Pengertian Aktivitas Belajar

Diposting pada

Pengertian Aktivitas Belajar – Aktivitas merupakan segala jenis kegiatan yang dilakukan oleh siswa dalam belajar dengan tujuan perubahan tingkah laku, baik menyangkut pengetahuan, keterampilan maupun sikap, baik meliputi segenap aspek organisme maupun pribadi. Menurut Sardiman ( 2014 : 10 ) : “aktivitas belajar dalam arti luas, baik yang bersifat fisik jasmani maupun mental/rohani yang akan membuahkan aktivitas belajar yang optimal”.

Hal ini juga ditekankan oleh Hamalik ( 2010 : 172 ) : “ dalam kemajuan metodologi, azas aktivitas lebih ditonjolkan melalui suatu program unit activity, sehingga kegiatan belajar siswa menjadi dasar untuk mencapai tujuan dan hasil belajar yang memadai”. Sedangkan menurut Sanjaya ( 2006 :103 ) mengatakan bahwa: “Aktivitas belajar yaitu bukanlah menghafal sejumlah fakta atau informasi melainkan untuk memperoleh pengalam tertentu sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai”.

Menurut Mudjiono dan Dimyati ( 2013 : 25 ). Tujuan pembelajaran dibagi ke dalam tiga domain:

  1. Kognitif, yang berisi perilaku yang menekankan aspek intelektual, seperti pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis dan evaluasi.
  2. Afektif, berisi perilaku – perilaku yang menekankan aspek perasaan dan emosi seperti minat, sikap, apresiasi dan penyesuaian diri.
  3. Psikomotorik, berisi perilaku – perilaku yang menekankan aspek – aspek keterampilan motorik seperti tulisan tangan, mengetik, berenang dan mengoperasikan.

Untuk domain kognitif, Bloom dalam Djali ( 2014 : 17 ) : “membagi kognitif dalam 6 tingkatan. Spesifikasi tingkah laku yang diukur dari domain kognitif:

  1. Pengetahuan, berisikan kemampuan untuk mengenali dan mengingat peristilahan, defenisi, fakta – fakta, gagasan, pola, urutan, metodologi, prinsip dasar. Sebagai contoh, ketika diminta menjelaskan pengertian akuntansi yang berada dilevel ini bisa menguraikan dengan baik defenisi dari akuntansi, fungsi dan tujuan akuntansi, pakai informasi akuntansi dan sebagainya.
  2. Pemahaman, dikenali dari kemampuan untuk membaca dan memahami gambaran, laporan, tabel, diagram, arahan dan peraturan. Sebagai contoh, orang di level ini bisa memahami apa yang diuraikan dalam jurnal umum, jurnal khusus, neraca saldo, jurnal penyesuaian, kertas kerja dan sebagainya.
  3. Aplikasi, yaitu kemampuan menggunakan informasi teori, dan aturan pada situasi baru.
  4. Analisis, ditingkat ini seseorang memiliki kemampuan untuk menerapkan gagasan, prosedur, metode, rumus, teori didalam kondisi kerja, sebagai contoh, ketika diberi informasi kedalam bagian yang lebih kecil untuk mengenali pola atau hubungannya, dan mampu mengenali serta membedakan faktor penyebab dan akibat dari sebuah skenario yang rumit. Sebagai contoh, di level ini seseorang akan mampu memilah – milah penyebab kerugian memproduksi suatu barang, membandingkan – bandingkan tingkat kerugian dari setiap penyebab, dan menggolongkan setiap penyebab kedalam tingkat kerugian yang ditimbulkan.
  5. Sintesis, satu tingkat diatas analisa, seseorang di tingkat sintesa akan mampu menjelaskan struktur atau pola dari sebuah skenario yang sebelumnya tidak terlihat, dan mampu mengenali data atau informasi yang harus didapat untuk menghasilkan solusi yang dibutuhkan. Sebagai contoh, di tingkat ini seorang auditor mampu memberikan solusi untuk mengurangi biaya tenaga kerja dalam perusahaan terhadap semua penyebab kerugian memproduksi suatu barang.
  6. Evaluasi, dikenali dari kemampuan untuk memberikan penilaian terhadap solusi, gagasan, metodologi. Dengan menggunakan kriteria yang cocok atau standart yang ada untuk memastikan nilai efektivitas atau manfaatnya. Sebagai contoh, ditingkat ini seorang auditor kualitas harus mampu menilai alternatif solusi yang sesuai untuk dijalankan berdasarkan efektivitas, urgensi, nilai manfaat dan nilai ekonomis.

