Pengertian Kreativitas Belajar

Diposting pada

Pengertian kreativitas menunjukkan kemampuan siswa dalam menciptakan hasil karya yang baru yang merupakan produk-produk kreasi. Djamarah (2012: 16), menuliskan bahwa,  Kreativitas ialah kemampuan berpikir tentang sesuatu dengan cara baru dan tak bisa menghasilkan solusi yang unik atas suatu problem. Selanjutnya Samsunuwiyati (2010: 175), berpendapat bahwa, “kreativitas merupakan konsep yang majemuk dan multidimesional, sehingga sulit difenisikan secara operasional.” Munandar (2009: 16), mengemukakan, “Kreativitas adalah kecenderungan untuk mengaktualisasi diri, mewujudkan potensi, dorongan untuk berkembang dan menjadi matang, kecenderungan untuk mengekpresikan dan mengkatifkan semua kemampu. Sidjabat,  (2009: 237),  mengatakan bahwa “Metode mengajar yang perlu kita pilih dan kembangkan haruslah kreativitas sedemikian rupa.

Pendekatan mengajar kreativitas itu menekankan kegiatan peserta didik (pelajar yang aktif) sebagai pelaku kegiatan belajar (subjek), sedangkan guru hanya berperan sebagai pembimbing, pemberi arah dan bantuan seperlunya”. Kegiatan belajar kreatif tentunya berlangsung dengan beragam metode agar dapat menumbuhkan kreativitas baru dalam pemikiran, perasaan, dan sikap peserta didik sehingga terus bergairah mengikuti kegiatan belajar. Rusman (2014: 324),  menuliskan bahwa “Pembelajaran kreatif merupakan proses pembelajaran yang mengharuskan guru untuk dapat memotivasi dan memunculkan kreativitas siswa selama pembelajaran berlangsung, dengan menggunakan beberapa metode dan strategi yang bervariasi, misnyanya kerja kelompok, bermain peran, dan pemecahan masalah”. Pembelajaran kreatif menuntut guru untuk merangsang kreativitas siswa, baik dalam mengembangkan kecakapan berpikir maupun dalam melakukan suatu tindakan. Berpikir kreatif selalu dimulai dengan berpikir kritis.

Munandar ( 2012 : 17), meningkatkan kreativitas merupakan bagian integral dari kebanyakan program untuk anak berbakat. Jika kita tinjau tujuan program atau sasaran belajar siswa, kreativitas biasanya disebut sebagai prioritas. Hal ini dapat dipahami jika kita melihat dasar pertimbangan (rasional) mengapa kreativitas perlu dipupuk dan dikembangkan.

Hal ini tidak berarti bahwa kreativitas harus dilihat terpisah dari mata ajaran lainnya. Kreativitas hendaknya meresap dalam seluruh kurikulum dan iklim kelas melalui faktor-faktor seperti sikap menerima keunikan individu, pertanyaan yang berakhir terbuka, penjajakan dan kemungkinan membuat pilihan. Untuk menganjurkan dan mempraktekkan ‘kreativitas’ sebagai mata ajaran tersendiri, lepas dari bahan materi tertentu; misalnya untuk melatih berpikir kreatif tidak perlu dikaitkan dengan mata ajaran tertentu. Hal ini memang mempunyai manfaaf tertentu. Namun, lebih dari itu, perhatian perlu diberikan bagaimana kreativitas dapat dikaitkan dengan semua kegiatan di dalam kelas dan setiap saat.

Kreativitas membantu untuk memotivasi siswa belajar, maka diharapkan hasil belajar siswa menjadi baik, dan untuk mewujudkan perkembangan kreativitas siswa agar adanya sikap siswa tersebut perlu kesabaran di dalam belajar kreativitas dan menguatkan mental yang kuat membuat produk, karya-karya baru, gagasan-gagasan yang baik.

