Model Desain Pengembangan Kurikulum di Pendidikan Teknologi Kejuruan

Diposting pada

Gay dalam Finch (1984) mengemukakan ada empat model  desain dalam proses perencanaan kurikulum yaitu academic model, experiential model, pragmatic model, dan technical model.

  1. Academic ModelTheoretical Model : Model akademik memanfaatkan logika ilmiah sebagai basis dalam penetapan kurikulum. Kurikulum dikembangkan berdasarkan pendekatan struktur yang sesuai dengan disiplin ilmu atau disiplin ilmu untuk membentuk isi kurikulum. Model ini cocok untuk para calon-calon profesional dalam suatu bidang tertentu.
  2. Experiential Model : berorientasi pada ”learned centered and activity-oriented” person and process oriented. Model ini cocok untuk pengembangan individu/guru
  3. Pragmatic Model : memandang perencanaan kurikulum selalu dikaitkan dengan konteks lokal/ daerah. Kondisi sosial –politik  mendominasi kegiatan perencanaan kurikulum, dimana proses perencanaan kurikulum harus disesuaikan dengan kondisi lokal tidak boleh keluar dari ”school setting”. Model ini cocok relevan untuk diterapkan dalam konteks pelatihan bisnis atau industri
  4. Technical Model : dalam model ini pembelajaran dipandang sebagai suatu ”sistem”. ”Sistem” dapat dipahami terdiri dari bagian-bagian yang saling berhubungan. Sebuah sistem akan efektif dan efisien apabila dikontrol dengan manajemen yang bagus. Dalam model ini, komponen-komponen seperti analisis kebutuhan, perumusan tujuan yang spesifik, pemilihan materi, metode, dan penetapan evaluasi merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Model ini cocok diterapkan untuk proses belajar mengajar dalam pendidikan teknologi dan kejuruan .
  • Tinjauan Sistem dalam Pengembangan Kurikulum


Vocational Program System
Finch & Crunkilton (1984 :26)

  • Perencanaan Kurikulum

Perencanaan kurikulum merupakan langkah pertama dalam proses pengembangan kurikulum. Finch & Crunkilton (1984), menggambarkan tahapan dalam pengembangan kurikulum di pendidikan teknologi dan kejuruan sebagai berikut :           

Curriculum Development in Vocational and Technical Education
Finch & Crunkilton (1984 : 21)

  1. Pengambilan Keputusan dalam Perencanaan Kurikulum

Dalam konteks pengambilan keputusan untuk perencanaan kurikulum ada lima tahapan yang dilakukan :

  1. Mendefinisikan masalah dan mengklarifikasikan beberapa alternatif pemecahan masalah; tahap ini merupakan tahap yang cukup kritis dalam mendefinisikan suatu masalah. Pada tahap ini apabila suatu masalah dapat “didefinisikan dengan baik” maka pemecahan masalah melalui alternatif  yang mungkin dapat diidentifikasi dan diklarifikasi. Sebagai contoh, suatu community college menawarkan 4 program yang berbeda untuk pendidikan teknologi dan kejuruan. Data mengenai masing-masing keempat program tersebut dapat dikumpulkan dan diklarifikasi dan dianalisis secara simultan untuk memutuskan mana diantara keempat program tersebut (jika tidak diambil semuanya) harus diimplementasikan.
  2. Menetapkan standar dari masing-masing  alternatif ; kalau pada tahap pertama beberapa alternatif diklarifikasi, maka pada tahap kedua atau selanjutnya adalah membuat standar dari masing-masing alternatif tersebut. Penetapan standar akan membantu para pengambil keputusan untuk menentukan alternatif yang paling mungkin untuk ditawarkan dan sumber daya apa yang perlu disediakan. Standar akan membantu para pengembang kurikulum dalam penetapan dan operasinalisasi dari program pendidikan teknologi dan kejuruan yang berkualitas.
  3. Pengumpulan data yang berhubungan dengan sekolah dan masyarakat untuk didampingkan dengan standar yang ada; setelah ditetapkan standar pada tahap kedua, data sekarang dapat diidentifikasi dan dikumpulkan untuk masing-masing alternatif.  Data akan dibutuhkan untuk dikumpulkan dari dua sumber yaitu sekolah dan masyarakat.
  4. Analisis Data; Pada tahap keempat, perencana kurikulum harus dengan objektif menganalisis seluruh data dari standar yang telah ditetapkan tersebut. Pada tahap ini dilakukan kegiatan merancang ; menyimpulkan, menganalisis , dan mempersiapakn data dalam bentuk form yang dapat digunakan pada saat pengambilan keputusan tiba. Situasi ini mungkin terjadi pada saat tahap yang memerlukan data tambahan yang tidak bisa dikumpulkan, sehingga ketetapan data  harus dibuat untuk pengumpulan data sebelum seluruh data dapat dikumpulkan secara penuh. Dan dianalisis secara akurat.
  5. Memutuskan alternatif mana yang dapat mendukung pada data; Tahap kelima merefresentasikan tahap akhir dari proses pengambilan keputusan. Pada tahap ini, beberapa alternatif dapat diabaikan seperti data yang tidak layak atau menerima  data yang layak yang dapat digunakan dalam mengembangkan kurikulum. Dalam beberapa kasus, hanya satu alternatif  yang mungkin dipilih dari beberapa kemungkinan. Atau semua alternatif mungkin dianggap tidak sesuai. Akan tetapi dalam kasus lain , semua alternatif dianggap layak.
  • Pengumpulan Informasi yang Berkaitan Dengan Sekolah

