Pengembangan Bahan Ajar Modul

Diposting pada

Pengembangan Bahan Ajar Modul – Modul dalam kawasan teknologi pembelajaran merupakan sumber belajar teknologi cetak. Sumber belajar ini berfungsi sebagai upaya interaksi peseta didik dengan modul sehingga dapat terjadi perubahan perilaku. Dengan demikian siswa berinteraksi secara tidak langsung dengan guru melalui bahan ajar yang dikembangkan sehingga dapat membuat siswa belajar.

Pengembangan modul berbeda dengan LKS dari aspek komponen, fisik dan gaya bahasa. Bahasa yang digunakan lebih komunikatif, seolah-olah guru hadir di kelas dan siswa memperhatikannya. Modul merupakan kelengkapan dari buku teks, karena digunakan untuk keperluan belajar secara mandiri sesuai dengan kecepatan belajarnya. Sebelum modul dikembangkan, guru perlu merancang terlebih dahulu garis besar isi modul. Garis besar isi modul dan jabaran isi modul merupakan acuan guru dalam mengembangkan isi modul.

Garis Besar Isi Modul dan Jabaran Isi Modul (GBIM dan JIM)

Langkah pertama dari pengembangan modul, pola pikir Anda tidak boleh terlepas dari bagaimana Anda melakukan pengembangan tujuan pembelajaran, mengembangkan materi pembelajaran dan menentukan pengalaman belajar. Hal-hal yang sudah Anda lakukan pada kegiatan belajar 1 akan mempermudah penyusunan GBIM dan JIM.

Garis Besar Isi Modul merupakan acuan isi materi yang akan dijabarkan dan disusun dalam bentuk matriks. Komponen-komponennya terdiri dari identitas mata pelajaran, standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator, materi, metode, media, waktu, tes dan pustaka. Komponen-komponen ini dikembangkan tidak berbeda dengan silabus. Yang berbeda hanya pada bagian tes karena fungsi tes untuk menilai sejauh mana penguasaan siswa terhadap isi modul. Keterkaitan antara komponen harus diperhatikan.

Langkah-langkah penyusunannya GBIM adalah sebagai berikut:

  1. Menuliskan identitas mata pelajaran sama seperti dalam silabus
  2. Mengidentifikasi standar kompetensi, dan kompetensi dasar dari standar isi
  3. Menuliskan indikator berdasarkan analisis pembelajaran yang telah Anda lakukan, mulai dari indikator yang paling.
  4. Menuliskan materi pokok dan sub materi pokok.
  5. Menentukan metode dan media yang diperlukan untuk pengembangan isi pelajaran.
  6. Menentukan alokasi waktu yang harus digunakan siswa dalam mempelajarinya. Selain itu harus diperhatikan tingkat kesulitan materi dan pengalaman belajar yang harus dilakukan siswa.
  7. Menentukan evaluasi yang akan dikembangkan (latihan dan tes formatif)
  8. Menuliskan sumber pustaka untuk mengembangkan materi.
Pengembangan Isi Modul

Tahap pengembangan isi modul yang harus diperhatikan oleh guru adalah sistematika modul dan prinsip mengembangkan bagian-bagian modul (Sitepu, 2006, h. 110-116).

Modul belajar mandiri terdiri atas tiga bagian utama. Bagian awal modul berisi pendahuluan, bagian inti berisi bahan pelajaran, dan bagian akhir modul berisi tes sumatif.

  1. Bagian Awal memberikan informasi umum tentang bahan pelajaran, kegunaan, tujuan pembelajaran umum, susunan dan keterkaitan antar judul modul bahan pendukung lainnya, dan petunjuk untuk mempelajari bahan pelajaran.
  2. Bagian Inti terdiri atas unit-unit pelajaran. Masing-masing unit terdiri atas pendahuluan, kegiatan belajar, dan daftar pustaka.
    • Pendahuluan berisi cakupan materi (deskripsi singkat), tujuan pembelajaran khusus, perilaku/kemampuan awal, manfaat, dan urutan pokok bahasan secara logis, dan petunjuk belajar/cara mempelajari modul.
    • Kegiatan belajar mencakup uraian bahan pelajaran, contoh-contoh, latihan, rangkuman, tes formarif dan kunci jawaban.
    • Daftar pustaka berisi daftar sumber dan bacaan yang dapat dipergunakan pemelajar untuk memperkaya isi pokok bahasan.
  3. Bagian Akhir berisi penutup modul, tes sumatif, glosarium, dan lampiran-lampiran yang terkait dengan isi modul.

