Studi Kasus Masalah Budaya di Masyarakat (ISBD: PGSD: A6, B6, C6)

Diposting pada

Dampak Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

Di era modern ini perkembangan teknologi semakin pesat, pengaruh-pengaruh dari prkembangan IPTEK juga dirasakan oleh semua lapiran masyarakat. Penemuan-penemuan baru ditemukan untuk mempermudah pekerjaan manusia. Rotasi bumi terasa berputar semakin cepat, kita dituntut kritis untuk menghadapi kerasnya zaman. Istilah globalisasi sudah tidak asing ditelinga, kerjasama lintas wilayah tiada batas. Interaksi sosial menjadi kunci memuluskan tujuan masing-masing, baik melalui media seperti telepon, internet, komputer atau berkomunikasi secara langsung. Tidak terasa, masuk berbagai macam budaya baru. Cara berpakaian, cara bicara dan tingkah laku. Budaya daerah perlahan tergerus dan digantikan dengan gaya hidup yang baru.

Menurut anda apakah pengaruh tersebut membawa dampak? Berikan penjelasan anda tentang dampak positif dan negatif perkembangan IPTEK terhadap kebudayaan di Indonesia.

Konflik Sosial Dalam Masyarakat Akibat Perbedaan Budaya

Tidak dapat dipungkiri bahwa perbedaan ras dan agama memperlebar jurang permusuhan antar bangsa. Perbedaan suku dan ras ditambah dengan perbedaan agama menjadi penyebab lebih kuat untuk menimbulkan perpecahan antar kelompok dalam masyarakat.

Contoh di wilayah Indonesia, antara Suku Aceh dan Suku Batak di Sumatera Utara. Suku Aceh yang beragama Islam dan Suku Batak yang beragama Kristen; kedua suku itu hampir selalu hidup dalam ketegangan, bahkan dalam konflik fisik (sering terjadi), yang merugikan ketentraman dan keamanan.

Budaya adalah suatu alat yang berguna untuk memahami perilaku manusia di seluruh bumi, juga di negeri kita sendiri. Pandangan mengenai konsep ini terutama berasal dari ilmu-ilmu perilaku manusia (behavoiral science) sosiologi, psikologi dan antropologi. Ilmu sosial tersebut mempelajari dan dan menjalaskan kepada kita bagaimana orang-orang berperilaku, mengapa mereka berperilaku demikian dan apa hubungan antar perilaku manusia dan lingkungan.

Pada dasarnya manusia menciptakan budaya atau lingkungan sosial mereka sebagai suatu adaptasi terhadap lingkungan fisik dan biologis mereka. Kebiasaan, praktik dan tradisi untuk terus hidup dan berkembang diwariskan oleh suatu generasi ke generasi lainnya dalam suatu masyarakat tertentu. Budaya mempengaruhi dan dipengaruhi oleh setiap faset aktivitas manusia. Individu sangat cenderung menerima dan mempercayai apa yang dikatakan oleh budaya mereka. Kita dipengaruhi oleh adat dan pengetahuan masyarakat dimana kita tinggal, terlepas dari bagaimana validitas objektif masukan dan penanaman budaya ini pada diri kita.

Baca Juga:   Kemajemukan sebagai kekayaan Bangsa Indonesia

Di beberapa tempat yang terjadi kerusuhan seperti: Situbondo, Tasikmalaya, dan Rengasdengklok, massa yang mengamuk adalah penduduk setempat dari Suku Madura di Jawa Timur, dan Suku Sunda di Jawa Barat. Sedangkan yang menjadi korban keganasan massa adalah kelompok pendatang yang umumnya dari Suku non Jawa dan dari Suku Tionghoa. Jadi, nampaknya perbedaan suku dan ras disertai perbedaan agama ikut memicu terjadinya konflik.

Konflik merupakan bagian dari kehidupan manusia yang tidak akan lenyap dari sejarah. Selama kita masih hidup tidak mungkin kita menghapus konflik dari dunia ini. Baik konflik intrapersonal, interpersonal dan juga konflik antar kelompok merupakan bagian konstitutif dari sejarah manusia. Berbagai macam hal seperti perbedaan selera, perbedaan pendapat dapat mengakibatkan timbulnya konflik. Masalahnya adalah, apabila konflik tersebut kemudia terus berlanjut hingga melahirkan kekerasan.

Kekerasan bagi masyarakat indonesia bukanlah sesuatu yang asing. Kekerasan merupakan tindakan agresi dan pelanggaran (penyiksaan, pemukulan, pemerkosaan, dan lain-lain) yang menyebabkan atau dimaksudkan untuk menyebabkan penderitaan atau menyakiti orang lain, dan hingga batas tertentu tindakan menyakiti binatang dapat dianggap sebagai kekerasan, tergantung pada situasi dan nilai-nilai sosial yang terkait dengan kekejaman terhadap binatang. Istilah “kekerasan” juga mengandung kecenderungan agresif untuk melakukan perilaku yang merusak. Kerusakan harta benda biasanya dianggap masalah kecil dibandingkan dengan kekerasan terhadap orang.

Kekerasan pada dasarnya tergolong ke dalam dua bentuk kekerasan sembarang, yang mencakup kekerasan dalam skala kecil atau yang tidak terencanakan, dan kekerasan yang terkoordinir, yang dilakukan oleh kelompok-kelompok baik yang diberi hak maupun tidak seperti yang terjadi dalam perang (yakni kekerasan antar-masyarakat) dan terorisme.

