Pengertian Dan langkah-langkah Model Pembelajaran Student Teams Achievement Divisions (STAD)

Diposting pada

Pengertian Dan langkah-langkah Model Pembelajaran Student Teams Achievement Divisions (STAD) – Pendekatan ini merupakan pendekatan yang paling sederhana dan paling mudah dipahami. Menurut Slavin (dalam Eggen dan Don, 2012: 144) mengatakan bahwa “ STAD merupakan sebuah strategi pembelajaran kooperatif yang memberi tim berkembang majemuk latihan untuk mempelajari konsep dan keahlian. Guru yang menggunakan STAD menyajikan informasi akademis baru kepada siswa setiap minggu atau secara reguler, baik melalui presentasi verbal atau teks. Siswa di kelas tertentu dibagi menjadi beberapa kelompok atau tim belajar dari kedua gender (laki-laki dan perempuan), dari berbagai rasial atau etnis dan dengan prestasi rendah, rata-rata, dan tinggi.

Anggota tim menggunakan alat belajar lain untuk menguasai berbagai materi akademis dan kemudian saling membantu untuk mempelajari berbagai materi melalui tutoring, saling memberikan kuis, atau melaksanakan diskusi tim. Secara individual, siswa diberi kuis mingguan atau dua minggu tentang berbagai materi akademis. Kuis-kuis diskor dan masing-masing individu diberi skor kemajuan untuk mengetahui perkembangan siswa. Pembelajaran kooperatif tipe STAD ini memiliki ciri utama yaitu memotivasi siswa dalam satu kelompok untuk saling memberi semangat, saling bekerja sama dan saling membantu untuk menuntaskan informasi atau keterampilan yang sedang dipelajari untuk menghadapi kuis individu. Pembelajaran kooperatif ini juga menekankan adanya sebuah penghargaan sehingga siswa lebih termotivasi untuk meningkatkan hasil belajar.

  1. Komponen-komponen Utama dalam Model Pembelajaran STAD

Terdapat lima komponen utama dalam pembelajaran STAD antara lain sebagai berikut :

  1. Presentasi Kelas

Presentasi kelas dalam STAD berbeda dari pengajaran biasa hanya pada presentasi tersebut harus jelas-jelas memfokuskan pada unit STAD. Dengan cara ini, siswa menyadari bahwa mereka harus sungguh-sungguh memperhatikan presentasi kelas tersebut, karena dengan begitu akan membantu mereka mengerjakan kuis dengan baik, dan skor kuis mereka menentukan skor timnya.

  1. Kerja Tim

Tim atau kelompok tersusun dari 4-5 siswa yang mewakili heterogenitas dalam kinerja akademik, jenis kelamin, dan suku. Fungsi utama tim adalah menyiapkan anggotanya agar berhasil menghadapi kuis. Kerja tim tersebut merupakan ciri terpenting STAD. Tim tersebut menyediakan dukungan teman sebaya untuk kinerja akademik yang memiliki pengaruh berarti pada pembelajaran, serta tim menunjukkan saling peduli dan hormat, hal itulah yang memiliki pengaruh berarti pada hasil-hasil belajar.

  1. Kuis

Dalam mengerjakan kuis siswa tidak dibenarkan saling membantu selama kuis berlangsung. Hal ini menjamin agar siswa secara individual bertanggung jawab untuk memahami bahan ajar tersebut.

  1. Skor

Perbaikan Individual Setiap siswa dapat menyumbang poin maksimum kepada timnya dalam sistem penskoran, namun tidak seorang siswa pun dapat melakukan seperti itu tanpa menunjukkan perbaikan atas kinerja masa lalu. Setiap siswa diberikan sebuah skor dasar, yang dihitung dari kinerja rata-rata siswa pada kuis serupa sebelumnya. Kemudian siswa memperoleh poin untuk timnya didasarkan pada berapa banyak skor kuis mereka melampaui skor dasar mereka.

Baca Juga:   Pengertian Model Pembelajaran Group Investigation (GI)

  1. Pemberian Penghargaan

Guru dapat memberikan sertifikat atau bentuk penghargaan lain kepada kelompok siswa yang berhasil mencapai kriteria yang sudah ditentukan oleh guru. Menurut Slavin dalam Nurmahni Harahap (2013: 14) mengatakan bahwa penghargaan atas keberhasilan kelompok dapat dilakukan oleh guru dengan melakukan tahapan-tahapan sebagai berikut :

  • Menghitung skor individu Skor ini digunakan untuk mengetahui seberapa besar perkembangan belajar siswa. Aturan memperoleh skor menurut Slavin dapat dilihat pada Tabel 2.1 :

  • Menghitung skor kelompok Skor kelompok dihitung dengan membuat rata-rata skor perkembangan anggota kelompok. Sesuai dengan rata-rata skor perkembangan kelompok diperoleh kategori skor kelompok dapat dilihat pada Tabel 2.2 :

 