Bahan belajar mandiri dikembangkan dengan prinsip bahwa i bahan pelajaran itu:

  1. memberikan tuntunan,
  2. membangkitkan motivasi belajar,
  3. menimbulkan rasa ingin tahu,
  4. memacu,
  5. mengingatkan,
  6. menanyakan,
  7. memberikan umpan balik,
  8. mengevaluasi hasil dan kemajuan belajar,
  9. memberikan bantuan remedial, dan
  10. memberikan pengayaan.
Bagian Awal

Penyusunan dan pengembangan bagian awal dilakukan dengan langkah- langkah berikut.

  1. Memberikan penjelasan umum tentang isi bahan pelajaran secara keseluruhan sehingga memberikan gambaran tentang hal-hal yang akan dipelajari serta kedalaman dan keluasan bahasannya.
  2. Apabila diperlukan, disebutkan perilaku/pengetahuan awal yang perlu dimiliki pemelajar sebelum mempelajari bahan pelajaran itu.
  3. Menyebutkan manfaat bahan pelajaran itu bagi pemelajar. Manfaat yang dimaksud termasuk untuk belajar lebih lanjut dan/atau dalam melakukan tugas profesional atau dalam kehidupan sehari-hari.
  4. Menguraikan tujuan umum bahan pelajaran secara jelas yang menggambarkan kompetensi yang akan diperoleh.
  5. Menggambarkan peta konsep bahan pelajaran secara lengkap sehingga terlihat hubungan antar konsep.
  6. Memberikan petunjuk dan langkah-langkah yang operasional bagaimana cara menggunakan dan mempelajari bahan pelajaran itu sehingga membantu dan memudahkan pemelajar mempelajari dan menguasai bahan pelajaran itu. Dalam petunjuk ini hendaknya pula diberitahu bagaimana cara mengerjakan tugas, latihan, dan tes serta cara menggunakan kunci jawaban yang disediakan.
Baca Juga:   Pengertian Drama

Oleh karena bagian awal ini merupakan pembukaan kegiatan belajar, maka dalam menyusun dan mengembangkan isi bahan awal ini hendaknya memperhatikan hal-hal berikut.

  • Disusun secara sistematis dan mudah dipahami.
  • Menggunakan bahasa yang mudah dimengerti oleh pemelajar.
  • Enak dibaca dan menimbulkan rasa ingin tahu dan ingin membacanya lebih lanjut.
Bagian Inti

Bagian inti disusun dalam bentuk unit-unit pelajaran yang masing-masing berdiri sendiri. Masing-masing unit diberi judul dan terdiri atas pendahuluan, kegiatan belajar dan daftar pustaka.

Pendahuluan

Pendahuluan disusun dengan cara berikut.

  1. Menyebutkan cakupan bahan pelajaran dalam unit yang bersangkutan. Cakupan itu meliputi materi pokok, teori, dan konsep yang akan dipelajari.
  2. Menjelaskan hubungan antara bahan pelajaran yang bersangkutan dengan bahan pelajaran pada unit sebelumnya
  3. Menyebutkan manfaat mempelajari dan menguasai bahan pelajaran dalam unit yang bersangkutan.
  4. Menyebutkan secara operasional dan terukur kompetensi yang akan diperoleh dengan mempelajari bahan pelajaran dalam unit yang bersangkutan. Kompetensi yang dimaksud dinyatakan dalam rumusan Tujuan Pembelajaran Khusus (TPK/TIK) yang memuat unsur sasaran (audience), perilaku (behavior), kondisi (condition), dan tingkatan (degree)
  5. Bila perlu, menyebutkan kemampuan/perilaku awal yang perlu dimiliki pembelajar sebelum mempelajari unit tertentu.
  6. Menjelaskan cara mempelajari bahan pelajaran termasuk cara menggunakan media yang melengkapi (kalau ada) dan sumber- sumber belajar lain yang dapat dipergunakan untuk meningkatkan penguasaan pemelajar atas bahan pelajaran.
Kegiatan belajar.

Kegiatan belajar memuat uraian yang merupakan bahan pelajaran untuk unit yang bersangkutan. Kegiatan belajar ini disajikan dalam bentuk uraian, contoh, latihan, rangkuman, tes formatif, dan kunci jawaban.