Secara harfiah kreativitas dapat diartikan sebagai kemampuan yang mencerminkan kelancaran, keluwesan, orisinalitas berpikir dan kemampuan yang elaborasi (mengembangkan, memperkaya, merinci) suatu gagasan atau merangsang kreativitas anak dapat dilakukan dengan mengenalkan pada bahasa gambar. Dengan menggambar anak-anak dilatih untuk menuangkan apa yang mereka pikirkan ke dalam bentuk visual.

Perlu kita perhatikan bersama-sama, kreativitas pada anak tidak diukur dari bagaimana ia menggambarkan sesuatu dengan bagus dan sempurna. Hal ini dikarenakan pada dasarnya kesempurnaan bentuk pada gambar merupakan hasil dari proses perkembangan motorik dengan kreativitas itu sendiri. Anak dikatakan kreatif apabila ia bisa dengan lancar menuangkan ide, pikiran bahkan terkadang emosinya sendiri dan menceritakannya dalam bentuk gambar.

Berdasarkan pendapat pada ahli di atas, maka kreativitas dapat dirumuskan sebagai suatu proses aktivitas kognitif seseorang untuk melahirkan sesuatu yang baru, baik berupa karya baru maupun karya kombinasi yang semua itu relatif berbeda dengan apa yang ada sebelumnya. Dalam mengembangkan siswa kreatif terdapat dalam kemampuan berpikir kreativitas. Kreativitas merupakan konsep yang majemuk dan  selalu melihat segala sesuatu dengan cara berbeda dan baru, dan biasanya tidak dilihat oleh orang lain. Orang yang kreatif, pada umumnya mengetahui permasalahan dengan sangat baik dan disiplin, biasanya dapat melakukan sesuatu yang menyimpang dari cara-cara tradisional. Proses kreativitas melibatkan adanya ide-ide baru, berguna, dan tidak terduga tetapi dapat diimplementasikan.

Baca Juga:   Unsur-Unsur Dalam Novel

b. Ciri-ciri Kreativitas

Ciri-ciri kreativitas yang dapat menunjukkan sejauh mana kualitas kreativitas yang dimiliki siswa. (Asrori 2009: 67) adalah memiliki rasa ingin tahu yang besar, tekun dan tidak mudah bosan, percaya diri dan mandiri, merasa tertantang oleh kemajuan komplesitas, berani mengambil risiko, berpikir divergen.

  1. Memiliki rasa ingin tahu yang besar

Maksudnya siswa melakukan berbagai cara untuk mencapai tujuan yang ingin siswa ketahu sehingga siswa tersebut miliki informasi dalam mengembangkan kreativitas

  1. Tekun dan tidak mudah bosan

Maksudnya siswa harus tekun dalam melakukan gagasan yang siswa ketahui dan melakukan variasi-variasi agar siswa tidak mudah bosan dalam melaksanakan gagasan tersebut.

  1. Percaya diri dan mandiri

Maksudnya siswa harus memiliki kepercayaan dalam melakukan gagasan yang siswa lakukan dan mandiri dalam melakukukan ide-ide yang siswa ketahui.

  1. Merasa tertantang oleh kemajuan komplesitas

Maksudnya siswa merasa tertantang dalam teknologi sekarang karena berbagai ragam gagasan atau ide yang ditemukan.

5. Berani mengambil risiko.

Maksudnya siswa harus berani mengambil risiko dalam melakukan ide-ide yang siswa temukan.

6. Berpikir divergen

Maksudnya siswa di harapkan mampu berpikir kreatif dalam melaksanakan gagasan atau ide yang siswa dapatkan berbagai sumber.

c. Krakteristik Kreativitas

Berbagai karakteristik kreativitas yang di miliki siswa

( Munandar, 2011: 66) dimiliki sebagai.

1. Memiliki motivasi atau dorongan yang tinggi

Untuk mencapai perkembangan kreativitas yang maksimal, maka peranan motivasi sangat perlu diperhatikan, karena merupakan faktor yang esensial. Kreativitas yang berkaitan dengan perilaku tidak akan berkembang karena tidak dimotivasi oleh diri sendiri maupun dari luar.

