Macam-Macam Berpikir

Diposting pada
  1. Pemikiran tingkat tinggi

Pernyataan-pernyataan paling modern mengenai pemikiran mengenali perbedaan antara pemikiran dasar dan pemikiran tingkat tinggi dan bahwa mengajarkan keterampilan tingkat tinggi membutuhkan pendekatan berbeda dibandingkan dengan mengajarkan keterampilan berpikir dasar atau pola perilaku rutin. (Lihat, misalnya. Palincsar, 1998; Resnick, 1987; Ritchhart, 2002; Tishman, Perkins, 8< Iay, 1995.) berdasarkan Taksonomi Bloom yang Direvisi di Bab 3 dan 7 mengenai keterampilan pemikiran dasar yang terutama dikaitkan dengan mengingat, sementara pemikiran tingkat tinggi menunjukkan proses kognitif seperti memahami, membandingkan, mengevaluasi, dan menciptakan. Meskipun definisi tepat dari pemikiran tingkat tinggi tidak selalu dapat ditemukan, kita mengenali pemikiran tersebut ketika kita melihatnya dilakukan. Selain itu, pemikiran tingkat tinggi. tidak seperti perilaku konkret, bersifat kompleks dan tidak mudah direduksi menjadi rutinitas yang tetap. Pikirkanlah pernyataan-pernyataan Lauren Resnick(1987) berikut ini mengenai definisi beliau mengenai pemikiran tingkat tinggi:

  • Pemikiran tingkat tinggi bersifat non-algoritmik; yaitu arah tindakannya tidak dapat sepenuhnya ditentukan di awal.
  • Pemikiran tingkat tinggi cenderung kompleks. Arah keseluruhan tidak “terlihat” (secara mental) dari satu sudut pandang saja.
  •  Pemikiran tingkat tinggi sering menghasilkan multi-solusi. Masing-masing dengan harga dan keuntungan, dan bukannya solusi unik.
  •  Pemikiran tingkat tinggi melibatkan penilaian bernuansa dan interpretasi.
  •  Pemikiran tingkat tinggi melibatkan penerapan multi-kriteria yang kadang bertentangan satu sama lain.
  • Pemikiran tingkat tinggi sering kali melibatkan ketidakpastian. Tidak semua yang ada pada tugas yang sedang ditangani diketahui.
  • Pemikiran tingkat tinggi melibatkan pengaturan diri dalam hal proses berpikir. Kita tidak mengenali pemikiran tingkat tinggi dalam diri seseorang ketika orang lain “memberi instruksi” di setiap langkah.
  • Pemikiran tingkat tinggi melibatkan pemaksaan makna, menemukan struktur dalam ketidakteraturan yang jelas.
  • Pemikiran tingkat tinggi itu penuh upaya. Terdapat pekerjaan mental yang besar yang terlibat dalam elaborasi dan penilaian yang dibutuhkan

Proses berpikir dan keterampilan yang dibutuhkan orang untuk mengaktifkan proses berpikir tersebut sangatlah kompleks. Resnick juga menunjukkan pentingnya konteks ketika berpikir tentang berpikir; yaitu, meskipun proses berpikir memiliki kesamaan di semua situasi, hal tersebut juga bervariasi tergantung pada apa yang dipikirkan seseorang. Sebagai contoh, proses-proses yang kita gunakan untuk berpikir tentang matematika berbeda dengan proses yang kita gunakan bentuk berpikir mengenai puisi. Proses-proses untuk memikirkan mengenai ide-ide abstrak berbeda dengan proses yang digunakan untuk berpikir mengenai situasi nyata. Karena sifat kompleks dan kontekstual dari keterampilan berpikir tingkat tinggi, keterampilan tersebut tidak dapat diajarkan menggunakan pendekatan yang tepat untuk mengajarkan gagasan dan keterampilan konkret. Akan tetapi, keterampilan dan proses berpikir tingkat tinggi jelas dapat diajarkan, banyak program dan kurikulum yang dikembangkan untuk tujuan ini sangat bergantung pada pendekatan-pendekatan yang sama dengan pendekatan yang akan dijabarkan.