Uraian bahan pelajaran dilakukan dengan cara berikut.

  1. Menguraikan konsep-konsep dan teori-teori yang sesuai untuk mencapai tujuan pembelajaran khusus (TPK).
  2. Menyusun urutan konsep-konsep dan teori-teori secara sistematis, mudah dipahami, serta sesuai dengan teori belajar dan membelajarkan.
  3. Memperjelas konsep-konsep dengan teori-teori, contoh-contoh dan/atau ilustrasi seperti gambar, grafik, atau tabel.

Dalam menyusun dan mengembangkan bahan kegiatan belajar hendaknya memperhatikan hal-hal berikut.

  1. Strategi, metode, dan teknik pembelajaran memperhatikan karakteristik pemelajar serta karakteristik bahan pelajaran.
  2. Teknik penyajian informasi dalam bentuk naratif, deskriptif, eksposisi, dedukatif, induktif, ekplanasi, atau argumentasi bergantung pada tujuan pembelajaran dan karakteristik isi bahan pelajaran.
  3. Organisasi bahan pelajaran dibuat dengan ukuran dan susunan yang sistematis dan logis sehingga memudahkan pemelajar melihat kaitan antar bab dengan sub-bab, dan paragraf secara jelas.
  4. Uraian menumbuhkan atau meningkatkan motivasi pemelajar untuk berpikir dan berbuat.
  5. Susunan dan penempatan naskah dan ilustrasi dibuat sedemikian rupa sehingga informasi mudah dipahami dan menarik dipelajari. Ilustrasi ditempatkan sedekat mungkin dengan konsep yang dijelaskan.
  6. Isi uraian, contoh, dan ilustrasi tidak bertentangan dengan nilai-nilai yang dianut pemelajar atau lingkungan tempat belajar serta dengan ketentuan dan peraturan yang berlaku.
  7. Untuk memantapkan pemahaman dan penguasaan pemelajar atas konsep yang sedang dipelajari, perlu diberikan latihan yang sesuai dalam bentuk soal, tugas, eksperimen, dan lain-lain. Latihan yang diberikan relevan dengan bahan pelajaran yang sedang dipelajari serta sesuai dengan kemampuan pemelajar dan menantang pemelajar berpikir dan berbuat kritis. Latihan dapat diberikan di tengah atau pada akhir uraian suatu pokok bahasan.
  8. Untuk memudahkan siswa mengingat, setiap unit bahan pelajaran diakhiri dengan rangkuman yang berisikan inti bahan pelajaran itu serta terkait dengan TPK yang disebutkan pada awal unit. Rangkuman berfungsi untuk menyimpulkan dan memantapkan pengalaman dan perolehan hasil belajar. Rangkuman disusun secara ringkas, berurutan, mudah dipahami, dan bersifat menyimpulkan. Rangkuman diletakkan sebelum tes formatif.
  9. Menggunakan bahasa yang komunikatif dan menarik.
Baca Juga:   Pengertian Peranan Guru
Tes formatif

Tes formatif diberikan pada akhir setiap unit atau pokok bahasan dengan tujuan untuk mengukur Penguasaan pemelajar atas bahan pelajaran pada unit atau pokok bahasan tertentu dengan mengacu pada TPK yang telah ditetapkan. Hasil tes formatif i dijadikan sebagai dasar untuk langkah belajar lebih lanjut, apakah dapat diteruskan ke unit atau pokok bahasan berikutnya atau memerlukan remedial.

Tes formatif biasanya menggunakan tes objektif yang jawabannya adalah tunggal dan tidak mungkin bervariasi. Penggunaan jenis tes ini akan memudahkan pemelajar untuk memeriksa kebenaran jawabannya dengan menggunakan kunci jawaban yang tersedia. Dalam menyusun butir soal tes objektif, secara umum perlu diperhatikan berikut.

Tes formatif

Tes formatif diberikan pada akhir setiap unit atau pokok bahasan dengan tujuan untuk mengukur Penguasaan pemelajar atas bahan pelajaran pada unit atau pokok bahasan tertentu dengan mengacu pada TPK yang telah ditetapkan. Hasil tes formatif i dijadikan sebagai dasar untuk langkah belajar lebih lanjut, apakah dapat diteruskan ke unit atau pokok bahasan berikutnya atau memerlukan remedial.