2. Berani menyatakan pendapat dan keyakinan

Keberanian untuk menyatakan pendapat dan keyakinan adalah sikap yang harus dikembangkan dalam usaha melakukan perkembangan kreativitas. Gejala yang sering terjadi dalam proses perencanaan masa depan adalah adanya sejumlah individu yang lebih memilih bersikap pasif dengan tidak memiliki keberanian untuk menyampaikan pendapat atau keyakinan.

3. Percaya diri

Percaya diri adalah suatu keyakinan seseorang atau individu terhadap segala aspek kelebihan yang dimilikinya dan keyakinan tersebut membuat individu merasa mampu untuk bisa mencapai berbagai tujuan di dalam hidupnya.

4. Memiliki kemandirian

Memiliki kemandirian dalam mengambil keputusan pribadi dilandasi oleh pemahaman mendalam akan konsekuensi dari tindakannya dan keberanian menerima segala konsekuensi dari tindakanyaitu.

d. Upaya menumbuhkan kreativitas

Pada dasarnya kreativitas dapat terjadi di semua bentuk organisasi atau kelompok sejauh organisasi tersebut menghargai atau mendorong individu-individu untuk berkreasi. Jika tidak, maka individu yang kreatif akan menjadi frustrasi dan selanjutnya terjebak dengan rutinitas yang ada. Berdasarkan hasil penelitian, untuk menciptakan kreativitas dibutuhkan lingkungan sekolah kondusif yang menyenangkan (fun), penuh rasa humor, spontan, dan memberi ruang bagi individu untuk melakukan berbagai permainan atau percobaan.

Membentuk lingkungan yang kondusif seperti itu sangatlah tidak mudah bagi sebuah organisasi. Mendorong kreativitas dalam dunia pendidikan menuntut kreativitas yang permissif terhadap existensi individualitas dan penerimaan terhadap rasa humor, disamping tetap memegang teguh rasa hormat, kepercayaan dan komitment sebagai norma yang berlaku. Salah satu cara terbaik untuk mendorong kreativitas dan inovasi dalam sebuah sekolah adalah dengan cara mengukur sejauhmana hal tersebut telah dilakukan. Sekolah dianjurkan untuk memasukan unsur kreativitas dan inovasi ke dalam proses evaluasi siswa. sebagai contoh: masukan unsur penilaian tentang berapa banyak ide dari seseorang atau kelompok yang dapat diimplementasikan oleh sekolah. Jika hal ini terkomunikasi dengan baik maka setiap individu akan berusaha untuk memberikan ide secara konstruktif.

Baca Juga:   Pengertian Membaca

Menumbuhkan kreativitas dapat dilakukan secara kelompok atau sendiri. Namun adanya kelompok siswa tersebut tidak terlalu memperhatikan bagaimana cara awal melakukan kreativitas belajar yang baik sehingga pada saat guru memberikan tugas kepada siswa siswa tersebut kurang kreativitas. Sedangkan sendiri siswa tersebut lebih berhati-hati didalam melakukan tugasnya bahkan siswa tersebut tekun dalam melaksanakan kreativitas belajarnya.

  1. Faktor Penghambatan Dalam Menumbuhkan Kreativitas

Pada dasarnya kegiatan guru untuk membantu siswa yang tidak aktif dalam proses belajar mengajar di kelas belum dapat terlaksana secara optimal karena adanya faktor-faktor penghambat baik yang bersumber dari guru dan siswa itu sendiri. Faktor-faktor tersebut mengakibatkan pelaksanaan kegiatan membantu menumbuhkan kreativitas belajar siswa di kelas tidak mampu mencapai tujuan secara optimal.

  1. Hambatan dari guru

Hambatan yang bersumber dari guru diantaranya belum dapat melaksanakan tugasnya seoptimal mungkin sebagai penyelengaraan kegiatan belajar mengajar di kelas ini dikarenakan kurangnya tenaga pengajar di sekolahnya, maka guru juga diberikan tugas mata pelajaran tertentu selain tugas utamanya. Hal ini membuat beban tugas guru semakin berat, tambah lagi siswa yang mesti dilayani jumlahnya sangat besar dan melebihi kemampuan maksimal satu orang guru.

