Perspektif Pengembangan Kurikulum Pendidikan Teknologi dan Kejuruan

Diposting pada
  • Perspektif Sejarah

Banyak faktor yang menyebabkan terjadinya perbedaan dalam mengembangkan kurikulum Pendidikan Teknologi dan Kejuruan salah satunya adalah pengaruh ”sejarah”. Sejarah memiliki pesan penting untuk memberikan informasi peristiwa dulu dan menyediakan perspektif yang bermakna bagi para pengembang kurikulum. Dilihat dari perspektif sejarah, usaha perencanaan dan pengembangan kurikulum sudah dimulai pada masa Mesir kuno sekitar 2000 tahun SM. Program-program magang yang terorganisir (apprenticeship) dengan cara mempelajari suatu keterampilan tertentu dari seseorang yang sudah dipandang ahli yang berpengalaman menjadi ciri khas pendidikan pada saat itu. Di lain pihak, pendidikan pada saat itu,  mencakup belajar kemampuan dasar menulis dan membaca karya sastra . Ini tercatat dalam sejarah sebagai usaha awal penggabungan antara belajar di kelas untuk kemampuan-kemampuan dasar dan belajar langsung di tempat kerja untuk hal-hal yang bersifat keterampilan terapan dengan penekanan pada metode menirukan cara bekerja para ahli yang sudah mapan dalam pekerjaannya. Cara ini sempat menyebar ke berbagai bagian dunia lain sampai sekitar abad ke-19.

Sebenarnya ada pula usaha-usaha lain yang mencoba memberi alternatif selain program magang, baik yang berupa pemikiran maupun tindakan nyata berupa pendirian lembaga-lembaga pendidikan yang sudah bersifat agak formal. Pemikiran-pemikiran kependidikan yang dipelopori oleh para ahli filsafat seperti John Locke, Comenius, Pestalozzi, dan Rousseau memberi inspirasi kuat terhadap bentuk-bentuk persekolahan kuno yang mulai meninggalkan praktek magang dan beralih ke bentuk yang lebih formal dengan memasukkan aspek pendidikan mental seperti filsafat dan logika serta pendidikan kesenian.Ketika revolusi industri pecah di awal abad ke-19 , terjadi permintaan tenaga terlatih yang murah dalam jumlah yang sangat besar sehingga tidak mungkin lagi terpenuhi dari sistem pendidikan magang yang biasanya memerlukan waktu yang lama dan biaya relatif mahal.

Sejak saat itulah, kemudian muncul banyak pemikiran-pemikiran untuk mengusahakan perencanaan dan pengembangan kurikulum sekolah secara sistematis, termasuk salah satunya adalah  pemikiran Victor Della Vos yang mengawali adanya pemikiran yang sistematis dalam pengembangan kurikulum pada pendidikan teknologi dan kejuruan. Della yang merupakan direktur dari ”the imperial Technical School of Moscow”, pada tahun 1876 di Philadelphia Centennia Exposition” mengemukakan pendekatan baru dalam pembelajaran teknik, sehingga pada saat itu Della menjadi katalis untuk pendidikan teknik di Amerika Serikat (lannie 1971). Pada saat itu Della terkenal dengan 4 asumsi  yang berkaitan dengan pengajaran dalam bidang mekanik, yaitu : (a) pendidikan ditempuh dalam waktu yang sesingkat mungkin (in short education); (b) selalu diupayakan suatu cara untuk memberikan pengajaran yang cukup untuk jumlah siswa yang banyak dalam satu waktu; (c) dengan metode yang akan memberikan pelajaran praktek di bengkel  dengan pemenuhan pengetahuan yang mencukupi, dan (d) sehingga memungkinkan guru dapat menetapkan perkembangan siswa setiap waktu.      

Baca Juga:   Pendidikan Untuk Pembangunan Berkelanjutan di Rusia

  • Pendidikan Teknologi dan Kejuruan Vs Pendidikan Umum  

Sepanjang hidupnya seorang manusia mempunyai kesempatan berpartisipasi baik dalam pendidikan formal maupun informal, dan sejauhmana partisipasi ini dilakukan akan menjadi salah satu faktor bagi penentu bagi kemampuannya mengarungi kehidupannya. Finch & Crunkilton (1984 : 8) menggambarkan jalinan partisipasi ini dikaitkan dengan dua tujuan penting diselenggarakannya pendidikan secara luas, yaitu : (1) pendidikan untuk hidup dan (2) pendidikan untuk mencari penghidupan.