Tes formatif biasanya menggunakan tes objektif yang jawabannya adalah tunggal dan tidak mungkin bervariasi. Penggunaan jenis tes ini akan memudahkan pemelajar untuk memeriksa kebenaran jawabannya dengan menggunakan kunci jawaban yang tersedia. Dalam menyusun butir soal tes objektif, secara umum perlu diperhatikan berikut.

  1. Butir tes mengukur TPK yang sudah ditetapkan.
  2. Butir tes hendaknya disusun secara jelas, tepat, dan menggunakan kaidah-kaidah bahasa yang baik dan benar.
  3. Butir soal dirumuskan dengan menggunakan bahasa yang sesuai dengan kemampuan pemahaman Pemelajar. Hendaknya dihindari penggunaan struktur bahasa yang terlalu mudah atau terlalu sulit.
  4. Semua informasi yang diperlukan untuk memilih jawaban yang benar seharusnya tersedia dalam butir soal dan menghilangkan kata-kata dan frase yang tidak berfungsi.
  5. Budi soal yang diangkat langsung dari bahan pelajaran hanya akan mengukur kemampuan menghafal dan bukan pemahaman.
  6. Butir soal yang membantu atau mempersulit menjawab soal berikutnya hendaknya dihindari. Yang dimaksud dengan membantu ialah butir soal yang memberikan arah untuk jawaban butir soal yang berikutnya. yang dimaksud dengan mempersulit ialah butir soal yang tidak dapat dijawab tanpa dapat menjawab soal yang sebelumnya dengan benar.
  7. Tes objektif dapat disusun dalam 4 bentuk tes, yaitu (1) jawaban singkat, (2) padanan/penjodohan, (3) pilihan benar-salah, dan (4) pilihan ganda.
Jawaban Singkat

Tes dalam bentuk ini meminta pemelajar mengisi ruang yang dikosongkan dalam suatu Pernyataan, dengan kata atau frase yang benar atau memberikan jawaban yang singkat terhadap suatu pertanyaan.

Dalam menysusun butir soal ini perlu diperhatikan:

  1. Butir soal hendaknya untuk melengkapi pernyataan.
  2. Hindari membuat lebih dari dua tempat kosong untuk dilengkapi dalam satu pernyataan sehingga maknanya secara keseluruhan tidak jelas.
  3. Jika menggunakan pernyataan yang tidak lengkap, hendaknya tempat yang dikosongkan berada pada akhir pernyataan.
Padanan/Penjodohan

Padanan/penjodohan adalah bentuk tes yang meminta pemelajar memilih padanan/atau jodoh yang sesuai dengan soal/stimulus yang diberikan. Bentuk tes seperti ini dapat mencakup bahan pelajaran lebih efisien dibandingkan dengan pilihan ganda.

Dalam menyusul butir soal dalam bentuk tes ini perlu diperhatikan ha-hal berikut.

  1. Soal/stimulus dan padanannya/jodohnya disusun dalam kolom terpisah. Soal/stimulus disusun dalam kolom sebelah kiri dan padanannya/jodohnya pada kolom sebelah kanan.
  2. Butir soal/stimulus diberi nomor secara berurut dengan menggunakan angka, sedangkan butir padanan/jodoh diberi nomor secara berurut dengan menggunakan huruf.
Baca Juga:   Faktor-Faktor Yang Dapat Mengubah Penilaian Kinerja
Benar-salah

Benar-salah adalah bentuk tes yang meminta pemelajar menentukan benar atau salah atas suatu pernyataan yang diberikan. Di samping banyak dikritik karena dianggap hanya mengukur kemampuan hafalan dan jawabannya dapat diberikan dengan cara menebak, bentuk soal ini dipertahankan oleh banyak ahli. Bentuk tes ini tetap dianggap efektif dan efisien untuk mengukur berbagai jenis kemampuan apabila disusun secara cermat dan tepat.

Dalam menyusun butir soal benar-salah perlu diperhatikan hal-hal berikut.