Beberapa kendala yang sering muncul dari pelaksanaan kegiatan membantu siswa yang tidak aktif dalam proses belajar mengajar di kelas menurut Semiawan, ( 2011: 140) adalah sebagai berikut.

  1. Tidak memiliki waktu yang cukup untuk melakukan kegiatan bimbingan terhadap siswa yang mengalami kesulitan.
  2. Hubungan guru dengan siswa dan hubungan siswa dengan siswa yang kurang akrab.
  3. Kurang lengkapnya data-data yang dimiliki guru tentang siswa yang akan diberikan bimbingan.

Dengan demikian hambatan dari guru Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan dalam menumbuhkan kreativitas siswa dalam proses belajar mengajar di kelas terjadi apabila guru Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan harus mengajar mata pelajaran lebih dari beban tugas yang dimiliki guru mata pelajaran.

  1. Hambatan dari siswa

Hambatan secara internal ( dari dalam diri siswa) dalam kegiatan membantu siswa yang tidak aktif dalam proses belajar mengajar di kelas antara lain.

  1. Kondisi Fsiologi

Anak-anak yang kekurangan gizi ternyata kemampuan belajarnya di bawah anak-anak yang tidak kekurangan gizi, mereka merasa lelah, mudah ngantuk dan sukar menerima pelajaran. Kondisi kesehatan dan cacat tubuh ( faktor fsiologis) yang kurang baik dapat menghambat pelaksanaan kegiatan membantu siswa yang tidak aktif dalam proses belajar mengajar di kelas menurut Riduwan (2007: 98)

  1. Kondisi fsiologis

Kegiatan membantu siswa yang tidak aktif dalam proses belajar mengajar di kelas pada hakikatnya berlangsung melalui proses psikologis. Oleh karena itu semua keadaan dan fungsi psikologis tentu saja mempengaruhi berjalan tindakan kegiatan dengan baik.

Berdasarkan uraian di atas terdapat bermacam-macam yang mempengaruhi berjalan tindakan kegiatan membantu siswa yang tidak aktif dalam proses belajar mengajar di kelas. Siswa mempunyai karakteristik tertentu, yaitu fisiologis dan psikologis yang dapat di katakan sebagai faktor dalam diri individu. Bahwa faktor hambatan lainnya datang dari pihak siswa diantaranya adalah menurut Ridwan (2005: 98) adalah sebagai berikut.

  1. Kurangnya motivasi siswa untuk mengikuti kegiatan bimbingan
  2. Merasa malu untuk mengungkapkan masalah/kesulitan yang sedang dihadapi kepada guru pembimbing.
  3. Kurang menyadari kelemahan yang dimiliki.
  4. Kurang baik hubungan siswa dengan guru pembimbing.
  5. Rendah diri
  6. Memiliki sikap apatis dan kurang mandiri.

Faktor dalam diri siswa ini menjadi faktor yang menghambat proses kegiatan membantu siswa yang tidak aktif dalam proses belajar mengajar di kelas. Semuanya itu tergantung dari tekad dan keberanian siswa untuk menentang semua hambatan yang merintangi kemajuannya dalam mencapai tujuan kegiatan membantu siswa yang tidak aktif dalam proses belajar mengajar di kelas.

Baca Juga:   Pengertian Persepsi Siswa

  1. Upaya Mengatasi Hambatan-Hambatan Yang Dihadapi

Upaya mengatasi hambatan dari guru Pendidikan  Kewarganegaraan guru dalam kegiatan untuk membantu siswa yang aktif dalam proses belajar mengajar di kelas.