  1. Pemikiran kritis

Pemikiran kritis adalah jenis pemikiran lain yang penting. Bentuk pemikiran ini membutuhkan penggunaan proses kognitif analitis dan evaluatif dan terutama terdiri atas menganalisis argumen berdasarkan konsistensi logis dengan tujuan mengenali bias dan penalaran yang keliru. Bersikap efektif dalam jenis pemikiran ini terutama penting pada masa sekarang karena siswa diekspos secara berkelanjutan dengan informasi dari saluran- saluran TV, situs, dan jejaring sosial yang belum diperiksa akurasinya. Memang benar, banyak pesan yang ditemukan dalam TV dan situs telah diciptakan untuk membingungkan dan menipu. Agar efektif pada pemikiran kritis dibutuhkan keterampilan yang akan membantu menentukan akurasi informasi dan akan membantu menemukan argumen-argumen yang tidak logis dan/atau keliru. Hal ini juga membutuhkan sikap berorientasi pada inkuiri dan disposisi terhadap sifat pengetahuan dan kebenaran.

Sementara itu ada yang menyebutkan bahwa pemikiran dan penalaran ilmiah hampir sama, namun dalam arti sebenarnya adalah mengidentifikasi situasi yang bermasalah. memunculkan dan menguji hipotesis, mengumpulkan data dan bukti, dan menarik kesimpulan. Intinya, pemikiran ilmiah terdiri atas penalaran dan penarikan kesimpulan berdasarkan pada observasi dan bukti. Jenis pemikiran ini dapat digolongkan menjadi dua kategori yakni penalaran deduktif dan penalaran induktif. Penalaran deduktif adalah proses mencapai kesimpulan berdasarkan pada premis yang umum dan berangkat dari umum ke khusus. Misalnya, ketika siswa diajarkan hukum penawaran dan permintaan mereka dapat menggunakan hukum ini untuk memprediksi apa yang akan terjadi terhadap harga-harga jika penawaran meningkat atau jika permintaan naik atau turun. Sebaliknya, penalaran induktif berkebalikan prosesnya,dan kesimpulan ditarik setelah pertimbangan-pertimbangan observasi dan fakta khusus. Jenis penalaran ini berangkat dari khusus ke umum. Penalaran induktif adalah jenis penalaran yang dikaitkan dengan inkuiri ilmiah dan meliputi proses-proses penting yang dijabarkan sebelumnya. Anda akan mendapati bahwa pengajaran berbasis inkuiri, kebanyakan, bergantung pada penalaran induktif, sedangkan pengajaran konsep dapat menggunakan penalaran deduktif ataupun induktif, tergantung pada pendekatan tertentu yang dipilih guru. Seperti yang akan Anda lihat, penalaran ilmiah adalah jenis pemikiran yang mendasari strategi pengajaran konsep dan pengajaran berbasis inkuiri yang dijabarkan di bagian-bagianselanjutnya dari bab ini

Baca Juga:   Analisis Kebutuhan Proses Pembelajaran Di Laboratorium Atau Bengkel Diklat

  • Pengajaran konsep (berpikir)

Konsep memungkinkan individu untuk menggolongkan benda dan gagasan dan menarik aturan dan prinsip. Hal-hal tersebut menjadi landasan bagi jejaring gagasan(skemata) yang membimbing pemikiran kita. Proses mempelajari konsep dimulai pada usia dini dan berlanjur sepanjang hidup pada saat orang mengembangkan konsep yang semakinlama semakin kompleks, baik di sekolah maupun di luar sekolah. Pembelajaran konsep penting di sekolah dan kehidupan sehari-hari karena konsep memungkinkan adanya saling memahami antara orang-orang dan memberikan dasar bagi interaksi lisan. Contoh kasus pada Kim yang sedang menamai benda-benda dan meletakkan benda-benda tadi ke dalam kelompok atau kelasnya (“Bola” “Kursi” “Kotak” “Meja” “Krayon”). la sedang mengembangkan konsep. Menggabungkan sesuatu yang konkret, seperti bola, dengan sifat abstrak, seperti bulat, memampukan Kim untuk mengidentifikasi kelas-kelas dari benda, peristiwa, dan gagasan yang berbeda satu sama lain. Dengan memilah-milah secara berulang-ulang dan menggolongkan bola-bola yang berbeda, ia mampu berpikir tentang bola-bola tersebut, dan pada akhirnya,
mengomunikasikan hal tersebut kepada orang lain.

