Pengertian Berbicara

Diposting pada

Pengertian Berbicara – Berbicara merupakan kemampuan atau kesanggupan seseorang dalam mengucapkan kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan, serta menyampaikan gagasan dan perasaannya secara lisan kepada orang lain.

Menurut Tarigan, (2008: 16) “berbicara adalah kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekpresikan, menyatakan, atau menyampaikan pikiran, gagasan, dan perasaan”.

Menurut Nurgiyantoro, (2010: 399) “ berbicara adalah aktivitas berbahasa kedua yang dilakukan manusia dalam kehidupan bahasa setelah mendengarkan”.

Kegiatan berbicara merupakan kegiatan yang kompleksdan berbeda dari ketiga aspek keterampilan berbahasa lainnya. Hal ini disebabkan selama kegiatan berbicara seseorang tidak hanya mengekspresikan, mengungkapkan ide/gagasan dan perasaan kepada orang lain, tetapi lebih jauh lagi berbicara merupakan suatu bentuk perilaku manusia yang memanfaatkan faktor-faktor fisik, psikologi, semantik, dan linguistik. Kegiatan berbicara juga memanfatkan otot dan jaringan tubuh manusia untuk menunjang maksud dan tujuan berbicara.

Hal ini sesuai dengan pendapat Tarigan, (2008: 16) yang menyatakan berbicara merupakan suatu sistem tanda-tanda yang dapat didengar ( audible ) dan yang kelihatan ( visible ) yang memanfaatkan sejumalah otot dan jaringan otot tubuh manusia demi maksud dan tujuan gagasan-gagasan atau ide-ide yang dikombinasikan. Dengan demikian berbicara itu lebih daripada hanya sekedar mengucapkan bunyi-bunyi atau kata-kata. Berbicara adalah suatu alat untuk mengkomunikasikan gagasan-gagasan yang disusun serta dikembangkan sesuai dengan kebutuhan pendengar atau penyimak. Dalam kegiatan berbicara tidak hanya suara yang dapat didengar secara lisan oleh penyimak tetapi dapat pula dilihat penyimak gerakan-gerakan atau mimik si pembicara yang menunjang pokok pembicaraan, sehingga yang diutarakan pembicara dapat dipahami pendengar/penyimak. Pemahaman penyimak tentang sesuatu yang dibicarakan merupakan hal yang sangat diperlukan, karena hal tersebut dapat menimbulkan hubungan timbal balik antara pembicara dengan penyimak.

  1. Tujuan Berbicara

Secara umum tujuan berbicara adalah untuk berkomunikasi kepada orang lain. Kegiatan berbicara dikatakan berhasil apabila apa yang ingin disampaikan oleh pembicara persis sama dengan apa yang dipahami oleh pendengar.

Menurut Tarigan, (2008: 17) Pada dasarnya berbicara mempunyai tiga tujuan umum, yaitu

  1. Memberitahukan dan melaporkan (to inform)

Didalam tujuan ini, pembicara hanya sekedar memberitahukan atau menyampaikan informasi kepada lawan bicara atau pendengar. Dalam hal ini biasanya pembicara tidak perlu menghiraukan tanggapan. Berbicara untukmelaporkan atau memberikan informasi menurut Tarigan dapat dilaksanakan kalau seseorang berkeinginan untuk ;

  1. Memberi atau menanamkan pengetahuan;
  2. Menetapkan atau menentukan hubungan-hubungan antara benda
  3. Menerangkan atau menjelaskan suatu proses
  4. Menginterpretasikan atau menafsirkan sesuatu persetujuan ataupun

menguraikan tulisan (Tarigan, 2008: 30). Semua hal tersebut merupakan situasi informative karena masing-masing ingin membuat pengertian atau makna-makna menjadi jelas.

  1. Manjamu dan menghibur (to entertain)

Tujuan yang ingin dicapai pembicara dalam pembicaraan yang bertujuan menyenangkan ini adalah suasana yang gembira dikalangan para pendengar. Pembicara harus dapat memberikan kesenangan, kegembiraan, kepada para pendengar agar hati para pendengar semakin tertarik terhadap maksud dan tujuan pembicara. Oleh sebab itu, pembicara seperti ini dikatakan bersifat rekreatif, artinya dapat menghibur atau menyenangkan pendengar. ( Ochs dan winker dalam Tarigan, 2008: 17).