Salah satu faktor yang harus diperhatikan oleh para perencana kurikulum di pendidikan teknologi dan kejuruan adalah ”school setting”. Hal ini harus diperhatikan mengingat tujuan utama dari proses pembelajaran di pendidikan teknologi dan kejuruan adalah mempersiapkan siswa untuk sukses sebagai “pegawai”  di dunia kerja. Dalam bab ini difokuskan untuk mengumpulkan data yang berkaitan dengan sistem yang mempengaruhi proses pembelajaran di  sekolah. Beberapa faktor yang yang berkaitan tersebut yaitu :

Baca Juga:   Perspektif Pengembangan Kurikulum Pendidikan Teknologi dan Kejuruan

  1. Tingkat droupout dan berbagai alasan yang mendasarinya; para perencana kurikulum perlu memperhatikan tingkat droupout yang secara tidak langsung menggambarkan kecenderungan minat dari peserta didik.
  2. Ketertarikan pada karir / jabatan pekerjaan; untuk menilai kecenderungan pada karir ini bisa dilakukan dengan cara melalukan berbagai tes yang akan mampu menggambarkan minat/ kecenderungan peserta didik terhadap bidang pekerjaan tertentu. Tes yang dapat dilakukan antara lain : standardized achievement test.
  3. Ketertarikan dan concern orang tua siswa;keterlibatan orang tua siswa menjadi hal yang penting dalam menentukan program pembelajaran di sekolah. Concern orang tua akan sangat mempengaruhi terhadap pemilihan program pendidikan bagi anak-anaknya. Para perencana kurikulum perlu selalu memperhatikan ”masukan” dari para orang tua siswa.
  4. Keberlanjutan lulusan; keterserapan para lulusan di pasar kerja merupakan tujuan utama dari program pendidikan teknologi dan kejuruan, oleh karena itu para perencana kurikulum perlu memperhatikan faktor ini. Seberapa lama masa tunggu kerja lulusan dan seberapa banyak lulusan terserap di dunia kerja
  5. Proyeksi pasar kerja masa depan ; para perencana kurikulum perlu memperhatikan kecenderungan pasar kerja pada masa yang akan datang. Kecenderungan ini akan dipengaruhi oleh berbagai faktor, diantaranya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Contohnya adalah perkembangan teknologi informasi akan menuntut untuk membuka  program studi baru misalnya ICT  atau pembelajaran perlu diorientasikan dengan memanfaatkan teknologi tersebut.
  6. Penilaian terhadap ketersediaan fasilitas; dalam konteks pendidikan teknologi dan kejuruan,  fasilitas memegang peranan penting. Dengan fasilitas yang memadai akan sangat menunjang terhadap proses pembelajaran . Output lulusan yang ditujukan untuk bekerja mengindikasikan fasilitas yang idealnya sesuai dengan tuntutan pekerjaan yang ada.  
  • Pengumpulan Data yang Berkaitan dengan Masyarakat