Education in Our Society ( Finch & Crunkilton (1984 : 8)

  • Konsep Dasar Kurikulum

Finch & Crunkilton (1984 : 9),  mengemukakan definisi kurikulum sebagai  …. as the sum of the learning activities and experiences that a student has under the auspices or direction of the school” Dari definisi tersebut dapat paling tidak ada dua point yang harus diperhatikan, yaitu bahwa fokus utama kurikulum adalah siswa dan yang kedua bahwa bagian dari kurikulum tidak hanya mata pelajaran akan tetapi semua aktivitas (olah raga, klub, kegiatan kokurikuler) memiliki pengaruh yang signifikan untuk pembentukan individu siswa yang total dan untuk mencapai efektivitas dari kurikulum .

  • Hubungan antara Kurikulum dan Pembelajaran

Penjelasan hubungan antara kurikulum dan pembelajaran  akan memberikan membawa konsekuensi langsung pada perbedaan pengertian antara perencanaan kurikulum dan perencanaan pembelajaran.   Finch & Crunkilton (1984 : 11) menggambarkan hubungan keduanya sebagai berikut :

Possible Shared and Unique Aspects of Instructional Development and Curriculum Development

Dari gambar di atas, dapat dijelaskan sebagai berikut : Jikalau ada seorang guru merumuskan tujuan untuk mata pelajaran yang diampunya, maka kegiatan tersebut diklasifikasikan sebagai pengembangan pembelajaran . Di lain pihak apabila ada sekelompok guru yang merumuskan tujuan untuk digunakan pada mata pelajaran diasendiri atau bahkan untuk mata pelajaran -mata pelajaran yang lainnya, maka kegiatan tesebut dinamakan kegiatan pengembangan kurikulum

  • Karakteristik Kurikulum Pendidikan Teknologi dan Kejuruan

Pendidikan Teknologi dan Kejuruan merupakan sistem yang tidak terpisahkan dari sistem pendidikan secara menyeluruh. Meskipun demikian, kurikulum pendidikan teknologi dan kejuruan memiliki karakteristik dan kekhususan tersendiri yang membedakannya dengan sub sistem pendidikan yang lain. Perbedaan ini tidak hanya dalam definisi, struktur organisasi, dan tujuan pendidikannya saja, tetapi terlihat dari aspek lainnya yang berkaitan dengan aspek perencanaan kurikulum . Karakteristik – karakteristik dasar dari kurikulum pendidikan teknologi dan kejuruan yaitu :

Baca Juga:   Perkembangan Pendidikan Kejuruan di Indonesia

a. Orientasi

Keberhasilan utama dari kurikulum pendidikan teknologi dan kejuruan, bukan saja diukur dari pencapaian hasil belajar berupa kelulusan,  tetapi pada kemampuan para lulusan kelak di dunia kerja. Asumsi tersebut dilandasi oleh pemikiran bahwa sifat pendidikan kejuruan yang merupakan pendidikan untuk penyiapan tenaga kerja, maka dengan sendirinya orientasi pendidikan kejuruan tertuju pada output atau lulusan.

b. Justifikasi

Kurikulum pendidikan teknologi dan kejuruan didasarkan pada identifikasi kebutuhan berbagai jenis pekerjaan yang ada di lapangan.     Inilah yang menjadi alasan mengapa pendidikan teknologi dan kejuruan perlu ”diselenggarakan”. Justifikasi / alasan keberadaan pendidikan teknologi dan kejuruan didasari oleh asumsi adanya kebutuhan tenaga kerja di lapangan. Oleh karena itu, yang dimaksud justifikasi di sini adalah justifikasi untuk eksistensi. Pendidikan teknologi kejuruan ”tidak layak ada” jika di lapangan tidak dibutuhkan tenaga kerja yang akan dididik di sekolah tersebut.

c. Fokus

Fokus kurikulum pendidikan teknologi dan kejuruan tidak hanya pada aspek skill / psikomotorik seperti yang dipahami sebagian masyarakat, akan tetapi kurikulum  membantu siswa untuk  mengembangkan diri dalam seluruh aspek yaitu pengetahuan, keterampilan, sikap, dan nilai yang tujuan akhirnya untuk memberikan kontribusi untuk keberhasilan sebagai ”pekerja” atau dengan kata lain siswa dididik untuk memiliki kemampuan yang komprehensif dan simultan sehingga mampu menjadi pekerja yang ”produktif”. Mengembangkan salah aspek saja bertentangan dengan hakikat anak didik sebagai suatu totalitas pribadi.