  1. Membujuk, mengajak, mendesak, dan meyakinkan ( to persuade )         Tujuannya adalah untuk meyakinkan atau memberi penjelasan agar lawan bicara tahu permasalahan yang sebenarnya. Pembicara memberi penjelasan disertai dengan bukti-bukti atau contoh-contoh atau menunjukan sebab akibat yang mungkin terjadi sehingga lawan bicara yakin dengan apa yang diuraikan pembicara.
  1. Jenis-Jenis Berbicara

Menurut Tarigan (2008: 24 ) secara garis besar, berbicara (speaking ) terbagi atas:

  1. Berbicara di muka umum (Public Speaking) yang mencakup empat jenis, yaitu:
  1. Berbicara bersifat pemberitahuan atau melaporkan

Berbicara untuk melaporkan adalah untuk memberikan informasi yang berkaitan dengan pengetahuan, hubungan-hubungan antar benda-benda, menerangkan atau menjelaskan suatu proses dan menginterprestasikan atau menafsirkan sesuatu persetujuan ataupun menguraikan sesuatu tulisan.

  1. Berbicara bersifat kekeluargaan.

Kesempatan-kesempatan bagi pembicara yang bersifat kekeluargaan adalah: Pidato sambutan selamat datang, pidato penampilan, penyajian, dan perkenalan, pidato pembukaan suatu upacara, pembicaraan sesudah makan, pidato atau sambutan pada saat memperingati hari jadi dan ulang tahun, dan pidato atau sambutan penghiburan atau pertunjukan.

  1. Berbicara bersifat bujukan atau meyakinkan
Baca Juga:   Pengertian Prestasi Belajar

Dalam hal ini seorang pembicara harus bisa meyakinkan dan memikat atau memiliki daya tarik terhadap pendengar.

  1. Berbicara bersifat perundingan.

Berbicara untuk merundingkan bertujuan untuk membuat sejumlah keputusan dan rencana.

  1. Berbicara pada konferensi yang meliputi:
  1. Diskusi kelompok
  2. Prosedur parlementer (pembuat kebijaksanaan)
  3. Debat.
  1. Faktor Penunjang Keefektifan Berbicara

Faktor yang harus diperhatikan oleh pembaca untuk mengefektifkan

berbicara mencakup dua faktor

  1. Faktor kebahasaan meliputi:
  1. Ketetapan ucapan

Seseorang pembicara harus membiasakan diri mengucapkan bunyi-bunyi bahasa secara tepat. Pengucapan bunyi bahasa yang kurang tepat, dapat mengalihkan perhatian pendengar atau penyimak. Pola ucapan dan artikulasi yang kita gunakan tidak selalu sama, masing-masing kita mempunyai gaya tersendiri dan gaya bahasa yang berubah-ubah sesuai dengan pokok pembicaraan, perasaan, dan sasaran. Akan tetapi apabila perbedaan itu terlalu besar sehingga menyebabkan penyimpangan, maka keefektifan komunikasi akan terganggu. Demikian juga pengucapan tiap suku kata, sering kita mendengar pembicara mengucapkan kata-kata yang tidak jelas suku katanya. Sehingga ketepatan ucapan sangat penting bagi seorang pembicara supaya apa yang ingin disampaikan bisa dipahami dengan baik oleh pendengar dan proses komunikasinya akan berjalan lancar.

  1. Penempatan tekanan, nada, sendi, dan durasi yang sesuai

Kesesuaian tekanan, nada, sendi dan durasi merupakan daya tarik tersendiri dalam aktivitas berbicara dan faktor penentu keefektifan berbicara. Walaupun masalah yang dibicarakan kurang menarik, tetapi apabila disajikan dengan penempatan tekanan, nada, sendi, dan durasi yang sesuai, maka masalahnya akan menjadi menarik. Sebaliknya jika penyampaiannya disampaikan dengan cara monoton atau datar saja, maka akan menimbulkan kebosanan bagi pendengar.

  1. Pilihan kata (diksi)

Pilihan kata yang digunakan dalam aktivitas berbicara hendaknya tepat, jelas, dan bervariasi. Pendengar akan lebih tertarik mendengarkan apa yang kita sampaikan, jika kata-kata yang kita gunakan sesuai dengan tujuan dan pendidikan pendengar dan siapa pendengar itu sendiri.

  1. Ketepatan sasaran pembicaraan

Pembicaraan yang menggunakan kalimat yang efektif akan memudahkan pendengar memahami isi pembicaraan. Keteraturan penuturan kalimat sangat besar pengaruhnya terhadap keefektifan berbicara. Seorang pembicara harus mampu menyusun kalimat efektif, kalimat yang mengenai sasaran, sehingga mampu menimbulkan pengaruh, kesan atau akibat. Kalimat yang efektif mempunyai ciri-ciri keutuhan, keterpautan, pemusatan, perhatian dan kehematan. Ciri keutuhan akan terlihat jika setiap kata benar-benar merupakan bagian yang terpadu dari sebuah kalimat. Kalimat dikatakan efektif apabila mampu membuat proses penyampaian dan penerimaan berlangsung sempurna. Namun pembicara harus tahu siapa pendengarnya dan menyesuaikan gaya kalimatnya dengan pendengar dan memperhatikan ciri-ciri kalimat efektif.