  1. Keadaan masyarakat; yang dimaksud perkembangan masyarakat di sini antara lain keadaan geografis dimana sekolah tersebut berada, kecenderungan jumlah penduduk, dan nilai-nilai yang berlaku di masyarakat,
  2. Arah dan proyeksi bidang ketenagakerjaan; meliputi bidang-bidang pekerjaan yang muncul sesuai dengan perkembangan ilmu dan teknologi.
  3. Keseimbangan “supply-demand” tenaga kerja; para perencana kurikulum perlu memperhatikan faktor ini ,dengan harapan jumlah lulusan yang dihasilkan disesuaikan dengan jumlah pekerjaan yang ada sehingga tidak terjadi pengangguran .
  • Penetapan Isi Kurikulum
  1. Faktor yang Mempengaruhi Isi Kurikulum

   Berbagai faktor yang menentukan terhadap isi kurikulum paling tidak ada dua hal yang harus diperhatikan : 

Baca Juga:   Peran Pendidikan Kejuruan dalam Peningkatan Pertumbuhan Ekonomi

  1. Relevansi isi kurikulum dengan konteks pendidikan yang berkaitan dengan persoalan-persoalan yang menyangkut dukungan masyarakat kependidian, ketersediaan tenaga guru dan jajaran kependidikan yang lain untuk mendukung implementasi kurikulum, kualitas masukan calon siswa dan aspirasi pendidikannya, dan juga hal-hal yang menyangkut administrasi akademik pelaksanaan kurikulum tersebut.
  2. Relevansi kurikulum dengan konteks lapangan kerja menyangkut persoalan-persoalan yang berkaitan dengan daya dukung masyarakat dunia kerja baik dalam hal ketersediaan bantuan fisik maupun non fisik, kemungkinan pengumpulan sumber informasi untuk masukan perencanaan dan penyempurnaan kurikulum, serta ketersediaan masyarakat dunia usaha dan dunia industri untuk membantu sebagai anggota dewan penasihat kurikulum (advisory commitee).

      Faktor lain yang harus diperhatikan dalam penentuan isi  kurikulum adalah masalah kebutuhan individu peserta didik yang untuk berbagai jenjang pendidikan akan sangat berbeda.

  1. Strategi Penetapan Isi Kurikulum

Dalam Finch & Crunkilton (1984: 140) Beberapa strategi / pendekatan yang dapat digunakan dalam mengidentifikasi isi kurikulum, adalah :

  1. Pendekatan DACUM; Pendekatan ini pada awalnya dikembangkan oleh para ahli kurikulum di Canada . DACUM (Developing A Curriculum) pada awalnya merupakan proyek bersama antara Departemen Tenaga Kerja dan Imigrasi dengan General Learning Corporation di Canada, tetapi kemudian diseminasinya dilaksanakan di banyak lembaga pendidikan kejuruan.Pada sistem ini, isi kurikulum digagas oleh para pengusaha atau pekerja dari industri dan dunia usaha tanpa melibatkan personil sekolah sama sekali. Ini didasarkan pada asumsi bahwa dalam penentuan isi kurikulum pendidikan teknologi diharapkan memiliki relevansi yang tinggi dengan kebutuhan lapangan kerja. Biasanya guru dan instruktur yang sehari-hari terlibat dalam mengajar saja kurang dapat memberikan kontribusi yang positif. Keunikan dari proses identifikasi isi kurikulum dengan pendekatan DACUM ini adalah urutan dan intensitas partisipasi peserta yang harus ditargetkan sedemikian rupa, sehingga yang dihasilkan selama proses tersebut, bukan terbatas hanya pada inventarisasi skill saja atau pengetahuan spesifik yang akan menjadi kerangka isi kurikulum, tetapi juga sampai pada tingkat kemahiran atau kompetensi sesuai dengan apa yang diperlukan dalam situasi kerja yang nyata. Ini adalah kelebihan dari cara pendekatan yang seluruhnya melibatkan pihak pengusaha dari industri dan dunia kerja.
     
  2. Pendekatan Fungsional; Pendekatan ini didasari oleh asumsi bahwa anak didik yang belajar melalui pendidikan teknologi dan kejuruan harus mempelajari fungsi-fungsi apa yang harus ada untuk menjamin kelangsungan kerja suatu industri atau dunia usaha tertentu, dan kemudian dijabarkan menjadi penampilan-penampilan (performance) yang terkait dengan fungsi atau tugas tertentu.untuk dijadikan masukan bagi perencana kurikulum. Prosedur dari penentuan isi kurikulum ini adalah dimulai dengan identifikasi jenis-jenis pekerjaan  yang kemudian dapat dirinci lagi menjadi daftar kegiatan-kegiatan dalam setiap fungsi, untuk kemudian dikaitkan dengan kompetensi atau keterampilan yang harus dimiliki oleh orang yang akan mengerjakan kegiatan-kegiatan tersebut. Kompetensi ini dirumuskan baik dalam bentuk pengetahuan, pemahaman, dan kemampuan dengan tingkat yang bervariasi.
     
