Pengertian Metode Economic Order Quantity (EOQ)

Diposting pada

Pengertian Metode Economic Order Quantity (EOQ) – Freddy Rangkuti (2004) menyatakan bahwa metode EOQ merupakan metode yang digunakan untuk menentukan jumlah pembelian bahan mentah pada setiap kali pesan dengan biaya yang paling rendah.Hal tersebut juga didukung oleh Herlina (2007) yang menyatakan bahwa metode EOQ adalah metode untuk menentukan berapa jumlah pesanan yang paling ekonomis untuk satu kali pesan.

Dalam bukunya, Don R. Hansen, Maryanne M. Mowen (2001) menjelaskan hubungan EOQ sebagai metode manajemen persediaan tradisional dengan biaya persediaan yang terkait didalamnya. Dikatakan bahwa jika persediaan bahan baku yang ada dalam perusahaan merupakan bahan baku yang dibeli dari luar dan bukan diproduksi atau dari dalam perusahaan, maka biaya yang terkait dengan persediaan diketahui sebagai biaya pemesanan (ordering costs) dan biaya penyimpanan (carrying costs).

Biaya pemesanan (ordering costs) merupakan biaya-biaya penempatan dan penerimaan pesanan.Contohnya adalah biaya memproses pesanan (biaya klerikan dan dokumen-dokumen), asuransi untuk pengiriman dengan kapal laut, dan biaya-biaya bongkar muatan.Biaya penyimpanan (carrying costs) merupakan biaya-biaya yang dikeluarkan untuk menyimpan persediaan.Termasuk didalamnya adalah asuransi, pajak persediaan, keusangan, dan biaya kesempatan dari dana-dana yang tersimpan dalam persediaan, biaya-biaya penanganan persediaan, dan biaya gudang.

Jika persediaan tidak diketahui dengan pasti, kategori ketiga dari biaya persediaan disebut biaya kekurangan persediaan (stock-out costs).Biaya kekurangan persediaan merupakan biaya-biaya yang timbul karena tidak memiliki produk disaat ada permintaan oleh pelanggan. Misalnya penjualan yang hilang, biaya ekspedisi (meningkatnya biaya transportasi, jam kerja lembur, dan sebagainya), dan biaya-biaya kegiatan produksi yang terputus.

Dalam bukunya, Don R. Hansen, Maryanne M. Mowen (2001) menjelaskan pula alasan-alasan untuk menyimpan persediaan (baik bahan baku maupun barang jadi), yang mana hal ini sejalan dengan prinsip EOQ, yaitu:

  1. Untuk menghadapi ketidakpastian dalam permintaan sebagaimana diketahui bahwa adanya kemungkinan permintaan yang berfluktuasi, sehingga dapat memuaskan permintaan pelanggan (misalnya utuk memenuhi jatuh tempo pengiriman).
  2. Untuk menghindari fasilitas manufaktur yang tidak bisa bekerja lagi karena adanya kegagalan mesin, suku cadang yang rusak, suku cadang yang tidak tersedia, dan pengiriman suku cadang yang terlambat.
  3. Untuk mengambil keuntungan dari diskon-diskon.
  4. Untuk berjaga-jaga jika terjadi kenaikan harga di masa datang.
Baca Juga:   Attitude (Sikap) dan kemampuan yang harus dimiliki Dosen di era Pendidikan 4.0

Seperti pernyataan Freddy Rangkuti (2004) dan Herlina (2007) sebelumnya, Don R. Hansen, Maryanne M. Mowen (2001) menyatakan dalam metode EOQ dapat diketahui berapa banyak bahan baku yang harus dipesan atau diproduksi, tapi Akurat pertanyaannya tidak hanya berhenti sampai disitu. Dalam metode EOQ juga dapat diketahui kapan seharusnya pemesanan dilakukan kembali.

Menurut Don R. Hansen, Maryanne M. Mowen (2001) dan Herlina (2007), untuk menghitung berapa banyak bahan baku yang harus dipesan, digunakan rumus matematis EOQ sebagai berikut:

Adapun total biaya persediaan yaitu total biaya pemesanan dan biaya biaya penyimpanan dapat dihitung dengan menggunakan rumus matematis sebagai berikut: Biaya Total = Biaya pemesanan + Biaya penyimpanan

Keterangan:
P = Biaya pemesanan setiap kali pesan (dalam rupiah).
D = Jumlah kebutuhan bahan per tahun (dalam unit).
C = Biaya penyimpanan per unit bahan baku (dalam rupiah).
Q = Jumlah unit yang dipesan setiap kali dilakukan pemesanan.
TC=Total biaya pemesanan dan biaya penyimpanan (dalam rupiah) Titik Pemesanan Ulang (Reorder Point – ROP)

Freddy Rangkuti (2004) menyatakan reorder point adalah titik pemesanan yang harus dilakukan suatu perusahaan sehubungan dengan adanya lead time dan safety stock. Seperti pernyataaan tersebut, Don R. Hansen, Maryanne M. Mowen (2001) dan Herlina (2007) juga menyatakan bahwa reorder point merupakan titik waktu di mana pemesanan kembali harus dilakukan.

Dalam reorder point, EOQ menjawab pertanyaan kapan seharusnya pemesanan dilakukan. Reorder point atau titik waktu ini merupakan fungsi dari EOQ, waktu tunggu, dan tingkat di mana persediaan sudah habis. Waktu tunggu (lead time) merupakan waktu yang diperlukan untuk menerima kuantitas pesanan ekonomis ketika suatu pesanan dilakukan. Dapat dikatakan reorder point adalah saat persediaan mencapai titik di mana perlu dilakukan pemesanan kembali sehingga pesanan tiba ketika unit terakhir dari persediaan digunakan.