  1. Faktor Non Kebahasaan yang meliputi:
  1. Sikap yang wajar, tenang dan tidak kaku.

Pembicara yang tidak tenang, lesu, dan kaku tentu akan memberikan kesan pertama yang kurang menarik. Padahal kesan pertama sangat penting untuk menjamin adanya keseimbangan perhatian pihak pendengar. Penugasan materi yang baik, setidaknya akan menghilangkan kegugupan. Namun, sikap ini memerlukan suatu latihan yang akan membuat seseorang terbiasa melakukan aktivitas berbicara, baik didalam forum resmi, maupun tidak resmi, maka pada saat melakukan aktivitas berbicara akan timbul sikap tenang dan wajar.

  1. Pandangan harus diarahkan kepada lawan bicara

Dalam aktivitas berbicara, pandangan pembicara harus mengarah kepada lawan bicara atau pendengar agar pendengar dapat fokus atau dapat menyimak materi yang dibicarakan dengan baik. Pandangan yang hanya mengarah kepada satu arah akan menyebabkan pendengar merasa kurang diperhatikan. Akibatnya perhatian pendengar tidak terlalu fokus kepada pembicara.

  1. Kesediaan menghargai pendapat orang lain

Dalam menyampaikan materi, seorang pembicara hendaknya memiliki sikap terbuka, dengan kata lain dapat menerima pendapat dari orang lain, pembicara juga harus bisa menerima kritikan dan saran dari orang lain serta bersedia mengubah pendapatnya apabila memang keliru.

  1. Gerak gerik dan mimik yang tepat

Gerak gerik dan mimik yang tepat dapat pula menunjang keefektifan berbicara. Hal-hal yang penting selain mendapat penekanan, biasanya juga dibantu dengan gerak tangan dan mimik wajah. Hal ini dapat menghidupkan suasana agar tidak terlihat kaku. Tetapi perlu diperhatikan juga, gerak gerik yang berlebihan juga dapat menggangu keefektifan berbicara. Apabila pembicara melakukan gerak gerik yang berlebihan, maka perhatian pendengar tidak lagi pada materi atau hal yang pembicara sampaikan tetapi pendengar akan lebih tertarik memperhatikan gerak gerik dan mimik yang dilakukanpembicara itu sendiri.

Baca Juga:   Pengertian Kemampuan Berpikir Kritis

  1. Kenyaringan suara

Tingkat kenyaringan suara tentu harus disesuaikan dengan situasi, kondisi, tempat, jumlah pendengar dan akustik. Pembicara harus dapat mengatur atau menyesuaikan kenyaringan suaranya agar dapat didengar dan disimak dengan baik dan jelas oleh semua pendengar.

  1. Kelancaran

Seorang pembicara yang lancar dalam berbicara akan memudahkan pendengar memahami isi pembicaraan. Seringkali kita mendengar, pembicara yang berbicaranya terputus-putus dan tersendat-sendat yang diselipkan bunyi-bunyi tertentu atau pembicara yang belum terlalu lancar dalam berbicara atau masih kaku, tentu sangat mengganggu konsentrasi pendengar. Sebaliknya, pembicara yang terlalu cepat berbicara juga akan menyulitkan pendengar memahami pokok pembicaraan.

  1. Relevansi atau penalaran Penugasan topik.

Gagasan-gagasan yang ingin disampaikan harus berhubungan dan logis. Hal ini berarti hubungan bagian-bagian dalam kalimat harus logis dan berhubungan dengan pokok pembicaraan.

  1. Penugasan topik

Pembicaraan formal selalu menuntut persiapan. Tujuannya agar topik yang dipilih benar-benar dikuasai oleh seorang pembicara.penugasan topik yang baik akan menumbuhkan keberanian dan kepercayaan diri yang kuat. ( sumber: Lynet, 2012: 18).

  1. Berbicara Sebagai Suatu Cara Berkomunikasi

Manusia adalah makhluk individu dan makhluk sosial (Sardiman, 2014 : 1). Tindakan pertama dan paling penting, adalah tindakan sosial, suatu tindakan yang tepat untuk saling menukar pengalaman, saling mengemukakan dan menerima pikiran, saling mengutarakan perasaan atau saling mengekspresikan, serta menyetujui suatu pendirian atau keyakinan. Oleh karena itu, di dalam tindakan sosial haruslah terdapat elemen-elemen umum, yang sama-sama disetujui dan dipahami oleh sejumlah orang yang merupakan suatu masyarakat. Untuk menghubungan sesama anggota masyarakat maka diperlukan suatu komunikasi yang baik.