d. Kriteria  Keberhasilan di Sekolah dan Luar Sekolah (Dual Criteria)

Berlainan dengan pendidikan umum, kriteria untuk menentukan keberhasilan suatu lembaga pendidikan kejuruan pada dasarnya menerapkan ukuran ganda, yaitu keberhasilan siswa di sekolah (in-school success) dan keberhasilan di luar sekolah (out-of-school success). Kriteria yang pertama meliputi aspek keberhasilan siswa dalam menempuh proses pembelajaran di kelas, sedang kriteria keberhasilan yang kedua diindikasikan oleh keberhasilan performance lulusan setelah berada di dunia kerja.

e. Hubungan antara Sekolah –Masyarakat dan Keterlibatan  Pemerintah

Hubungan antara sekolah dan masyarakat lebih khususnya dengan dunia industri merupakan karakteristik yang sangat penting dalam konteks pendidikan teknologi dan kejuruan. Peran masyarakat dan pemerintah dalam hal ini sama pentingnya. Masyarakat dan pemerintah memiliki tanggung jawab untuk mengembangkan pendidikan teknologi dan kejuruan. Perwujudan hubungan timbal balik yang menunjang ini mencakup adanya dewan penasehat kurikulum kejuruan (curriculum advisory committee), kesediaan dunia usaha menampung siswa pendidikan teknologi dan kejuruan dalam program kerjasama yang memungkinkan kesempatan pengalaman lapangan, informasi kecenderungan ketenagakerjaan yang selalu dijabarkan ke dalam perencanaan dan implementasi program pendidikan.

Baca Juga:   Peraturan Perundang-Undangan Pendidikan Kejuruan di Indonesia

f. Kepekaan

Kurikulum pendidikan teknologi dan kejuruan memiliki karakteristik lain yaitu kepekaan atau daya suai yang tinggi terhadap perkembangan masyarakat pada umumnya dan dunia kerja pada khususnya, hal ini dimungkinkan karena komitmen pendidikan teknologi dan kejuruan yang tinggi untuk selalu berorientasi kepada dunia kerja. Perkembangan ilmu dan teknologi, pasang surutnya suatu bidang pekerjaan, inovasi dan penemuan-penemuan terbaru dalam bidang produksi dan jasa, semuanya itu sangat besar pengaruhnya terhadap kecenderungan pendidikan teknologi dan kejuruan. Tidak terkecuali adalah mobilitas kerja baik vertikal maupun horisontal sebagai akibat perkembangan sosial kemasyarakatan yang semuanya harus diantisipasi secara cermat guna menjamin relevansi yang tinggi antara isi pendidikan teknologi dan kejuruan dan kebutuhan dunia kerja.

g. Logistik/ Sarana Prasarana dan Pembiayaan

Dalam implementasi kurikulum di pendidikan teknologi dan kejuruan , ketersediaan sarana prasarana merupakan sesuatu yang sangat penting. Kelengkapan sarana prasarana akan dapat membantu mewujudkan situasi atau pengalaman belajar yang dapat mencerminkan situasi dunia kerja secara lebih realistis dan edukatif. Bengkel dan laboratorium adalah kelengkapan yang umum menyertai keberadaan / eksistensi pendidikan teknologi dan kejuruan, selain pengalaman lapangan yang biasanya tercantum dalam kerangka kurikulumnya. Dalam konteks ini, sering dipertanyakan apakah investasi yang besar di pendidikan teknologi dan kejuruan cukup efisien dibandingkan dengan hasilnya. 

Sumber utama :

Finch Curtis.R and Crunkilton. (1984) . Curriculum Development In Vocational And Technical  Education : Planning, Content, and Implementation. Sidney. Allyn and Bacon Inc 

Demikian artikel tentang Perspektif Pengembangan Kurikulum Pendidikan Teknologi dan Kejuruan Semoga dapat dijadikan referensi, dan jika artikel ini bermanfaat bagi anda, silahkan share artikel ini. Terima kasih

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.