Menurut Paul B. Diedrich dalam Sardiman ( 2014 : 101 ) jenis – jenis aktivitas belajar meliputi sebagai berikut :

  1. Visual activities, yang termasuk di dalamnya misalnya : membaca, memerhatikan gambar demonstrasi, percobaa, pekerjaan orang lain.
  2. Listening activities, sebagai contoh : mendengarkan: uraian, percakapan, diskusi, musik, pidato.
  3. Oral activities, seperti : menyatakan, merumuskan, bertanya, memberi saran, mengeluarkan pendapat, mengadakan wawancara, diskusi, interupsi.
  4. Writing activities, seperti misalnya : menulis cerita, karangan, laporan, angket, menyalin.
  5. Drawing activities, misalnya : menggambar, membuat grafik, peta, diagram.
  6. Motor activities, yang termasuk di dalamnya antara lain : melakukan percobaan, membuat konstruksi, model mereparasi, bermain, berkebun, beternak.
  7. Mental activities, sebagai contoh misalnya : menanggapi, mengingat, memecahkan soal, menganalisis, melihat hubungan, mengambil keputusan.
  8. Emotional activities, seperti misalnya, menaruh minat, merasa bosan, gembira, bersemangat, bergairah, berani, tenang, gugup.

Jadi dengan klasifikasi aktivitas yang diuraikan di atas menunjukkan bahwa aktivitas di sekolah cukup kompleks dan bervariasi. Kalau berbagai jenis tersebut dapat diciptakan di sekolah, tentu kegiatan proses belajar mengajar di sekolah akan lebih dinamis, tidak membosankan dan menjadi pusat aktivitas belajar yang maksimal dan bahkan memperlancar peranannya sebagai pusat transformasi kebudayaan.



Di dalam belajar perlu adanya penilaian pada aktivitas belajar. Hal ini sesuai menurut Hamalik ( 2010 : 175 ) penggunaan aktivitas besar nilainya bagi pengajaran para siswa karena :

  1. Siswa mencari pengalaman sendiri dan langsung mengalami sendiri.
  2. Berbuat sendiri akan mengembangkan seluruh aspek pribadi siswa secara integral.
  3. Memupuk kerjasama yang harmonis dikalangan siswa.
  4. Para siswa bekerja menurut minat dan kemampuan sendiri.
  5. Memupuk disiplin kelas secara wajar dan suasana belajar menjadi demokratis.
  6. Mempererat hubungan sekolah dan masyarakat dan hubungan orang tua dan guru.
  7. Pengajaran diselenggarakan secara realistis dan konkrit sehingga mengembangkan pemahaman berfikir kritis.
  8. Pengajaran di sekolah menjadi lebih hidup.

Oleh sebab itu perlu adanya penilaian terhadap aktivitas belajar siswa, karena dengan diadakannya penilaian tersebut siswa menjadi aktif dalam belajar, dan proses belajar mengajar jadi lancar. Jadi dengan penekanan asas aktivitas dalam pembelajaran memungkinkan pemahaman siswa semakin baik karena mereka langsung mempraktikan kompetensi yang harus dicapai di dalam kelas. Sehingga pembelajaran tidak monoton dan bervariasi. Aktivitas merupakan suatu hal yang sangat penting di dalam kegiatan belajar mengajar untuk memperoleh hasil belajar yang baik. Semakin banyak aktivitas yang dilakukan siswa dalam belajar memungkinkan hasil belajar yang diperoleh siswa juga semakin meningkat.

Menurut Sardiman ( 2014 : 97 ) di dalam aktivitas belajar ada beberapa prinsip dari sudut pandang ilmu jawa, yaitu :

  1. Menurut pandangan ilmu jiwa lama, siswa bersifat pasif sedangkan guru aktif dan segala inisiatif datang dari guru.
  2. Menurut pandangan ilmu jiwa modern, siswa bersifat aktif, sedangkan guru hanya memberi acuan dan sifat.

Berdasarkan pada prinsip aktivitas belajar di atas, aktivitas yang lebih sesuai digunakan adalah ilmu jiwa modern. Karena aktivitas didominasi oleh siswa, dimana siswa lebih aktif dan guru hanya memberi acuan dan menyediakan kondisi yang kondusif saat proses belajar mengajar berlangsung.

Agar dapat mengukur aktivitas dalam pembelajaran, perlu mengetahui komponen – komponen aktivitas belajar dan menentukan indikatornya terlebih dahulu. Aktivitas merupakan respon atau keterlibatan siswa secara fisik, mental, emosional, maupun intelektual dalam setiap proses pembelajaran, misalnya aktivitas siswa dalam mempersiapkan dri sebelum proses belajar mengajar. Untuk mengetahui aktivitas belajar siswa dapat dilakukan dengan mengamati ataupun mengobservasi dengan menggunakan lembar observasi siswa selama mengikuti proses pembelajaran di kelas.

