Ilmu Pengetahuan dan Penelitian

Diposting pada

Ilmu lahir karena manusia diberkahi Tuhan suatu sifat ingin tahu. Keingintahuan seseorang tehadap pemasalahan disekelilingnya dapat menjurus kepada keingintahuan ilmiah. Misalnya dari pertanyaan apakah bulan mengelilingi bumi, apakah matahari mengelilingi bumi akan timbul keinginan manusia melakukan pengamatan secara sistematik, yang akhirnya melahirkan kesimpulan bahwa bumi itu bulat, bahwa bulan mengelilingi matahari dan bumi juga mengelilingi matahari. Jadi ilmu adalah pengetahuan yang telah teruji kebenarannya melalui metode-metode ilmiah. Oleh sebab itu, ilmu pada hakikatnya adalah pengetahuan ilmiah.

Seseorang yang telah memiliki ilmu atau pengetahuan ilmiah dituntut memiliki sifat-sifat terbuka, jujur, teliti, kritis, tidak mudah percaya tanpa adanya bukti-bukti, tidak cepat putus asa dengan pekerjaan atau hasil karyanya.Sifat-sifat tesebut merupakan pencerminan sikap ilmiah yang pada akhirnya mempengaruhi cara berpikir dan bertindak. Pengetahuan ilmiah yang telah dimiliki seseorang disertai sikap ilmiah yang ditunjukkannya dalam cara berpikirnya, hendaknya menjadi dasar dalam melakukan pekerjaan dalam menghasilkan karya-karya yang bersifat ilmiah pula baik berupa ilmu pengetahuan maupun teknologi. Dengan perkataan lain , karya ilmiah adalah hasil atau produk manusia yang dihasilkan atas dasar pengetahuan, sikap, dan cara berpikir ilmiah.

Menurut Maranon (1953), ilmu mencakup lapangan yang sangat luas, menjangkau semua aspek tentang kemajuan manusia secara menyeluruh. Termasuk didalamnya pengetahuan yang telah dirumuskan secara sistematik melalui pengamatan dan percobaan yang terus menerus dan telah menjadi suatu penemuan kebenaran yang bersifat umum. Tan (1954) berpendapat bahwailmu bukan saja merupakan suatu himpunan pengetahuan yang sistematis, tetapi juga merupakan sustu metodologi. Ilmu telah memberikan metode dan system yang menjadikan sipenuntut ilmu menjadi seorang ilmiah, baik dalam ketrampilan, dalam pandangan maupun tindak tanduknya.

Baca Juga:   Uji Asumsi Klasik

Ilmu membentuk kebiasaan serta ketrampilan observasi, percobaan (eksperimental), klasifikasi, analisis, serta membuat generalisasi. Dengan adanya keingintahuan manusia yang terus menerus, maka ilmu akan terus berkembang dan membantu kemampuan persepsi serta kemampuan berpikir secara logis seseorang, yang sering disebut penalaran.

Konsep antara ilmu dan berpikir adalah sama. Dalam memecahkan masalah , ilmu dimulai dari adanya rasa sangsi dan kebutuhan akan suatu hal yang bersifat umum. Kemudian timbul sutu pertanyaan yang khas, dan selanjutnya dipilih suatu pemecahan tentatif untuk penyelidikan.
Proses berpikir adalah suatu refleksi yang teratur dan hati-hati. Proses berpikir lahir dari suatu rasa sangsi akan sesuatu dan keinginan untuk memperoleh sutu ketentuan, yang kemudian tumbuh menjadi masalah yang khas. Masalah ini memerlukan suatu pemecahan dan untuk ini dilakukan penyelidikan terhadap data yang tersedia dengan metode yang tepat. Akhirnya , sebuah kesimpulan yang tentatif akan diterima, tetapi masih tetap di bawah penyelidikan yang kitis dan terus menerus untuk mengadakan evaluasi secara terbuka.

Biasanya, manusia normal selalu berpikir dengan situasi permasalahan. Apalagi jika masalah yang dihadapi adalah masalah yang rumit, maka manusia normal akan mencoba memecahkan masalah tersebut dengan langkah-langkah tertentu. Berpikir demikian dinamakan bepikir secra reflektif (reflective thinking).
Bagaimanakah kira-kira proses yang terjadi ketika berpikir?
Menurut Dewey (1933) proses berpikir dari manusia normal mempunyai urutan sebagai berikut :Timbul rasa sulit, baik dalam bentuk adaptasi terhadap alat, sulit mengenal sifat, ataupun dalam menerangkan ha-hal yang muncul secara tiba-tiba.

  • Kemudian rasa sulit tersebut diberi batasan dalam bentuk permasalahan.
  • Timbul suatu kemungkinan pemecahan yang berupa reka-reka, hipotesa, inferensi atau teori.
  • Ide-ide pemecahan diuraikan secara rasional dengan jalan mengumpulkan bukti-bukti (data)Menguatkan pembuktian tentang ide-ide di atas dan menyimpulkannya baik melalui keterangan-keterangan ataupun percobaan-percobaan.

Dari keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa berpikir secara nalar mempunyai dua buah kriteria penting, yaitu :
1) Ada unsur logis di dalamnya dan
2) Ada unsur analitis di dalamnya

Ciri pertama dari berpikir adalah adanya unsur logis didalamnya. Tiap bentuk berpikir mempunyai logikanya tersendiri. Dengan perkataan lain berpikir secara logis tidak lain berpikir secara nalar.
Ciri kedua dari berpikir adalah adanya unsur analitis di dalam berpikir itu sendiri. Dengan logika yang ada ketika berpikir, maka kegiatan berpikir itu secara sendirinya mempunyai sifat analitis

Baca Juga:   Teknik Pengumpulan Data Dan Analisis Dalam Penelitian

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.