  3. Pendekatan Analisis Tugas; dalam pendekatan ini, isi kurikulum diambil dari aspek-aspek perilaku dan persyaratan kerja tertentu yang dijabarkan langsung dari deskripsi pekerjaan atau deskripsi tugas yang sudah ”mapan”. Sebagai contoh konsorsium pendidikan kejuruan di Amerika Serikat yang beranggotakan beberapa negara bagian sudah banyak mengembangkan kurikulum program studi kejuruan yang didasarkan atas analisis tugas. Dalam melakukan analisis tugas, perlu diperhatikan langkah-langkah sebagai berikut (1) melakukan kajian literatur dan informasi yang relevan, (2) Mengembangkan inventori pekerjaan atau jabatan; (3) Memilih sampel atau contoh pekerja sebagai sumber data; (4) melaksanakan survei atau penelitian di lapangan; (5) menganalisis hasil survey untuk dijabarkan menjadi kurikulum dan kegiatan belajar di sekolah . Dari langkah kelima ini, hasil survey analisis tugas, kemudian diorganisir dan diolah sehingga menjadi bahan acuan dalam penentuan isi kurikulum. Hal ini dilakukan dengan cara analisis zona (zone analysis) dan analisis isi (content analysis). Yang pertama melukiskan gambaran menyeluruh isi kurikulum berdasarkan kelompok mata pelajaran yang dibagi menjadi kelompok spesialisasi, kelompok penunjang, dan kelompok dasar, masing-masing dengan proporsi yang harus dipikirkan dengan matang. Yang kedua menyangkut penjabaran rincian hasil analisis tugas menjadi materi belajar atau unit belajar yang nanti dilanjutkan dengan desain kegiatan instruksional dan pengadaan materi instruksionalnya, baik yang berupa lembar informasi, lembar kerja, lembar tugas, dan lembar pengamatan. 
     
  4. Pendekatan Filosofis; dalam sejarah penentuan isi kurikulum, pemikiran para ahli filsafat menjadi faktor dominan dalam penentuan isi kurikulum. Secara praktis dapat dikatakan bahwa filosofi adalah seperangkat keyakinan yang dimiliki oleh seseorang atau kelompok yang kemudian mendasari segenap sikap dan perbuatannya. Dalam literatur banyak sekali dijumpai pernyataan-pernyataan filosofi yang berkenaan dengan pendidikan teknologi dan kejuruan dan dari pernyataan-pernyataan tersebut kemudian dapat dijadikan petunjuk menentukan isi kurikulum. Sebagai contoh sederhana, apabila diyakini bahwa pendidikan kejuruan harus menekankan penyesuaian anak didik dengan jenis pekerjaan yang ada di lapangan kerja, maka isi kurikulumnya bisa diramalkan akan sangat didominasi oleh penumbuhan kemampuan-kemampuan transisional seperti bagaimana beradaptasi dengan lingkungan, bagaimana mengatasi problem mobilitas pekerjaan, dan kemampuan berhubungan dengan sesama orang (human relations skill).
     
  5. Pendekatan Introspektif; Pendekatan introspektif mendasarkan  isi kurikulum pada hasil pemikiran perorangan atau kelompok, tetapi difokuskan pada pemikiran dan perasaan dari mereka yang terlibat langsung dalam penyelenggaraan pendidikan teknologi dan kejuruan, seperti misalnya para guru dan administrator yang sehari-harinya bekerja di lingkungan sekolah kejuruan.  Biasanya pemikiran ini dimulai dengan mempelajari apa yang selama ini sudah berjalan, mungkin dilengkapi dengan data komparatif dengan program yang serupa di tempat lain dalam suatu negara maupun dibandingkan dengan orang lain meskipun lewat literatur.
Baca Juga:   Pendidikan Kejuruan di Jepang

Sumber utama :

Finch Curtis.R and Crunkilton. (1984) . Curriculum Development In Vocational And Technical  Education : Planning, Content, and Implementation. Sidney. Allyn and Bacon Inc 

Demikian Artikel tentang Model Desain Pengembangan Kurikulum di Pendidikan Teknologi Kejuruan Semoga dapat dijadikan referensi, dan jika berkenen silahkan share artikel ini. Terima Kasih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.