Pengertian Kemampuan Berpikir Kritis

Diposting pada

Tradisi berpikir Kritis Sudah lama ada dan masih terus berkembang (Fisher, 2009:13). Ennis (Kuswana, 2012:196) mendefinisikan  “Berpikir kritis adalah berpikir yang wajar dan reflektif yang berfokus pada memutuskan apa yang harus diyaikini atau dilakukan”. Paul (Kuswana, 2012: 205) menyatakan

Berpikir kritis merupakan suatu disiplin mandiri yang mencontohkan kesempurnaan berpikir sesuai dengan mode tertentu atau ranah berpikir. Konsepnya terdapat dua bentuk, jika berpikir adalah disiplin untuk melayani kepentingan individu tertentu atau kelompok dengan mengesampingkan lainnya yang relevan baik individu maupun kelompok , disebut berpikir akal sophistic atau kritis lemah. Jika berpikir disiplin memperhitungkan kepentingan orang yang beragam atau kelompok, disebut berpikiran adil atau kritis kuat.

Glaser (Fisher, 2009: 3) mendefinisikan berfikir kritis sebagai:

  1. Suatu sikap mau berfikir secara mendalam tentang masalah-masalah dan hal-hal yang berada dalam jangkauan pengalaman seseorang.
  2. Pengetahuan tentang metode-metode pemeriksaan dan penalaran yang logis
  3. Semacam suatu keterampilan untuk menerapkan metode-metode tersebut

Berpikir kritis menuntut upaya keras untuk memeriksa setiap keyakinan atau pengetahuan asumtif berdasarkan bukti pendukungnya dan kesimpulan-kesimpulan lanjut yang diakibatkannya.Menurut Paul (Fisher, 2009: 4) berfikir kritis adalah mode berfikir-mengenai hal, subtansi atau masalah apa saja di mana si pemikir meningkatkan kualitas pemikirannya dengan menangani secara terampil stuktur-struktur yang melekat dalam pemikiran dan menerapkan standar-standar intelektual padanya.

Berdasarkan beberapa pendapat tersebut maka dapat disimpulkan berpikir kritis merupakan sebuah kemampuan yang penting karena dapat mencegah orang untuk membuat keputusan yang salah serta dapat memecahkan masalah yang dihadapi. Tidak semua orang memiliki kemampuan berpikir kritis, karena untuk melaksanakan berpikir kritis membutuhkan atau menuntut waktu dan kedisiplinan. Artinya pada waktu berpikir, mengembangkan ide-ide, dan menyatakan pendapat merupakan hal yang penting untuk secara aktif dapat menjawab pertanyaan dan pemikiran yang kritis dan direncanakan serta mengaplikasikannya dalam kehidupan nyata atau kehidupan sehari-hari.

Baca Juga:   Pengertian Pengelolaan Kelas

  1. Indikator Kemampuan Berpikir Kritis

Kemampuan berpikir kritis mengacu pada indikator yang dikembangkan oleh Linn dan Grondlund (Sartika, 2013: 47) yaitu sebagi berikut

  1. Ciri-ciri kemampuan berpikir kritis

Menurut Dewey (Sihotang dkk 2012: 3), berpikir kritis adalah :

  • Pertimbangan yang aktif, terus menerus dan teliti mengenai sebuah keyakinan atau bentuk pengetahuan yang diterima begitu saja dengan menyertakan alasan-alasan yang mendukung dan kesimpulan-kesimpulan yang rasional. Dewey menunjukkan dua ciri utama berpikir aktif, yakni berpikir secara terus menerus dan teliti”. 

Bailin (kuswana, 2012: 215) mengidentifikasikan daftar kebiasaan yang harus dikembangan untuk berpikir kritis, yaitu :

  1. Menghormati alasan dari suatu kebenaran,
  2. Menghargai hasil pemikiran yang berkualitas tinggi,
  3. Sikap bertanya,
  4. Membuka jalan pikiran,
  5. Pikiran yang wajar,
  6. Kemerdekaan pemikiran.
  1. Manfaat berpikir kritis

Menurut Ennis (Kuswana, 2012: 198) Pemikir kritis ideal memiliki kemampuan untuk :

  1. Menjelaskan

     

    1. Mengidentifikasi fokus masalah, pertanyaan dan kesimpulan.
    2. Menganalisis argument.
    3. Bertanya dan menjawab pertanyaan kualifikasi atau tantangan.
    4. Mendefinisikan istilah keputusan dan menangani sesuai alasan.
  1. Menilai dasar keputusan

     

    1. Menilai kredibilitas sumber.
    2. Mengamati dan menilai laporan observasi.
  1. Menduga
  1. Mengidentifikasi asumsi tak tertulis.
  2. Menyimpulkan dan menilai keputusan.
  3. Menilai induksi dan generalisasi :

     

    1. Generalisasi
    2. Kejelasan kesimpulan
  4. Membuat dan menilai pertimbangan nilai
  1. Membuat pengandaian dan mengintegrasikan kemampuan

     

    1. Mempertimbangkan alasan tanpa membiarkan ketidaksepakatan atau keraguan yang mengganggu pemikiran (berpikir yang disangka benar).
    2. Mengintegrasikan kemampuan lain dan disposisi dalam membuat dan mempertahankan keputusan.
  1. Menggunakan kemampuan berpikir kritis

     

    1. Dilakukan secara tertib sesuai situasi, seperti :

       

      1. Tindak lanjut langkah-langkah pemecahan masalah.
      2. Memantau pemikiran.
      3. Menandai pemikiran kritis yang rasional.
    2. Peka terhadap perasaan, tingkat pengetahuan dan derajat kehebatan orang lain.
    3. Menerapkan strategi retorika yang tepat dalam diskusi dan presentasi.
Baca Juga:   Pengertian Kecerdasan Intelektual

Menurut Lipman (Kuswana, 2012 :204) menyebutkan bahwa:

Tujuan dan hasil pemikiran merupakan pertimbangan yang baik, dan penilaian adalah bermakna. Dia memandang nilai berpikir dan belajar sebagai pencarian aktif kebermaknaan., tapi lebih jauh dengan alasan bahwa mengidentifikasi membentuk hubungan dan penilaian merupakan aspek penting dari sekolah dalam rangka mengembangkan makna dan secara mandiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.