  1. Setiap pernyataan mengandung konsep atau masalah-masalah yang penting.
  2. Pernyataan disusun relatif singkat.
  3. Pernyataan dalam bentuk kalimat negatif khususnya negatif ganda perlu dihindarkan.
  4. Pernyataan yang membingungkan dan mengecohkan dihindarkan.
  5. Kata-kata penjurus yang mengarahkan jawaban pada salah satu pilihan tidak digunakan.
  6. Untuk pernyataan yang bersifat pendapat seseorang, hendaknya dikutip sesuai dengan aslinya atau yang resmi.
  7. Panjang pernyataan dibuat relatif sama antara pernyataan yang menghendaki jawaban benar dan salah.
  8. Jumlah pernyataan dibuat sama antara pernyataan yang menghendaki jawaban benar dan salah.
  1. Pilihan Ganda

Hal-hal penting yang perlu diperhatikan dalam menyusun butir soal pilihan ganda antara lain ialah sebagai berikut.

  1. Butir soal dapat dibuat dalam bentuk penanyaan atau kalimat penggalan (pernyataan yang tidak lengkap).
  2. Bila yang dipergunakan adalah kalimat penggalan, maka pilihan ganda diletakkan pada akhir penggalan.
  3. Soal dibuat secara singkat dan jelas dengan memperhatikan tingkat kemampuan membaca pembelajar.
  4. Dihindari membuat soal dengan mengutip langsung dari teks bahan pelajaran.
  5. Soal dirumuskan dengan menggunakan kaidah-kaidah bahasa yang benar.
  6. Jumlah pilihan untuk setiap butir soal adalah empat atau lima, tetapi untuk pemelajar pemula sebaiknya hanya tiga pilihan.
  7. Jumlah kata atau panjang pilihan dibuat sama atau hampir sama.
  8. Semua    pilihan    terkait    dengan    isi    kalimat    penggalan    yang mendahuluinya
  9. Sedapat mungkin dihindari kalimat dalam bentuk negatif.

Tes formatif dilengkapi dengan kunci jawaban yang dapat ditempatkan pada halaman khusus/tersendiri. Pada awal unit hendaknya sudah diberitahukan kepada pemelajar cara mengerjakan tes formatif, cara menggunakan kunci jawabannya, serta cara menghitung skor hasilnya.

Daftar Pustaka

Pada akhir unit diberikan daftar pustaka sebagai bacaan lebih lanjut untuk memperkaya pengalaman belajar pemelajar. Dalam membuat daftar pustaka tersebut hendaknya diperhatikan kemungkinan pemelajar dapat memperoleh bahan bacaan tersebut. Hendaknya diperioritaskan bahan bacaan yang mungkin dapat diperoleh pemelajar di perpustakaan, toko buku, atau tempat lain.

Bagian Akhir

Bagian akhir modul terdiri atas

  1. Penutup
  2. Tes sumatif
  3. Kunci jawaban tes formatif dan tes sumatif
  4. Glosarium
  5. Lampiran-lampiran yang terkait dengan isi modul.

Pada bahan belajar mandiri untuk SMU yang dikembangkan Pustekom bekerjasama dengan Depdiknas (2002) bahwa modul terbagi atas:

Petunjuk guru, yang terdiri dari:
  1. Gambaran umum modul, yang berisi tujuan pembelajaran, pokok- pokok materi, dan tugas yang harus dikerjakan siswa.
  2. Peran guru dalam membantu siswa menguasai materi pembelajaran, berisi strategi pembelajaran, bantuan khusus, petunjuk untuk pemanfaatan media yang lain, dan pengayaan untuk siswa.
  3. Evaluasi, berisi tugas guru dalam mengevaluasi dan strategi evaluasi.
  4. Refernesi
  5. Kunci jawaban tes akhir modul
  6. Tes akhir modul
Kegiatan siswa, yang terdiri dari:
  1. Pendahuluan, yang berisi gambaran singkat tentang materi yang akan dipelajari, tujuan pembelajaran umum, tujuan pembelajaran khusus, petunjuk atau cara mempelajari modul bagi siswa, kegunaannya, serta waktu untuk mempelajari modul.
  2. Kegiatan belajar, yang berisi tujuan pembelajaran khusus, uraian materi, dan tugas.
  3. Penutup, yang berisi rangkuman, tidak lanjut, kunci jawaban tugas, daftar istilah, dan daftar pustaka.

Demikian ulasan singkat tentang Pengembangan Bahan Ajar Modul semoga dapat menjadi referensi bagi anda, Jika postingan ini dirasa menarik bagi anda silahkan share/bagikan postingan ini. Terima kasih telah berkunjung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.