Komunikasi mempersatukan para individu kedalam kelompok-kelompok dengan jalan menggolongkan konsep-konsep umum. Selain itu komunikasi juga dapat menciptakan serta mengawetkan ikatan-ikatan kepentingan umum, menciptakan kesatuan lambang-lambang yang membedakannya dari kelompok-kelompok lain, dan menetapkan suatu tindakan. Oleh sebab itu hal tersebut tidak akan ada serta tidak akan bertahan lama tanpa adanya masyarakat-masyarakat bahasa.Dengan perkataan lain: masyarakat berada dalam komunikasi linguistik.

Menurut Power dalam Tarigan, (2008: 9) mengemukakan bahwa ujaran sebagai suatu cara berkomunikasi yang sangat penting dan dapat mempengaruhi kehidupan individu. Dalam sistem inilah kita saling bertukar pendapat, gagasan, perasaan, dan keinginan dengan bantuan lambang-lambang yang disebut kata-kata. Sistem inilah yang memberikan keefektifan bagi individu dalam mendirikan hubungan mental dan emosional dengan anggota-anggota lainnya. Tidak perlu disangsikan lagi bahwa ujaran hanyalah merupakan ekspresi dari gagasan pribadi seseorang, dan menekankan hubungan-hubungan yang bersifat dua arah, yaitu memberi dan menerima.

Berdasarkan pemaparan di atas, dapat kita ketahui batapa besar peranan bahasa dalam kehidupan manusia. Menurut Anderson dalam Tarigan, (2008: 9) ada 8 prinsip (linguistik) dasar, yaitu:

  1. Bahasa adalah suatu sistem;
  2. Bahasa adalah vokal (bunyi ujaran);
  3. Bahasa tersusun dari lambang-lambang mana suka;
  4. Setiap bahasa bersifat unik atau khas;
  5. Bahasa tercipta atas kebiasaan-kebiasaan;
  6. Bahasa adalah alat berkomunikasi;
  7. Bahasa berhubungan dengan kebudayaan tempatnya berada dan
  8. Bahasa itu berubah-ubah.

Komunikasi dapat dipandang sebagai suatu kombinasi perbuatan-perbuatan atau tindakan yang berkaitan dengan serangkaian unsur-unsur yang mengandung maksud dan tujuan. Komunikasi bukan melulu merupakan suatu kejadian, peristiwa atau sesuatu yang terjadi. Akan tetapi komunikasi adalah sesuatu yang fungsional, mengandung maksud, dirancang untuk menghasilkan berberapa efek atau akibat pada lingkungan para penyimak dan para pembicara. Komunikasi adalah serangkaian perbuatan komunikasi atau speech acts yang dipergunakan secara sistematis untuk menyelesaikan atau mencapai maksud-maksud tertentu.

Sejalan dengan itu, menurut Halliday dalam Tarigan (2008: 12) merangkumkan ada 7 jenis fungsi bahasa, yaitu:

  1. Fungsi instrumental, bertindak untuk menggerakan serta memanipulasi lingkungan, menyebabkan peristiwa-peristiwa tertentu terjadi.
  2. Fungsi regulasi, atau fungsi pengaturan dari bahasa merupakan pengawasan terhadap peristiwa-peristiwa.
  3. Fungsi refresentasional, adalah penggunaan bahasa untuk membuat pernyataan-pernyataan, menyampaikan fakta-fakta dan pengetahuan, menjelaskan atau melaporkan dalam pengertian “ menggambarkan” realitas yang terlihat oleh seseorang.
  4. Fungsi interaksional, bahasa bertindak untuk menjamin pemeliharaan sosial.
  5. Fungsi personal, membolehkan seseorang pembicara menyatakan perasaan, emosi, kepribadian, reaksi-reaksi yang terkandung dalam hati sanubarinya.
  6. Fungsi heuristik, melibatkan bahasa yang dipergunakan untuk memperoleh pengetahuan memelajari lingkungan
  7. Fungsi imajinatif,  bertindak untuk menciptakan sistem-sistem atau gagasan imajiner (menceritakan kisah dongeng, membuat lelucon, atau menulis novel).
Baca Juga:   Pengertian Tentang Kemampuan Membaca

Dari ketujuh fungsi bahasa yang telah dipaparkan, perlu untuk disadari bahwa dalam berbicara/berkomunikasi tidaklah terpisah dari ketujuh fungsi tersebut. Sebuah kalimat atau suatu ucapan mungkin saja sekaligus mengandung beberapa fungsi secara bersamaan.