Dari penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan aktivitas belajar adalah kegiatan, kesibukan yang dilakukan secara efektif didalam pembelajaran maupun diluar pembelajaran yang nantinya akan menghasilkan perubahan dalam diri siswa yaitu perubahan pengetahuan, sikap dan keterampilan yang sifatnya permanen selain itu aktivitas belajar tersebut adalah suatu kegiatan yang dilakukan siswa untuk memperoleh suatu perubahan seperti perubahan tingkah laku, pengetahuan, keterampilan dalam usaha mengembangkan dirinya untuk lebih maju sehingga memperoleh manfaat dari kegiatan yang dilakukan. Aktivitas belajar di sekolah merupakan inti dari proses pendidikan disekolah. Tujuan pembelajaran dalam suatu kegiatan pembelajaran hanya dapat dicapai jika ada interaksi belajar mengajar dalam proses pembelajaran yang baik, tujuan pembelajaran dapat dicapai sehingga siswa mengalami perubahan perilaku melalui kegiatan belajar.



Maka dari pendapat diatas penulis dapat menyimpulkan bahwa hal – hal yang akan diukur dari aktivitas :

  1. Kegiatan – kegiatan visual, yang termasuk didalamnya misalnya: membaca, melihat – lihat gambar, mengamati eksperimen, demonstrasi, pameran, dan mengamati orang lain bekerja atau bermain.
  2. Kegiatan – kegiatan lisan ( Oral ), yang termasuk didalamnya misalnya: mengemukakan suatu fakta atau prinsip, menghubungkan suatu kejadian, mengajukan pertanyaan, memberi saran, mengemukakan pendapat, wawancara, diskusi dan interupsi.
  3. Kegiatan – kegiatan mendengarkan, yang termasuk didalamnya misalnya: mendengar penyajian bahan, mendengar percakapan atau diskusi kelompok, mendengarkan suatu permainan dan mendengarkan rasio.
  4. Kegiatan – kegiatan menulis, yang termasuk didalamnya misalnya: menulis cerita, menulis laporan, memeriksa karangan, bahan – bahan copyan, membuat rangkuman, mengerjakan tes dan mengisi angket.
  5. Kegiatan – kegiatan menggambar, yang termasuk didalamnya misalnya: menggambar, membuat grafik, chart, diagram peta dan pola.
  6. Kegiatan – kegiatan metric, yang termasuk didalamnya misalnya: melakukan percobaan, memilih alat – alat, melaksanakan pameran membuat model, menyelenggarakan permainan, menari dan berkebun.
  7. Kegiatan – kegiatan mental, yang termasuk didalamnya misalnya: merenungkan, mengingat, memecahkan masalah, menganalisis, faktor – faktor, melihat, hubungan – hubungan dan membuat keputusan.
  8. Kegiatan emosional, yang termasuk didalamnya misalnya: minat, membedakan, berani, tenang dan lain – lain.
Cara Mengukur Aktivitas Belajar

Menurut Aswin Bancin ( 2017 : 137 ) Cara mengukur aktivitas belajar adalah sebagai berikut :

  1. Tes, instrumen psikomotorik pada perkembangan alat ukur.
  2. Pengembangan instrumen psikomotorik mencakup: tes psikomotorik, daftar cek dan skala penilaian. Tes untuk mengukur ranah psikomotorik adalah tes untuk penampilan atau kinerja yang telah dikuasai peserta didik.
  3. Penilaian data numerik: hasil observasi/wawancara angket.
  4. Pengembangan pengalaman belajar ranah kognitif psikomotorik dan afektif. Pengalaman belajar adalah kegiatan fisik maupun mental yang perlu dilakukan oleh siswa dalam rangka mencapai kompetensi dasar dan materi pelajaran.

Aktivitas belajar itu adalah keterlibatan siswa secara fisik, mental, emosional maupun intelektual dalam setiap proses pembelajaran, seperti dalam mempersiapkan diri sebelum mengikuti proses pembelajaran. Dengan mengacu karakteristik aktivitas belajar dapat disimpulkan bahwa untuk mengetahui aktivitas belajar siswa dapat dilakukan dengan mengamati atau mengobservasi menggunakan lembar observasi aktivitas siswa selama mengikuti proses belajar mengajar di sekolah.

Sekian dulu penjelasan singkat tentang Pengertian Aktivitas Belajar semoga dapat menjadi referensi bagi anda, jika postingan ini dirasa bermanfaat bagi anda silahkan bagikan/share postingan ini. Terima kasih telah berkunjung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.