Pengertian Pembelajaran Konstruktivisme

Diposting pada

Pengertian Pembelajaran Konstruktivisme – Menurut Sutikno (2009:32) pembelajaran adalah “segala upaya yang dilakukan oleh guru (pendidik) agar terjadi proses belajar pada diri siswa”. Menurut Wardoyo (2013:20) pembelajaran didefenisikan sebagai perubahan dalam diri seseorang yang disebabkan oleh pengalaman. Menurut Bruning dalam Wardoyo (2013:22) Konstuktivisme merupakan perspektif psikologis dan filosofis yang memandang bahwa masing-masing individu membentuk atau membangun sebagian besar dari apa yang mereka pelajari dan pahami.

Pembelajaran Konstruktivisme menyatakan bahwa siswa harus menemukan sendiri dan mentransformasikan informasi kompleks, mengecek informasi baru dengan aturan-aturan lama. Teori konstruktivisme memandang perkembangan kognitif sebagai suatu proses dimana anak secara aktif membangun sistem makna dan pemahaman realitas melalui pengalaman-pengalaman dan interaksi mereka (Triyanto 2011:14).

Maka dapat disimpulkan pembelajaran Konstruktivisme adalah suatu teknik pembelajaran yang melibatkansiswauntuk membina sendiri secara aktif pengetahuan dengan menggunakan pengetahuan yang telah siswa miliki sebelumnya.

  1. Karakteristik Model Konstruktivisme

Menurut Pritchard dalam Wardoyo (2013:38), karakteristik pembelajaran dalam model Konstruktivisme adalah berpikir kritis, motivasi, idependensi pembelajaran, feadback, dialog, bahasa, penjelasan, bertanya, belajar melalui mengajar, kontekstualisasi, eksperimen, dan pemecahan masalah dalam dunia nyata. Menurut Nahafiah dan Suhana dalam Wardoyo (2013:39) karakteristik model Konstruktivisme adalah sebagai berikut:

  1. Proses pembelajaran berpusat pada peserta didik;
  2. Proses pembelajaran merupakan proses integrasi pengetahuan baru dan pengetahuan lama yang dimiliki peserta didik;
  3. Pandangan yang berbeda antara peserta didik dihargai sebagai tradisi dalam proses pembelajaran;
  4. Dalam proses pembelajaran peserta didik didorong untuk menemukan berbagai kemungkinan dan menyintesiskan secara terintegritas;
  5. Proses pembelajaran berbasis masalah dalam rangka mendorong peserta didik  dalam proses pencarian (inquiry) yang dialami;
  6. Proses pembelajaran mendorong terjadinya kooperatif dan kompetitif di kalangan peserta didik secara aktif, kreatif, inovatif dan menyenangkan; dan
  7. Proses pembelajaran dilakukan secara kontekstual, yaitu peserta didik  dihadapkan ke dalam pengalaman nyata.
Baca Juga:   Pengertian Minat

Sedangkan menurut Winataputra dalam Wirdoyo (2013:40) karakteristik Konstruktivisme meliputi :

  1. Mengembangkan strategi alternatif untuk memperoleh dan menganalisis informasi;
  2. Dimungkinkannya perspektif jamak (multiple perspective) dalam proses belajar;
  3. Peran utama siswa dalam proses belajar;
  4. Penggunaan scaffolding dalam pembelajaran;
  5. Pendidik lebih sebagai tutor,  fasilitator dan mentor; dan
  6. Kegiatan dan evaluasi belajar otentik.

Dari beberapa karakteristik model Konstruktivisme diatas dapat disimpulkan bahwa model Konstruktivisme memiliki karakteristik dalam proses pembelajaran adalah berpusat pada siswa, adanya masalah, proses menemukan, interaksi sosial, dan pengetahuan atau pemahaman baru.

  1. Langkah-langkah Pembelajaran  Konstruktivisme

Menurut Jasumayanti, (2011:4) Langkah pembelajaran Konstruktivisme sebagai berikut :

  1. Tahap appersepsi, ini berguna untuk mengungkapkan konsep awal siswa,  siswa didorong agar mengemukakan pengetahuan awalnya tentang konsep yang akan dibahas. Bila perlu guru memancing dengan pertanyaan-pertanyaan problematis tentang fenomena yang sering dijumpai sehari-hari oleh siswa dan mengkaitkannya dengan konsep;
  2. Tahap eksporasi, mengkomunikasikan dan mengilustrasikan pemahamannya tentang konsep tersebut;
  3. Tahap diskusi dan penjelasan konsep;
  4. Tahap pengembangan dan aplikasi konsep. Guru berusaha menciptakan iklim pembelajaran yang memungkinkan siswa dapat mengaplikasikan pemahaman konseptualnya, baik melalui kegiatan maupun melalui pemunculan masalah-masalah yang berkaitan dengan isu-isu dalam lingkungan siswa tersebut.

Menurut Riyanto (2010:151) langkah-langkah Konstruktivisme sebagai berikut :

  1. Fase Eksplorasi

Dalam fase ini seorang guru memancing pengetahuan awal siswa mengenai materi yang akan dipelajari pada saat itu.

Baca Juga:   Pengertian Kreativitas Belajar

  1. Fase Klarifikasi

Pada fase ini informasi berupa pengetahuan awal siswa diperdalam agar bisa menambah pengetahuan siswa mengenai materi yang dipelajari.

  1. Fase Aplikasi

Pada fase ini guru mengevaluasi kegiatan pembelajaran yang telah dipelajari agar bisa mengetahui apakah perencanaan sesuai dengan pelaksanaan.

  1.  Kelebihan dan Kekurangan  Pembelajaran Konstruktivisme

Menurut Suwana (2013:5) kelebihan model belajar Konstruktivisme adalah:

  1. Melatih sistematika berpikir;
  2. Memotivasi untuk berbuat lebih kreatif; dan
  3. Memberikan lingkungan belajar yang kondusif berupa lingkungan alam sebagai sumber belajar.

Sedangkan menurut Suwana (2013:5) kelemahan model belajar Konstruktivisme adalah: perlu latihan adaptasi lebih dahulu untuk dapat belajar mandiri dalam mengkontruksi pengetahuannya.

Menurut Jasumayanti (2013:3) beberapa kelebihan dari pendekatan  Konstruktivisme  dalam pembelajaran di sekolah adalah sebagai berikut:

  1. Dapat membiasakan siswa secara mandiri dalam mecahkan masalah;
  2. Menciptakan kreatifitas untuk belajar sehingga tercipta suasana kelas yang lebih nyaman dan kreatif;
  3. Terjalin kerja sama dan siswa terlibat langsung dalam melakukan kegiatan;
  4. Dapat menciptakan  pembelajaran lebih bermakna karena timbulnya kebanggaan siswa menemukan sendiri konsep yang sedang dipelajari dan siswa akan merasa bangga dengan hasil temuannya; dan
  5. Melatih siswa berfikir kritis dan kreatif.

Sedangkan, beberapa kekurangan dari pendekatan Konstruktivisme Menurut Jasumayanti (2013:3) adalah:

  1. Sulit mengubah keyakinan guru yang sudah terstruktur bertahun-tahun menggunakan pendekatan tradisional;
  2. Guru Konstruktivis dituntut lebih kreatif dalam merencakan pelajaran dan memilih atau menggunakan media; dan
  3. Siswa dan orang tua mungkin memerlukan waktu beradaptasi dengan proses belajar dan mengajar yang baru.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.