  1. Kompetensi Berbicara

Berbicara adalah aktivitas berbahasa kedua yang dilakukan manusia dalam kehidupan bahasa setelah mendengarkan. Untuk dapat berbicara dengan baik pembicara harus menguasai lafal, struktur, dan kosakata yang bersangkutan serta penguasaan terhadap suatu masalah atau gagasan yang akan disampaikan serta kemampuan memahami bahasa lawan bicara. Dalam situasi yang normal, orang melakukan kegiatan berbicara dengan motivasi ingin mengemukakan sesuatu kepada orang lain atau inginn memberikan reaksi terhadap sesuatu yang didengar. Dalam kompetensi berbicara ini menghendaki peserta didik dapat menguasai tahap elementer dalam suatu bahasa atau paling tidak sudah dapat menggunakan bahasa untuk aktivitas berbicara. Tugas-tugas kompetensi berbicara terbagi menjadi dua (2) yaitu:

  1. Tugas berbicara otentik

Dalam tugas berbicara otentik terdapat dua hal pokok yaitu benar-benar tampil berbicara (kinerja bahasa) dan isi pembicaran mencerminkan kebutuhan realitas kehidupan (bermakna). Dalam asesmen otentik peserta didik tidak sekedar ditugasi untuk berbicara dalam arti sekedar praktik menggunakan bahasa secara lisan, melainkan juga menyangkut isi pesan yang dijadikan bahan pembicaraan. Jadi tugas berbicara otentik mengambil model aktivitas bentuk-bentuk berbicara sehari-hari sehingga kompetensi yang dikuasai peserta didik bersifat aplikatif.

  1. Bentuk tugas kompetensi berbicara

Ada banyak bentuk tugas kompetensi berbicara yang dapat diberikan kepada peserta didik untuk mengukur kemampuan berbicaranya. Bentuk tugas yang dipilih harus yang memungkinkan peserta didik untuk tidak saja mengekpresikan kemampuan berbahasanya, melaikan peserta didik juga harus mampu mengungkapkan pikiran, gagasan, perasaan, atau menyampaikan informasi. Dengan demikian, tes tersebut bersifat fungsional dan dapat juga mengungkapkan kemampuan peserta didik berbicara dalam pemakaian bahasa secara normal atau maksimal. Contoh bentuk tugas kompetensi berbicara yaitu:

  • berbicara berdasarkan gambar

Untuk mengungkapkan kemampuan berbicara siswa dalam suatu bahasa, gambar dapat dijadikan ransangan pembicaraan yang baik. Ransang berupa gambar sangat baik digunakan untuk anak-anak usia sekolah dasar dengan menyusun gambar-gambar yang menarik perhatian peserta didik. Ransang gambar yang dipakai sebagai ransang berbicara dapat dikelompokan kedalam gambar objek, dan gambar cerita. Gambar objek merupakan gambar tentang objek tertentu seperti binatang, kendaraan, pakaian, dan alam. Gambar cerita adalah gambar susun yang terdiri dari sejumlah panel gambar yang saling berkaitan secara keseluruhan membentuk sebuah cerita

  • berbicara berdasarkan ransang suara

Tugas berbicara berdasarkan rangsng suara yang lazim digunakan adalah suara yang berasal dari siaran radio atau rekaman.

  • Berbicara berdasarkan ransang visual dan suara

Berbicara berdasarkan rangsang visual dan suara adalah berbicara berdasarkan sesuatu yang dapat dilihat dan didengar salah satu contoh ransang visual dan suara yaitu siaran televisi, dan video.

  • Bercerita

Ransang yang dapat dijadikan bahan bercerita dapat berupa buku yang sudah dibaca (fiksi dan cerita lama), berbagai pengalaman ( pengalaman berpergian, berlomba, dan seminar).

  • Indikator Penilaian Kemampuan Berbicara

Indikator penilaian kemampuan berbicara meliputi: kesesuaian dengan gambar, ketepatan logika urutan cerita, ketepatan makna keseluruhan cerita, ketepatan kata, ketepatan kalimat, dan kelancaran. (sumber: Nurgiyantoro, 2010: 406).

Demikian ulasan singkat tentang Pengertian Berbicara semoga dapat bermanfaat bagi anda, dan jika ulasan singkat ini dirasa dapat dijadikan referensi silahkan bagikan artikel ini. terima kasih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.