.

4. Kurang bisa menyampaikan gagasan kepada orang lain.

5. Rendahnya kapasitas intelektual.

b.   Faktor lingkungan atau faktor ekstern, meliputi:

1.    Malnutrisi (Kekurangan gizi)

2.    Kemiskinan di kota-kota besar

3.    Gangguan lingkungan ( polusi, bencana alam, kecelakaan lalulintas )

4.    Migrasi ( urbanisasi, pengungsi karena perang )

5.    Faktor sekolah ( kesalahan pendidikan, faktor kurikulum )

6.    Keluarga yang tercerai berai ( perceraian, perpisahan yang terlalu lama )

7.   Gangguan dalam pengasuhan oleh keluarga ( kematian orangtua, orangtua

sakit, atau orangtua yang tidak harmonis )

8.  kesibukan orang tua yang sangat padat sehingga kurang memeperhatikan perkembangan anak-anaknya.

B.  Bentuk-Bentuk Perilaku Menyimpang Peserta Didik

Menurut Gunarsa (1986) prilaku menyimpang terbagi menjadi 2 jenis, yaitu:

1. Penyimpangan yang tidak diatur dalam Undang-undang (tidak termasuk pelanggaran hukum),misalnya membolos, kabur dari rumah, memakai pakaian tidak senonoh, dll.

2.   Penyimpangan yang diatur dalam undang-undang (termasuk melanggar hukum), misalnya pembunuhan, judi, memperkosa.

Seiring dengan berjalannya waktu, peserta didik khususnya yang menginjak masa remajanya akan mengalami sebuah perubahan, yaitu mereka akan tumbuh dan berkembang. Pertumbuhan yaitu meliputi fisiknya saja, sedangkan perkembangan itu meliputi psikisnya, baik itu pribadi, jiwa, ataupun perilaku mereka. Laju proses perkembangan perilaku dan pribadi itu dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu faktor bawaan, kematangan, dan lingkungan. Ketiga faktor dominan utama itu senantiasa bervariasi yang mungkin dapat menguntungkan, membatasi, ataupun menghambat lajunya proses perkembangan tersebut. Oleh karena garis lintasan perpindahan dari awal sampai akhir masa remaja itu tidaklah selalu berjalan secara lurus dan mulus, tetapi mungkin sebaliknya berliku-liku yang bergantung atas variasi salah satu atau beberapa dari ketiga faktor dominan tersebut.

Baca Juga:   Pengertian Stimulus

Seperti contoh, peserta didik Sekolah Menengah Pertama. Pada saat itu mereka sedang mengalami masa peralihan menuju masa remaja yang ditandai dengan berbagai macam karakteristik, seperti suara yang membesar peserta pada remaja laki-laki, pinggul yang membesar pada remaja perempuan, dll. Pada masa itu mereka akan mencari jati diri mereka masing-masing sehingga perubahan jiwanya akan muncul. Dalam pencarian jati diri ini, seorang remaja kadang melakukan suatu perbuatan yang tidak seharusnya mereka lakukan yang perbuatan tersebut akan merugikan dirinya sendiri dan juga orang lain, perilaku tersebut dapat dikatakan sebagai perilaku yang menyimpang.

Bentuk – bentuk penyimpangan yang sering dilakukan oleh remaja yaitu meliputi, perbuatan awal pencurian (berbohong), perkelahian antar siswa (tawuran), mengganggu teman, berkata kasar dan tidak menghormati orang tua, merokok, menonton pornografi, corat-coret tembok sekolah, kurang hormat kepada guru dan karyawan, kurang disiplin terhadap waktu dan tidak mengindahkan peraturan, kurang memelihara keindahan dan kebersihan lingkungan, dan berbuat asusila.

Pada dasarnya kenakalan remaja menunjuk pada suatu bentuk perilaku remaja yang tidak sesuai dengan norma-norma yang hidup di dalam masyarakatnya. Kartini Kartono (2003) secara tegas dan jelas memberikan batasan kenakalan remaja merupakan gejala sakit secara sosial pada anak-anak dan remaja yang disebabkan oleh bentuk pengabaian sosial, sehingga mereka itu mengembangkan bentuk tingkah laku yang menyimpang. Perilaku anak-anak ini menunjukkan kurang atau tidak adanya konformitas terhadap norma-norma sosial.

C.  Solusi Dari Permasalahan-Permasalahan Peserta Didik

Dalam permasalahan yang timbul pada peserta didik bisa berimplikasi bagi pendidikan.Misalnya peserta didik jadi tidak jarang sekolah, malas belajar, menganggap pendidikan sebagai suatu hal yang tidak penting, banyak melanggar peraturan, dll. Untuk mengurangi kemungkinan tumbuhnya permasalahan yang timbul pada peserta didik khususnya pada  masa remaja, dalam rangka kegiatan pendidikan yang dapat dilakukan para Diantara usaha-usaha pembinaan yang perlu di perhatikan, sekurang-kurangnya pendidik umumnya dan para guru khususnya:

Baca Juga:   Pengertian Pembelajaran Konstruktivisme

1.  Hendaknya seorang guru mengadakan program dan perlakuan layanan khusus bagi siswa remaja pria dan siswa remaja wanita (misalnya dalam pelajaran anatomi, fisiologi dan pendidikan olahraga) yang diberikan pula oleh para guru yang dapat menyelenggarakan penjelasannya dengan penuh dignity. Tujuan dari usaha tersebut adalah untuk memahami dan mengurangi masalah-masalah yang mungkin timbul bertalian dengan perkembangan fisik dan psikomotorik remaja.

2.  Memperhitungkan segala aspek selengkap mungkin dengan data atau informasi secermat mungkin yang menyangkut kemampuan dasar intelektual (IQ), bakat khusus (aptitudes), disamping aspirasi atau keinginan orangtuanya dan siswa yang bersangkutan. Terutama pada masa penjurusan atau pemilihan dan penentuan program studi. Upaya tersebut bertujuan untuk memahami dan mengurangi masalah-masalah yang mungkin timbul bertalian dengan perkembangan bahasadan perilaku kognitif.

3.  Seharusnya seorang guru bisa mengaktifkan dan mengkaitkan hubungan rumah dengan sekolah (parent teacher association) untuk saling mendekatkan dan menyelaraskan system nilai yang dikembangkan dan cara pendekatan terhadap siswa remaja serta sikap dan tindakan perlakuan layanan yangdiberikan dalam pembinaannya. Tujuannya adalah untuk memahami dan mengurangi masalah-masalah yang mungkin timbul bertalian dengan perkembangan perilaku sosial,moralitas dan kesadaran hidup atau penghayatan keagamaan.

4.  Seorang guru atau pendidik untuk memahami dan mengurangi masalah-masalah yang mungkin timbul bertalian dengan perkembangan fungsi-fungsi konatif, afektif dan kepribadiannya.

Demikian artikel tentang Permasalahan Yang Timbul Pada Peserta Didik Semoga dapat dijadikan referensi bagi anda, dan jika artikel ini dirasa bermanfaat bagi anda silahkan share artikel ini. Terima kasih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.