  • Pemberian pengakuan kelompok Setelah masing-masing memperoleh predikat, guru memberikan penghargaan kepada masing-masing kelompok sesuai predikatnya. Pengakuan dari guru merupakan salah satu cara untuk memberikan motivasi kepada siswa untuk melakukan kompetisi yang positif
  1. Kelebihan Model Pembelajaran STAD

Kelebihan dalam penggunaan pendekatan pembelajaran ini adalah sebagai berikut:

  1. Mengembangkan serta menggunakan keterampilan berpikir kritis dan kerjasama kelompok.
  2. Menyuburkan hubungan antara pribadi yang positif diantara siswa yang berasal dari ras yang berbeda.
  3. Menerapkan bimbingan oleh teman.
  4. Menciptakan lingkungan yang menghargai nilai ilmiah.
  1. Kelemahan Model Pembelajaran STAD

Kelemahan penggunaan pendekatan pembelajaran ini adalah:

  1. Sejumlah siswa mungkin bingung karena belum terbiasa dengan perlakuan seperti ini.
  2. Guru pada permulaan akan membuat kesalahan-kesalahan dalam pengelolaan kelas, akan tetapi usaha yang terus menerus akan dapat terampil menerapkan metode ini.
  1. Langkah-langkah Pelaksanaan Model Pembelajaran STAD

Berikut ini langkah-langkah pembelajaran kooperatif tipe STAD:

  1. Kelompokkan siswa dengan masing-masing kelompok terdiri dari tiga sampai dengan lima orang. Anggota-anggota kelompok dibuat heterogen meliputi karakteristik kecerdasan, kemampuan awal bahasa Indonesia, motivasi belajar, jenis kelamin, ataupun latar belakang etnis yang berbeda.
  2. Kegiatan pembelajaran dimulai dengan presentasi guru dalam menjelaskan pelajaran berupa paparan masalah, pemberian data, pemberian contoh. Tujuan presentasi adalah untuk mengenalkan konsep dan mendorong rasa ingin tahu siswa.
  3. Pemahaman konsep dilakukan dengan cara siswa diberitugas-tugas kelompok. Mereka boleh mengerjakan tugas-tugas tersebut secara serentak atau saling bergantian menanyakan kepada temannya yang lain atau mendiskusikan masalah dalam kelompok. atau apa saja untuk menguasai materi pelajaran tersebut. Para siswa tidak hanya dituntut untuk mengisi lembar jawaban tetapi juga untuk mempelajari konsepnya. Anggota kelompok diberitahu bahwa mereka dianggap belum selesai mempelajari materi sampai semua anggota kelompok memahami materi pelajaran tersebut.
  4. Siswa diberi tes atau kuis individual dan teman sekelompoknya tidak boleh menolong satu sama lain. Tes individual ini bertujuan untuk mengetahui tingkat penguasaan siswa terhadap suatu konsep dengan cara siswa diberikan soal yang dapat diselesaikan dengan cara menerapkan konsep yang dimiliki sebelumnya.
  5. Hasil tes kuis selanjutnya dibandingkan dengan rata-ratasebelumnya dan poin akan diberikan berdasarkan tingkat keberhasilan siswa mencapai atau melebihi kinerja sebelumnya. Poin ini selanjutnya dijumlahkan untuk membentuk skor kelompok.
  6. Setelah itu memberikan penghargaan kepada kelompok yang terbaik presentasinya atau yang telah memenuhi kriteria tertentu. Penghargaan dapat berupa hadiah, pujian, tambahan nilai dan lain-lain
  1. Hasil Belajar Kognitif Siswa
  1. Pengertian Hasil Belajar Kognitif Siswa
Baca Juga:   Pengertian Model Cooperative Integrated Reading and Compositions (CIRC)

Menurut Hamalik (Jihad dan Haris, 2013: 15) mengatakan bahwa “Hasil-hasil belajar adalah pola-pola perbuatan, nilai-nilai, pengertian-pengertian dan sikap-sikap, serta apersepsi dan abilitas”.Hasil belajar adalah perubahan tingkah laku siswa secara nyata setelah dilakukan proses belajar mengajar yang sesuai dengan tujuan pengajaran. Untuk mencapai hasil belajar yang telah dicapai oleh seseorang maka diperlukan alat ukur yaitu evaluasi. Menurut Sudjana (Dimyati dan Mudjiono 2013: 191) mengatakan bahwa “Evaluasi secara umum dapat diartikan sebagai proses sistematis untuk menentukan nilai sesuatu (tujuan, kegiatan, keputusan, unjuk-kerja, proses, orang, objek, dan yang lain) berdasarkan kriteria tertentu melalui penilaiaan”.

  1. Indikator Hasil Belajar Kognitif Siswa

Dalam ruang lingkup evaluasi pembelajaran akan ditinjau dari berbagai perspektif, yaitu domain hasil belajar, sistem pembelajaran, proses dan hasil belajar, dan kompetensi. Menurut Usman (dalam Jihad dan Haris, 2013:16) menyatakan bahwa, “Hasil belajar yang dicapai oleh siswa sangat erat kaitannya dengan rumusan tujuan intruksional yang direncanakan guru sebelumnya yang dikelompokkan ke dalam tiga kategori, yakni domain kognitif, afektif, dan psikomotorik”.