Model pengajaran konsep dikembangkan terutama untuk mengajarkan konsep-konsep kunci yang berfungsi sebagai landasan bagi pemikiran tingkat tinggi siswa dan untuk saling memberikan dasar antara pemahaman dan komunikasi. Terlihat pada gambar 2.1 diatas bahwa model-model semacam itu tidak dirancang untuk mengajarkan sejumlah informasi bagi siswa. Namun, melalui pemahaman dan penerapan konsep kunci (pokok pikiran) dalam sebuah mata pelajaran, siswa mampu menalar dari pengetahuan atau pembelajaran khusus menuju pengetahuan yang lebih luas. Pembelajaran konsep lebih dari sekadar menggolongkan benda-benda dan membentuk kategori. Pembelajaran konsep juga lebih dari mempelajari narna-nama baru atau kosakata untuk digunakan pada kelas-kelas benda dari gagasan. Alih-alih, pembelajaran konsep melibatkan proses membangun pengetahuan dan mengorganisasi informasi ke dalam struktur kognitif yang kompleks dan menyeluruh. Ingatlah bahwa “pengetahuan konseptual” adalah salah satu jenis utama pengetahuan yang dijabarkan di Bab 3 dan 7.

Terdapat banyak pendekatan untuk pengajaran konsep, tetapi ada dua pengajaran konsep mendasar yang telah dipilih pada pembahasan dalam makalah ini. Keduanya dinamai pendekatan presentasi langsung dan pendekatan pemerolehan konsep. Seperti yang akan dijabarkan selanjutnya dengan lebih detail, sintaksis bagi kedua pendekatan tersebut sedikit bervariasi. Namun, pada dasarnya, pelajaran konsep meliputi empat fase atau tahap utama: (1) menyajikan tujuan dan membuka pelajaran,(2) memasukkan contoh dan bukan contoh, (3) menguji pemerolehan konsep, dan (4) menganalisis proses pemikiran siswa.

Lingkungan pembelajaran untuk pengajaran konsep mungkin digambarkan cukup terstruktur dan berpusat pada guru. Peralihan ke dan dari pelajaran konsep harus direncanakan. Pendidik membuat keputusan tentang konsep untuk mengajar dan konsep pelajaran manakah yang harus diurutkan pada pelajaran tersebut. Guru juga memilih serta menyediakan contoh dan bukan contoh terbaik dari sebuah pemikiran berdasarkan latar belakang dan pengalaman siswa. Selama pelajaran, guru memancing pengetahuan siswa sejauh mana siswa dapat mengaitkan pengalaman terhadap teori yang akan diajarkan guru pada mata pelajaran tersebut.

  • Dukungan teoritis dan empiris dalam pengajaran konsep

Dukungan teoritis dan empiris untuk pengajaran berpikir dan pembelajaran sangat luas dan mencakup berbagai macam topik. Hal ini karena perkembangan pemikiran (konsep) dan hubungannya dengan bagaimana cara kerja pikiran telah menarik minat para ahli teori, filsuf,dan peneliti selama bertahun-tahun. Baru-baru ini, karya ini berpusat terutama pada psikologi kognitif dan mencakup kontribusi dari Iean Piaget, Ierome Bruner,David Ausubel, dan Howard Gardner, dan yang lainnya. Penelitian mereka menunjukkan bagaimana pemikiran konsepual berkembang di kalangan anak-anak dan pemuda dan bagaimana perkembangan utama pada pengajaran konsep (berpikir) berdampak pada proses pembelajaran.

Baca Juga:   Pengertian Hasil Belajar Kognitif

  1. Konsep dan pemikiran tingkat tinggi

Pembelajaran konsep lebih dari sekedar mengklasifikasikan benda dan membentuk beberapa kategori-kategori tertentu. Hal ini juga lebih dari mempelajari topik baru atau kosakata baru untuk diterapkan dalam menggolongkan beberapa benda dan ide. Disamping itu, pembelajaran konsep merupakan langkah untuk mengkonstruksi pengetahuan dan menyusun sebuah informasi kedalam struktur kognitif yang komprehensif dan kompleks.

Pada bab sebelumnya, siswa datang ke kelas dengan berbekal berbagai pengalaman yang terbentuk dari pengalaman pribadi mereka sendiri, skemata, tentang dunia sosial dan bentuk fisiknya. Skemata ini merupakan pemikiran yang terbentuk dari siswa itu sendiri berdasarkan pengetahuan umum. Kadang skemata ini membantu siswa menjelaskan apa yang terjadi di dunia sekitar. Namun kadangkala konsep siswa tertahan pada keakuratan, sifat mereka yang sering acuh tak acuh, kenyataan, kesalah pahaman dengan kenyataan. Kesalahan konsep tidak mudah untuk diubah dengan mempersembahkan informasi baru. Disamping itu, perubahan menuntut proses pengajaran yang dapat memperingati siswa pada skemata mereka sendiri dan membantu mereka dalam mengembangkan konsep baru dan mereformulasikan pemikiran yang baru.