Baca Juga:   Penelitian Ilmiah dan Langkah-Langkah Penelitian Ilmiah

Menurut Soerjono Soekanto, kekerasan (violence) diartikan sebagai penggunaan kekuatan fisik secara paksa terhadap orang atau benda. Sedangkan kekerasan sosial adalah kekerasan yang dilakukan terhadap orang dan barang, oleh karena orang dan barang tersebut termasuk dalam kategori sosial tertentu.

Kita tahu bahwa keberagaman budaya dapat menimbulkan konflik dan kerusuhan sosial. Sebenarnya, telah banyak upaya yang dilakukan oleh pemerintah kita dalam mengatasi masalah sosial akibat keberagaman budaya. Ahli-ahli ilmu sosial juga telah memberikan teori-teori pemecahan masalah akibat konflik sosial budaya. Namun pengaruh pemecahan masalah tersebut, tidak langsung dirasakan hasilnya oleh masyarakat.

Menurut pendapat anda apa metode-metode yang tepat untuk pemecahan masalah akibat konflik sosial budaya yang bisa digunakan untuk mengatasi berbagai konflik di Indonesia?

Konflik Indonesia dan Malaysia

Konflik Indonesia dengan Malaysia, yang menurut saya tergolong konflik destrktif. Kita tahu bahwa Indonesia dan Malaysia adalah dua negara yang sesungguhnya satu rumpun yaitu rumpun melayu. Negara yang notabene bertetangga ini memang telah memiliki kedekatan atau kemiripan baik secara geografi maupun kebudayaan. Sejak dahulu, tepatna sejak pemerintahan Soekarno hubungan antar kedua negara ini memang sudah tidak harmonis. Inilah terkadang yang membuktikan persamaan tidak selalu membawa perdamaian. Apalagi ditambah banyak konflik yang terjadi sejak zaman orde lama di Indonesia dimana klaim-klaim yang ditujukan Malaysia terhadap Indonesia telah membuat tidak harmonisnya hubungan kedua negara ini menjadi-jadi.

Berawal dari klaim yang ditujukan terhadap batas wilayah yang berupa klaim suatu pulau, sampai akhirnya saat ini yang terkenal yaitu Malaysia sering mengklaim kebudayaan Indonesia. Tentunya hal-hal tersebut yang menimbulkan berbagai macam opini rakyat Indonesia baik positif maupun negatif. Bahkan bentuk kekecewaan yang berupa jargon “Ganyang Malaysia” pun hingga kini masih hidup di kalangan rakyat Indonesia.

Hubungan indonesia dan malaysia dari dulu memang sudah tidak akur,terlebih jika berbicara tentang tapal batas kedua negara tersebut.bahkan ketika negara malaysia baru berdiri. Seperti yang kita ketahui bahwa negara malaysia menjadi sebuah negara karena di berikan oleh negara inggris, agar malaysia menjadi negara boneka dari inggris.inggris bermaksud untuk menggabungkan kalimantan sebelah utara bersama wilayah semenanjung Malaya dalam satu negara yaitu malaysia.

Baca Juga:   Manusia dan Lingkungan

Hal itu tentu saja membuat presiden negara indonesia saat itu yaitu Soekarno sangat marah,Bukan karena kalimantan utara tidak masuk indonesia,akan tetapi hal itu merupakan ancaman kedaulatan bagi indonesia.dengan membuat negara boneka,inggris akan lebih leluasa untuk menguasai indonesia. Mula-mula dengan membuat negara boneka yaitu malaysia dan berusaha menggabungkan kalimantan utara, dan dimungkinkan inggris akan menguasai wilayah –wilayah lainnya di indonesia.

Kekhawatiran presiden indonesia saat itu sangat beralasan. Karena melihat pengalaman masa lalu, saat negara jepang di boncengi Belanda yang ingin menjajah indonesia kembali. Maka semanjak kejadian itu negara indonesia mengambil pengalaman agar tidak di kuasai lagi oleh negara lain,dan indonesia bisa menjadi negara yang merdeka dan berdaulat seutuhnya.

Menurut pendapat anda bagaimanakah solusi yang tepat untuk menanggulangi konflik tersebut? dan berikan saran dari anda untuk pemerintah Indonesia dalam hal penanggulangan konflik ini.

Aturan pengumpulan tugas:

  1. Tugas dikumpulkan ke email: fatkhan@stkippersada.ac.id
  2. Pada Subjek/Judul email tuliskan Nama Anda, Kelas, Nim (Fatkhan Amirul Huda, 12345678, A6).
  3. Tugas dikumpulkan paling lambat pada Kamis, 19 Januari 2017 Pukul 23:59 WIB. (Untuk Semua kelas A6, B6, C6),  lewat pada batas yang telah di tentukan tugas tidak saya terima.
  4. Format file : Microsoft Word (doc, docx).
  5. Nama file: Nama Anda, Kelas, Nim (Fatkhan Amirul Huda, 12345678, A6).
  6. Bagi mahasiswa/i yang telah mengirimkan email dan sudah mendapatkan email balasan dari saya maka email serta file sudah saya terima. Demikian juga sebaliknya.

 

One thought on “Studi Kasus Masalah Budaya di Masyarakat (ISBD: PGSD: A6, B6, C6)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.