Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Berbasis Masalah Sosial

Diposting pada

Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Berbasis Masalah Sosial – Pendidikan Kewarganegaraan (Citizenship) merupakan mata pelajaran yang memfokuskan pada pembentukan diri  yang beragam dari segi agama, sosial, kultural, bahasa, usia dan suku bangsa untuk menjadi warga negara yang cerdas, terampil, dan berkarakter yang diamanatkan oleh Pancasila dan UUD 1945 (Kurikulum Berbasis Kompetensi, 2004).

Landasan PKn adalah Pancasila dan UUD 1945, yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional indonesia, tanggap pada tuntutan perubahan zaman, serta Undang Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Kurikulum Berbasis Kompetensi tahun 2004 serta Pedoman Khusus Pengembangan Silabus dan Penilaian Mata Pelajaran Kewarganegaraan yang diterbitkan oleh Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar Menengah Direktorat Pendidikan Menengah Umum.

Pendidikan Kewarganegaraan dapat diartikan sebagai wahana untuk mengembangkan dan melestarikan nilai luhur dan moral yang berakar pada budaya bangsa indonesia yang diharapkan dapat diwujudkan dalam bentuk perilaku kehidupan sehari-hari peserta didik sebagai individu, anggota masyarakat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Masalah sosial menurut umum warga masyrakat bahwa segala sesuatu yang menyangkut kepentingan umum adalah masalah sosial. Sedangkan menurut para ahli masalah sosial adalah sesuatu kondisi atau perkembangan yang terwujud dalah masyarakat yang berdasarkan atas studi mereka mempunyai sifat yang dapat menimbulkan kekacawan terhadap kehidupan warga masyarakat secara keseluruhan.

Oleh karena itu dengan mengikuti batasan yang lebih tegas dikemukakan oleh Abu Ahmadi (2003: 13), masalah-masalah sosial dapat di defenisikan sebagai sesuatu kondisi yang mempunyai pengaruh terhadap kehidupan sebagian besar warga masyrakat sebagai sesuatu yang tidak diinginkan atau tidak di sukai dan yang karenanya dirasakan perlunya untuk diatasi atau diperbaiki.

Baca Juga:   Pengertian Membaca

Sejumlah ahli ilmu-ilmu sosial dalam buku ilmu sosial dasar Abu Ahmadi (2003: 15), seperti Merton dan Nisbet, Densin, Gerson dan Brodley, merasakan bahwa dengan menggunakan pendekatan masalah-masalah sosial sebagai kerangkanya maka hakikat masyrakat dan kebudayaan manusia akan lebih dapat dipahami. Begitu juga menurut mereka, berbagai pemikiran yang secara masuk akal dapat di pertanggungjawabkan yang berkenaan dengan usaha-usaha untuk memperbaiki masalah-masalah sosial tersebut akan lebih dapat dikembangkan.

Aristoteles dalam buku ilmu budaya dasar Abu Ahmad (2003: 204), mengatakan bahwa di dalam tiap-tiap negara terdapat tiga unsur, yaitu mereka yang kaya sekali, mereka yang melarat sekali, dan mereka yang berada di tengah-tengahnya. disini aristoteles membagi masyarakat berdasarkan dimensi ekonomi sehingga ada orang yang kaya, menengah dan melarat.

Gaotano Mosoa, serjana italia di dalam “The Ruling Class” dalam buku ilmu budaya dasar Abu Ahmad (2003: 205), menyatakan di dalam seluruh masyarakat dari masyarakat yang sangat kurang berkembang, sampai kepada masyrakat yang paling maju dan penuh kekuasaan dua kelas selalu muncul ialah kelas yang pemerintah dan kelas yang di perintah. Kelas yang pertama, jumlahnya selalu sedikit, menjalankan peranan-peranan politik, monopoli kekuasaan dan menikmati keuntungan-keuntungan yang

di hasilkan oleh kekuasaan itu. Sebaliknya yang kedua, ialah kelas yang di perintah, jumlahnya lebih banyak diarahkan dan diatur atau diawasi oleh kelas pertama.

Baca Juga:   Cara Menulis Resensi

Prof. Dr. Selo Sumardjan dan Soelaiman Soemardi SH. MA. dalam buku ilmu budaya dasar Abu Ahmad (2003: 204), menyatakan selama di dalam masyrakat ada sesuatu yang di hargai olehnya dan setiap masyrakat pasti mempunyai sesuatu yang di hargainya maka barang itu akan menjadi bibit yang dapat menumbuhkan adanya sistem berlapis-lapis dalam masyrakat. Masalah sosial adalah masalah yang menyangkut kemasyarakat, baik individu maupun kelompok.

Suatu kejadian yang merupakan masalah sosial belum tentu mendapat perhatian sepenuhnya dari masyarakat. Sebaliknya, suatu kejadian yang mendapatkan sorotan masyarakat juga belum tentu merupakan masalah sosial. Pendidikan kewarganegaraan merupakan usaha membekali peserta didik dengan pengetahuan dan kemampuan dasar dengan  berkenaan dengan pencegahan masalah sosial hubungan antara warga negara dengan negara serta pendidikan pendahuluan bela negara agar menjadi warga negara yang dapat diandalkan oleh bangsa dan negara.

Menurut Setiadi dan Kolip (2010: 51), “jika di dalam kehidupan sosial antara elemen satu dan elemen lainnya tidak melaksanakan fungsi dan peranannya sesuai dengan nilai dan norma sosial yang berlaku, maka keadaan tersebut disebut dengan ketidakteraturan sosial (patologi sosial). Patologi sosial sebagai bagian dari kajian objek sosiologi sering disebut dengan masalah sosial”.

Dalam hal ini, Soerjono Soekanto (Setiadi dan Kolip, 2010: 51) membuat beberapa kriteria masalah sosial, antara lain:

  1. Faktor ekonomi terdapat masalah kemiskinan, yang dalam hal ini kemiskinan dibedakan menjadi dua, yaitu kemiskinan struktural dan kemiskinan absolut.
  2. Faktor biologis yang didalamnya terdapat persoalan yang harus dipecahkan seperti masalah endemis atau penyakit menular sebagaimana terjadi dewasa ini, yaitu kasus flu burung, virus SARS, HIV, dan penyakit kelamin yang menyerang di beberapa daerah.
  3. Faktor psikologis seperti depresi, stres, gangguan jiwa, gila, tekanan batin, dan sebagainya.
  4. Faktor sosial dan kebudayaan seperti perceraian, masalah kriminal, pelecehan seksual, kenakalan remaja, konflik ras, krisis moneter, dan sebagainya.
Baca Juga:   Pengertian Berbicara

Cara penyelesaian masalah sosial adalah:

  1. Pemerataan kesenjangan ekonomi seluruh masyarakat oleh pemerintah.
  2. Tokoh agama memberikan penyuluhan tentang keimanan dan moral dalam menghadapi masalah sosial.
  3. Perguruan tinggi melakukan pengabdian kepada masyarakat dengan memberikan berbagai penyuluhan.
  4. Lembaga bantuan hukum (LBH) dan lembaga sosial masyrakat (LSM) membantu dalam berbagai bidang dimulai dengan penyuluhan sampai bantuan berupa materi.

Sekian dulu pembahasan tentang Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Berbasis Masalah Sosial semoga dapat menjadi referensi bagi anda, jika postingan ini dirasa bermanfaat bagi anda silahkan share/bagikan postingan ini di media sosial anda, jangan lupa juga klik like halaman facebook blog ini untuk mendapatkan update terbaru artikel menarik tentang pendidikan. Terima kasih telah berkunjung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.