  1. Sifat dasar konsep

Ketika istilah konsep digunakan dalam hubungannya dengan pengajaran dan pembelajaran, istilah tersebut memiliki makna yang tepat dan merujuk kepada cara menggolongkan pengetahuan dan pengalaman. Dengan kata lain, konsep merupakan abstraksi mental atau kategori yang kitauntuk hal-hal di dunia sosial dan fisik. Pembelajaran konsep pada dasarnya “memasukkan sesuatu kedalam kelas” dan kemudian mampu mengenali bagian-bagian dari kelas tersebut. Hal ini mengharuskan individu mampu mengambil sebuah kasus, seperti anjing kesayangannya bernama Max dan meletakkannya ke dalam kelas sebagai objek. Dalam kelas anjing ini memiliki atribut tertentu, proses ini menghendaki pembuatan keputusan tentang kasus tertentu atau khusus yang apakah kasus tertentu merupakan contoh kelas yang lebih besar.

  • Konsep tersebut dapat dimasukkan ke dalam beberapa kategori. Konsep seperti benda dan gagasan dapat dikategorikan dan diberi nama. Mengetahui beberapa jenis konsep itu penting karena jenis konsep tersebut membutuhkan strategi pengajaran yang berbada. Salah satu cara menggolongkan konsep adalah berdasarkan struktur aturan yang mendefinisikan penggunaannya. Beberapa konsep mempunyai struktur aturan yang konstan. Konsep pulau, misalnya, selalu melibatkan daratan yang dikelilingi air. Segitiga adalah bidang yang tertutup dengan tiga sisi dan tiga sudut. Struktur aturan untuk konsep-konsep ini konstan. Atribut-atribut penting dikombinasikan dengan cara menambah dan selalu sama. Jenis konsep ini disebut sebagai konsep penghubung.
  • Konsep-konsep lain lebih luas dan lebih fleksibel dan memungkinkan seperangkat atribut alternatif. Struktur aturan mereka tidak konstan. Misalnya, konsep strike dalam bisbol didasarkan pada sejumlah kondisi alternatif. Strike dapat terjadi ketika pemain yang mendapat giliran memukul bola mengayun dan meleset, ketika wasit menentukan bahwa lemparannya ada dalam zona strike meskipun pemain tersebut tidak mengayun bola, atau ketika pemain memukul bola yang dianggap melakukan pelanggaran. Jenis konsep ini disebut konsep pemisah. Makna dari konsep pemisah sendiri adalah sebuah konsep yang berisi seperangkat atribut alternatif. Konsep kata benda adalah contoh konsep pemisah. Konsep ini dapat berupa orang, tempat, benda, tetapi konsep tersebut tidak bisa ketiganya pada saat yang bersamaan.
  • Jenis konsep ketiga adalah konsep yang struktur aturannya tergantung pada hubungan. Konsep bibi menjelaskan hubungan tertentu antara saudara kandung dan keturunan mereka. Konsep waktu dan jarak adalah konsep relasional. Untuk memahami salah satu konsep ini. seseorang harus tahu konsep yang lainnya, dan juga hubungan antara keduanya. Misalnya, minggu didefinisikan sebagai rangkaian hari yang memiliki titik awal hari pertama (biasanya Minggu) dan titik akhir hari ketujuh (biasanya Sabtu) dan durasi dari ketujuh hari tersebut.

Berdasarkan penjelasan beberapa jenis konsep dalam pengajaran dapat disederhanakan dalam bentuk tabel. Hal ini bertujuan untuk mempermudah dalam memahami jenis konsep yang ada.

Tabel  Jenis-jenis konsep

NO

TYPE

Characteristic

Example

Conjunctive (penghubung)

Struktur peraturan yang relatif konstan pada pendefinisiannya

Pulau

Disjunctive (pemisah)

Seperangkat alternatif

Strike pada permai-nan base ball

Relational (relasional)

