Model Pembelajaran Diskursus Multy Reprecentacy (DMR)

Diposting pada

Model Pembelajaran Diskursus Multy Reprecentacy (DMR) – Model pembelajaranDiskursus Multy Reprecentacy (DMR) adalah pembelajaran yang berorientasi pada pembentukan, penggunaan dan pemanfaatan berbagai representasi dengan setting kelas dan kerja kelompok.Model pembelajaranDiskursus Multy Reprecentacy (DMR) adalah model yang menekankan belajar dalam kelompok heterogen saling membantu satu sama lain, bekerja sama menyelesaikan masalah, menyatukan pendapat untuk memperoleh keberhasilan yang optimal baik kelompok dan individual.

Model ini berorientasi pada pembentukan, penggunaan dan pemanfaatan berbagai representasi seperti buku-buku, artikel dari surat kabar, berita, poster, hasil wawancara terhadap informan (seperti guru, kepala sekolah, teman, para ahli), bahan internet dan sebagainya dengan setting kelas dan kerja kelompok. Langkah-langkahnya adalah: persiapan, pendahuluan, pengembangan, penerapan dan penutup. (Suyatno: 2009).

Model pembelajaran Diskursus Multy Reprecentacy (DMR)merupakan model yang mengajarkan suatu proses pemecahan masalah dan mengembangkan keterampilan pemecahan masalah. Pembelajaran dengan model Diskursus Multy Reprecentacy (DMR)lebih menekankan pada proses pemahaman konsep dengan cara diskusi dalam kelompok, jika model pembelajaran lain lebih menekankan pada keterampilan satu atau dua orang dalam kelompok, pembelajaran Diskursus Multy Reprecentacy (DMR)lebih menekankan pada proses diskusi untuk menemukan jawaban dari suatu permasalahan dan mendapatkan hasil diskusi yang disetujui oleh semua anggota kelompok. Dari teori-teori tersebut maka langkah-langkahnya pembelajaran model Diskursus Multy Reprecantacy (DMR)yang akan di laksanakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.

Langkah langkah pembelajaran model Diskursus Multy Reprecantacy (DMR)
Tahap Persiapan

Guru menyiapkan lembar materi, media atau alat peraga dan lembar kerja siswa sesuai materi yang akan dipelajari.

Tahap Pendahuluan
  1. Guru membuka pembelajaran dengan salam, do’a, memotivasi.
  2. Guru menginformasikan tentang pembelajaran cooperative Diskursus Multy Reprecentacy (DMR).
  3. Guru membagi siswa menjadi 6 kelompok secara heterogen.
  4. Siswa duduk sesuai dengan kelompok masing-masing.
  5. Guru membagikan lembar materi.
Tahap Pengembangan

Sebelum siswa berdiskusi dengan teman kelompoknya, terlebih dahulu mengembangkan pengetahuanya terhadap materi yang akan di diskusikan dengan cara membaca buku, majalah, poster sesuai dengan materi yang di pelajari.

Tahap Penerapan
  1. Masing-masing kelompok mendiskusikan materi yang dipelajari dan setiap anggota mencatat.
  2. Siswa ditunjuk secara acak untuk mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya di depan kelas dan setiap siswa yang tampil mempertanggung jawabkan kelompoknya.
  3. Siswa saling tanya jawab dengan presentator.
  4. Guru menambahkan pemahaman materi.
Tahap Penutupan

Guru membagikan lembar kerja siswa. Peningkatan kualitas dan kuantitas tingkah laku seperti peningkatan kecakapan, pengalaman, sikap, kebiasaan, pemahaman, keterampilan, daya pikir, dan lain- lain kemampuan. (Tursan Hakim dalam Munirah).

Slameto (2003) belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamanya sendiri dalam interaksi dengan lingkunganya. (Slameto dalam Munirah: 2014).

Menurut Syah (2003) Belajar merupakan tahapan perubahan perilaku siswa yang relatif positif dan mantap sebagai hasil interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif,dengan kata lain belajar merupakan kegiatan berproses yang terdiri dari beberapa tahap. (Syah dalam Asep Jihad dan Abdul Haris 2012).

Sudjana (1996)berpendapat, belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri seseorang, perubahan sebagai hasil proses belajar dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk seperti perubahan pengetahuan, pemahaman, sikap dan tingkah laku, keterampilan, kecakapan, kebiasaan, serta perubahan aspek-aspek yang ada pada individu yang belajar. (Sudjana dalam Asep Jihad dan Abdul Haris 2012).

Menurut Herman Hudojo (1990)belajar merupakan kegiatan bagi setiap orang. Pengetahuan keterampilan, kegemaran dan sikap seseorangterbentuk, dimodifikasi dan berkembang disebabkan belajar. Karena itu seseorang dikatakan belajar, bila dapat diasumsikan dalam diri orang itu menjadi suatu proses kegiatan yang mengakibatkan suatu perubahan tingkah laku. (Herman Hudojo dalam Asep Jihad dan Abdul Haris 2012).

Berdasarkan pendapat di atas proses belajar terjadi karena interaksi seseorang dengan lingkunganya yang akan menghasilkan suatu perubahan tingkah laku pada berbagai aspek diantaranya pengetahuan, sikap, dan keterampilan. Perubahan-perubahan terjadi disadari oleh individu belajar, berkisinambungan dan akan berdampak fungsi kehidupanya lainya. Selain itu perubahan bersikap positif, terjadi karena peran aktif dari pembelajar, tidak bersifat sementara, bertujuan, dan perubahan yang terjadi meliputi keselurahan tingkah laku pada sikap, keterampilan, pengetahuan, dan sebagainya.

Belajar merupakan proses. Belajar terjadi karena didorong kebutuhan dan tujuan yang ingin dicapai. Belajar adalah proses sistematik yang dinamis, konstruktif, dan organik. Belajar merupakan kesatuan fungsional dari berbagai komponen belajar. Belajar merupakan bentuk pengalaman. Pengalaman pada dasarnya adalah hasil dari interaksi antara peserta didik dengan lingkunganya.

Sekian postingan singkat tentang Model Pembelajaran Diskursus Multy Reprecentacy (DMR) semoga dapat menjadi referensi bagi anda, jika postingan ini dirasa bermanfaat bagi anda silahkan bagikan postingan ini. Terima kasih telah berkunjung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.