Baca Juga:   Pengertian Keterampilan Proses Sains (KPS)

Dalam bukunya, Don R. Hansen, Maryanne M. Mowen (2001) mengemukakan bahwa dengan mengetahui tingkat pemakaian persediaan (rate of usage) dan waktu tunggu, reorder point dapat dihitung sebagai berikut:

Reorder Point = tingkat pemakaian persediaan dalam unit per hari X waktu tungguApabila tingkat pemakaian tidak diketahui secara pasti, maka untuk menghindari masalah ini perusahaan seringkali memilih untuk menyimpan persediaan pengaman (safety stock). Freddy Rangkuti (2004) dalam bukunya manajemen persediaan, menyatakan: safety stock adalah persediaan pengaman apabila penggunaan persediaan melebihi perkiraan. Don R. Hansen, Maryanne M. Mowen (2001) juga dalam bukunya mengemukakan bahwa persediaan pengaman (safety stock) merupakan persediaan ekstra yang disimpan sebagai jaminan dalam menghadapi permintaan yang berfluktuasi.

Sehingga dapat dikatakan, safety stock yang disebut juga persediaan minimum, merupakan sejumlah unit persediaan yang ditambahkan dalam pembelian persediaan yang ekonomis yang digunakan untuk penjagaan atas permintaan pelanggan yang tidak umum atau leadtime yang lama.

Dengan adanya persediaan pengaman, titik pemesanan ulang (reorder point) dapat dihitung sebagai berikut :

Reorder Point = (tingkat pemakaian rata-rata X waktu tunggu) + safety stockAda beberapa asumsi pada metode EOQ menurut Herlina (2007) dan Taufik Hidayanto (2007), yaitu:

  1. Hanya satu item barang (produk) yang diperhitungkan.
  2. Harga pembelian bahan per unit konstan.
  3. Bahan yang dibutuhkan selalu tersedia dipasar setiap saat dibutuhkan.
  4. Jumlah kebutuhan bahan tersebut relatif stabil sepanjang tahun.
  5. Waktu tunggu (lead time) besifat konstan.
  6. Setiap pesanan diterima dalam sekali pengiriman dan langsung dapat digunakan.
  7. Hanya ada 3 macam biaya, yaitu: harga barang, biaya simpan, dan biaya pesan.
Keunggulan dan Kelemahan Metode EOQ

Kartika Hendra (2009) mengemukakan bahwa keunggulan metode EOQ adalah:

  1. Dapat digunakan untuk mengetahui berapa banyak persediaan yang harus dipesan, dalam hal ini bahan baku, dan kapan seharusnya pemesanan dilakukan,
  2. Dapat mengatasi ketidakpastian permintaan dengan adanya persediaan pengaman (safety stock),
  3. Mudah diaplikasikan pada proses produksi secara massal,
  4. Lazim digunakan pada rumah sakit, yaitu pada persediaan obat.
Baca Juga:   Pengertian Multiple Intelligence

Adapun kelemahan yang terdapat pada metode ini, yaitu menempatkan pemasok sebagai mitra bisnis sementara karena paradigma untung-rugi diterapkan oleh mereka, sehingga penggunaan model ini menyebabkan berganti-ganti pemasok, dan hal ini dapat mengganggu proses produksi akibat relasi perusahaan dengan pemasok yang tidak berdasar pada hubungan kerjasama yang erat.

Economic Order Quantity (EOQ) adalah salah satu metode dalam manajemen persediaan yang klasik dan sederhana. Perumusan metode EOQ pertama kali ditemukan oleh FW Harris pada tahun 1915, tetapi metode ini sering disebut EOQ Wilson karena metode ini dikembangkan oleh seorang peneliti bernama Wilson pada tahun 1934. Metode ini digunakan untuk menghitung minimalisasi total biaya persediaan berdasarkan persamaan tingkat atau titik equilibriumkurva biaya simpan dan biaya pesan (Divianto, 2011).

Metode EOQ mengasumsikan permintaan secara pasti dengan pemesanan yang dibuat secara konstan serta tidak adanya kekurangan persediaan. Hal ini pun dikemukakan oleh Rangkuti (2007) tentang asumsi yang harus dipenuhi dalam metode EOQ, yaitu:

  1. Tingkat permintaan dating secara konstan, berulang-ulang dan diketahui.
  2. Tidak diperbolehkan terjadinya kehabisan persediaan.
  3. Bahan yang dipesan dan diproduksi pada satu waktu.
  4. Biaya pemesanan setiap unit adalah konstan.
  5. Barang yang dipesan tunggal.

Tetapi dalam kenyataan asumsi-asumsi di atas tidak dapat dipenuhi semuanya, karena kondisi dan keadaan yang terkadang bisa terjadi tiba-tiba. oleh karena itu metode EOQ mengalami pengembangan yang disesuaikan dengan kondisi dan keadaan dari perusahaan itu sendiri.

Demikian ulasan singkat tentang Pengertian Metode Economic Order Quantity (EOQ) semoga dapat menjadi referensi bagi anda, jika ulasanini dirasa bermanfaat bagi anda silahkan bagikan/share ulasan ini. Terima kasih telah berkunjung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.