Strutur aturannya tergantung pada sebuah hubungan

Bibi

  • Konsep dipelajari melalui contoh dan bukan contoh. Mempelajari konsep tertentu melibatkan pengidentifikasian contoh dan bukan contoh dari konsep. Misalnya, sapi adalah contoh mamalia, tetapi bukan contoh reptilia. Australia adalah contoh negara di belahan bumi selatan, tetapi bukan contoh negara berkembang. Kapas dan sutra adalah contoh konsep kain. tetapi kulit dan baja adalah bukan contoh. Cara guru mengidentifikasi dan menggunakan contoh dan bukan contoh adalah penting dalam pelajaran konsep. Dengan demikian guru harus menyediakan contoh dan bukan contoh yang jelas tentang apa yang diajarkan untuk memastikan pemahaman yang mendalam tentang konsep itu.
  • Pemahaman konsep dipengaruhi oleh konteks sosial. Atribut penting konsep penghubung, seperti segitiga sama sisi, adalah tetap di semua konteks sosial. Namun, konsep pemisah atau relasi, seperti kemiskinan dan tingkat literasi, berubah dari konteks sosial ke konteks sosial lain. Misalnya, kemiskinan di Amerika Serikat bermakna sesuatu yang berbeda dari kemiskinan di negara berkembang Afrika. Konsep dengan atribut penting yang berubah sering kali ditemukan dalam ilmu perilaku dan ilmu sosial dan membutuhkan definisi operasional yang tergantung pada konteks sosial atau lingkungan budaya di mana konsep tersebut digunakan. Pikirkanlah konsep bibi. Dalam beberapa masyarakat, bibi atau tante merujuk pada orang dewasa dalam masyarakat yang memiliki tanggung jawab merawat seorang anak tertentu dan tidak ada hubungannya dengan hubungan darah yang sesungguhnya. Pikirkanlah juga konsep geografi utara dan selatan dalam kaitannya dengan  Anak~anak di belahan bumi utara diajarkan bahwa ketika sesorang pergi ke selatan, iklim akan semakin panas. Ielas-jelas, hubungan konseptual ini tidak benar bagi anak-anak di Autralia atau Argentina. Penamaan konsep juga dipengaruhi oleh konteks. Di Inggris, kaca depan mobil disebut windscreen, dan badannya disebut boot. Dalam kedua kejadian tersebut, konsepnya sama; namanya yang berbeda.
  • Konsep memiliki pengertian dan pelabelan. Semua konsep mempunyai nama atau label dan definisi yang kurang lebih tepat. Misalnya, daratan yang seluruh sisinya dikelilingi air dinamai pulau. Nama dan definisi memungkinkan pemahaman yang sama dan komunikasi dengan orang lain menggunakan konsep tersebut. Keduanya merupakan prasyarat bagi pengajaran dan pembelajaran konsep. Akan tetapi, nama adalah buatan manusia dan pada dasarnya dibuat sesuka hati. Mengetahui nama tidak berarti siswa memahami konsep. Inilah yang membuat sulit pengajaran konsep.
  • Konsep memiliki atribut penting dan tidak penting. Konsep memiliki atribut yang menggambarkan dan membantu mendefinisikan (Tabel 2.2). Beberapa atribut adalah penting dan digunakan untuk memisahkan satu konsep dengan lainnya. Misalnya, segitiga sama sisi, adalah segitiga dengan tiga sisi yang sama. Atribut penting merupakan hal yang harus ada di dalam segitiga. Segitiga tanpa tiga sisi sama bukanlah segitiga sama sisi. Di samping itu, jika konsep merupakan bagian dari konsep yang lebih luas, konsep tersebut harus juga dimasukkan dalam atribut penting dari konsep yang lebih luas tersebut. Segitiga sama sisi adalah anggota dari kelas konsep yang disebut segitiga dan jadi harus mengandung semua atribut penting dari segitiga. Konsep juga mempunyai atribut tidak penting. Misal, ukuran adalah atribut tidak penting dari segitiga sama sisi. Semua konsep memiliki atribut penting dan tidak penting dan kadang sulit bagi siswa untuk membedakan keduanya. Misal, konsep burung dalam pikiran orang biasanya dikaitkan dengan atribut tidak penting terbang. Robin, burung cardinal, elang dan sebagian besar burung dapat terbang. Namun, terbang bukanlah atribut penting dari burung; burung unta dan penguin tidak dapat terbang, namun mereka digolongkan sebagai burung. Berfokus secara khusus pada atribut penting dan anggota khas dari kelas kadang dapat menyebabkan kebingimgan ketika mempelajari konsep-konsep baru. Meskipun terbang bukanlah atribut penting dari buning, atribut tersebut khas bagi sebagian besar burung dan harus dijelaskan dalam mengajarkannya.
Baca Juga:   Teknik Membaca Ekstensif

Tabel 2.2 Atribut penting dan Atribut tidak penting

Atribut penting

Atribut tidak penting

Bulu

Warna bulu

Berdarah panas

Kemampuan untuk terbang

Kaki

Kaki berselaput

Demikian artikel singkat tentang Macam-Macam Berpikir semoga dapat dijadikan referensi dan bermanfaat bagi anda, dan jika anda berkenan mohon share artikel ini melalui tombol di bawah. Terima kasih telah berkunjung

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.