Menurut Hamalik (2010:116). Secara umum guru wajib berupaya sekeras mungkin untuk meningkatkan motivasi belajar siswa. Sedangkan secara khusus guru perlu melakukan berbagai upaya tertentu secara nyata untuk meningkatkan motivasi belajar siswa. upaya-upaya itu terdiri dari pelaksanaan fungsi-fungsi penggerak, harapan, intesif, dan disiplin. Motivasi belajar sebagai bimbingan untuk menetapkan fokus anak dalam hal belajar. Selain itu juga dalam kegiatan belajar, motivasi dapat dikatakan dalam keseluruhan daya penggerak didalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subyek belajar itu dapat tercapai,

  1. Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar guru di kelas.

Keberhasilan pelaksanaan kegiatan belajar mengajar di kelas akan terlaksana dengan baik apabila segenap sistem yang ada di sekolah ( guru, kurikulum, metode, sarana dan komponen lainnya) diarahkan sepenuhnya, dalam hal ini khususnya kegiatan guru Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan untuk membantu siswa yang tidak aktif dalam proses belajar mengajar di kelas melalui proses belajar dan latihan. Hal ini disebabkan kegiatan untuk membantu siswa yang tidak aktif dalam proses belajar mengajar di kelas ditunjukan pada semua siswa yang ada di sekolah.

  1. Sarana dan prasarana

Sarana dan prasarana yang sering menjadi kendala tidak tersediannya dana untuk melakukan kegiatan, kurang lengkapnya sarana dan alat teknik yang di perlukan untuk melakukan kegiatan belajar mengajar secara optimal untuk siswa dan lingkungan sekolah yang apatis terhadap kesulitan siswa.

  1.  Upaya Mengatasi Hambatan Dari Siswa

Untuk menarik minat siswa hendaknya guru memperhatikan apa yang diinginkan siswa, sebab keberhasilan pelaksanaan kegiatan untuk membantu siswa yang tidak aktif dalam proses belajar mengajar di kelas ditentukan oleh bagaimana seorang guru menyampaikannya kepada siswa yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan kegiatan untuk membantu siswa yang tidak aktif dalam proses belajar mengajar di kelas, Menurut Asrori, (2003 : 139). “Menuliskan bahwa siswa memiliki kemandirian dalam mengambil keputusan pribadi dilandasi oleh pemahaman mendalam akan konsekuensi dari tindakannya dan keberanian menerima segala konsekuensi dari tindakannya itu”. Guru harus mengenal diri siswanya. Bukan saja mengenai sifat dan kebutuhannya secara umum sebagai sebuah kategori, bukan saja mengenal jenis minat dan kemampuan, serta cara dan gaya belajarnya, tetapi juga mengetahui secara khusus sifat, bakat/pembawaan minat, kebutuhan, pribadi serta aspirasi masing-masing anak didiknya.

  1. Usahakan kegiatan tetap menarik minat dan perhatian siswa
  2. Berikan pengajaran secara sistematis dan sederhana sehingga jelas isi dan manfaatnya
  3. Berikan contoh yang berhubungan dengan kehidupan siswa sehari-hari
  4. Usahakan selalu kerja sama dengan guru BK dan wali kelas agar guru mata pelajaran dal

g. Indikator kreativitas belajar

kreativitas belajar anak adalah sebagai berikut.

  1. Kemampuan berpikir kreatif, yaitu kemampuan berpikir lancar (mencetuskan banyak gagasan, jawaban, penyelesaian masalah).
  2. Keterampilan berpikir luwes atau fleksibel (menghasilkan peryataan atau gagasan yang bervariasi).
  3. Keterampilan berpikir orisinal (mampu) melahirkan ungkapan yang baru dan unik.
  4. Keterampilan merinci atau mengeleborasi (mampu memperkaya dan mengembangkan gagasan atau produk).
  5. Keterampilan menilai (menentukan patokan penilaian, yaitu apakah suatu pertanyaan atau pernyataan benar).
  6. Rasa ingin tahu, bersifat imajinatif (kemampuan membayangkan). Adanya dorongan untuk mengatasi masalah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.