  1. Domain kognitif

Menurut Dimyati dan Mujiono (2010:202), “Domain kognitif berkenaan dengan ingatan atau pengenalan terhadap pengetahuan dan informasi, serta pengembangan keterampilan intelektual”. Taksonomi atau penggolongan tujuan ranah kognitif yang terdiri dari enam tingkatan yakni:

  1. Pengetahuan (C1)

Jenjang kemampuan yang menuntut peserta didik untuk dapat mengenali atau mengetahui adanya konsep, prinsip, fakta atau istilah, tanpa harus mengerti atau dapat menggunakannya. Kata kerja operasional mendefinisikan, mengidentifikasikan, menunjukan, menggambarkan, menghafal, menyebutkan, memasangkan, meniru, dan mencatat.

Baca Juga:   Pengertian dan Langkah-langkah Model Pembelajaran Project Citizen

  1. Pemahaman (C2)

Jenjang kemampuan yang menuntut peserta didik untuk memahami atau mengerti tentang materi pelajaran yang disampaikan guru dan dapat memanfaatkannya tanpa harus menghubungkannya dengan hal-hal lain. Kata kerja operasionalnya menjelaskan, memberikan contoh, memperkirakan, mengkategorikan, menghitung, mempertahankan, menerangkan, mempolakan, mencirikan, membandingkan, membedakan, mengemukakan, menyimpulkan, mendiskusikan, dan menggali.

  1. Penerapan (C3)

Jenjang kemampuan yang menuntut peserta didik untuk menggunakan ide-ide umum, tata cara ataupun metode, prinsip, dan teori-teori dalam situasi baru dan konkret. Kata kerja operasionalnya menghubungkan, menunjukkan, menugaskan, mengurutkan, menerapkan, menyesuaikan, mengklasifikasikan, membiasakan, mengaitkan, memproses, mensimulasikan, dan menyusun.

  1. Analisis (C4)

Jenjang kemampuan yang menuntut peserta didik untuk menguraikan suatu situasi atau keadaan tertentu kedalam unsur-unsur atau komponen pembentuknya. Kata kerja operasionalnya, mengidentifikasikan, menyimpulkan, menganalisis, mengaudit, memecah, menegaskan, mendektesi, mendiagnosiskan, menyeleksi, menjelajah, mengkaitkan, melatih, menguji, menelaah, memerintah, dan memaksimalkan.

  1. Sintesis (C5)

Jenjang kemampuan yang menuntut peserta didik untuk menghasilkan sesuatu yang baru dengan cara menggabungkan berbagai faktor. Kata kerja operasionalnya menggolongkan, menyimpulkan, mengabtraksi, mengatur,

  1. Evaluasi (C6)

Jenjang kemampuan yang menuntut peserta didik untuk dapat mengevaluasi suatu situasi, keadaan, pernyataan atau konsep berdasarkan kriteria tertentu. Kata kerja operasionalnya mendeskripsikan, membedakan.

  1. Domain afektif

Menurut Bloom (dalam Arifin, 2012:22), Domain afektif berkenaan dengan sikap yang terdiri dari empat aspek yaitu:

  1. Menerima

Jenjang kemampuan yang menuntut peserta didik untuk peka terhadap eksistensi fenomena atau ransangan tertentu. Kata kerja operasionalnya yang dapat digunakan diantaranya menanyakan, memilih dan menggambarkan.

  1. Menanggapi/menjawab

Jenjang kemampuan yang menuntut peserta didik untuk tidak hanya peka pada suatu fenomena, tetapi juga bereaksi terhadap salah satu cara. Kata kerja operasional yang dapat digunakan, diantaranya menjawab, menunjukkan.

  1. Menilai

Jenjang kemampuan yang menuntut peserta didik untuk menilai suatu objek, fenomena atau tingkah laku tertentu secara konsisten. Kata kerja operasional yang digunakan diantaranya melengkapi,menerangkan dan memilih.

  1. Organisasi

Jenjang kemampuan yang menuntut peserta didik untuk menyatukan nilai-nilai yang berbeda, memecahkan masalah membentuk suatu sistem nilai. Kata kerja operasional yang digunakan diantaranya membandingkan, menggeneralisasikan.

  1. Domain psikomotorik

Menurut Jihad dan Haris (2013:18), domain psikomotorik berkenaan dengan hasil belajar keterampilan dan kemampuan bertindak. Terdapat 5 (lima) ranah domain psikomotorik yakni menirukan, manipufasi, keseksamaan, artikulasi, dan naturalisasi.

Demikian artikel tentang Pengertian Dan langkah-langkah Model Pembelajaran Student Teams Achievement Divisions (STAD) semoga dapat menjadi masukan dan referensi bagi anda, jika artikel ini dirasa bermanfaat bagi anda, silahkan bagikan/share artikel ini. Terima kasih telah berkunjung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.