Pengertian dan Definisi Kajian Pustaka

Diposting pada

Pengertian dan Definisi Kajian Pustaka – Kajian pustaka merupakan daftar referensi dari semua jenis referensi seperti buku, jurnal papers, artikel, disertasi, tesis, skripsi, hand outslaboratory manuals, dan karya ilmiah lainnya yang dikutip di dalam penulisan proposal. Semua referensi yang tertulis dalam kajian pustaka harus dirujuk di dalamnya. Referensi ditulis urut menurut abjad huruf awal dari nama akhir/keluarga penulis pertama dan tahun penerbitan (yang terbaru ditulis lebih dahulu).

Dalam Penelitian biasanya diawali dengan ide-ide atau gagasan dan konsep-konsep yang dihubungkan satu sama lain melalui hipotesis tentang hubungan yang diharapkan. Ide-ide dan konsep-konsep untuk penelitian dapat bersumber dari gagasan peneliti sendiri dan dapat juga bersumber dari sejumlah kumpulan pengetahuan hasil kerja sebelumnya yang kita kenal juga sebagai literatur atau pustaka. Literatur atau bahan pustaka ini kemudian kita jadikan sebagai referensi atau landasan teoritis dalam penelitian.

Kajian pustaka menjelaskan laporan tentang apa yang telah ditemukan oleh peneliti lain atau membahas masalah penelitian. Kajian penting yang berkaitan dengan masalah biasanya dibahas sebagai subtopik yang lebih rinci agar lebih mudah dibaca. Bagian yang kurang penting biasanya dibahas secara singkat. Bila ada beberapa hasil penelitian yang mirip dengan masalah penelitian, maka kajian pustaka ditulis dengan aspek penulisan yang sesuai dengan kaidah-kaidah aturan dalam masing-masing instansi.

Kajian pustaka adalah kegiatan yang meliputi mencari, membaca, dan menelaah laporan-laporan penelitian dan bahan pustaka yang memuat teori-teori yang relevan dengan penelitian yang akan dilakukan. Kajian pustaka dalam suatu penelitian ilmiah merupakan satu bagian penting dari keseluruhan langkah-langkah metode penelitian. Cooper dalam Creswell mengemukakan bahwa kajian pustaka memiliki beberapa tujuan yakni; menginformasikan kepada pembaca hasil-hasil penelitian lain yang berkaitan erat dengan penelitian yang dilakukan saat itu, menghubungkan penelitian dengan literatur-literatur yang ada, dan mengisi celah-celah dalam penelitian-penelitian sebelumnya.

Kajian pustaka dalam penelitian, baik penelitian pustaka maupun penelitian lapangan mempunyai kedudukan yang sangat penting. Bahkan tidak berlebihan jika dikatakan bahwa kajian pustaka merupakan merupakan variabel yang menentukan dalam suatu penelitian. Karena akan menentukan cakrawala dari segi tujuan dan hasil penelitian. Di samping itu, berfungsi memberikan landasan teoritis tentang mengapa penelitian tersebut perlu dilakukan dalam kaitannya dengan kerangka pengetahuan.

Istilah kajian pustaka telah didefinisikan dengan cara berikut:

Menurut Bagus, Barr dan Scates (dalam Singh, 2006)

Dokter yang kompeten harus mengikuti perkembangan terbaru penemuan di bidang kedokteran . Jelas mahasiswa cermat pendidikan, pekerja riset dan penyidik ​​harus menjadi akrab dengan lokasi dan penggunaan sumber-sumber informasi pendidikan.

Menurut W.R. Borg (dalam Singh, 2006)

Literatur dalam bidang apapun membentuk fondasi yang semua pekerjaan di masa depan akan dibangun . Jika kita gagal untuk membangun dasar pengetahuan yang diberikan oleh tinjauan literatur pekerjaan kita cenderung dangkal dan naif dan sering akan menduplikasi pekerjaan yang telah dilakukan baik oleh beberapa orang lain.

Menurut Piagam V (dalam Singh, 2006)

Kunci gudang yang luas dari literatur yang diterbitkan dapat membuka pintu ke sumber signifikan masalah dan hipotesis jelas dan memberikan orientasi membantu untuk definisi masalah , latar belakang pemilihan prosedur, dan data perbandingan untuk interpretasi hasil. Agar menjadi kreatif dan asli, seseorang harus banyak membaca dan kritis sebagai stimulus untuk berpikir.

Menurut John W.

 Hampir semua pengetahuan manusia dapat ditemukan dalam buku-buku dan perpustakaan. Tidak seperti hewan lainnya yang harus memulai baru dengan setiap generasi, manusia dibangun berdasarkan akumulasi dan dicatat pengetahuan tentang masa lalunya yang konstan menambah pengetahuan yang memungkinkan kemajuan di semua bidang.

Kajian pustaka sangat diperlukan untuk mendukung permasalahan yang diungkapkan dalam usulan penelitian. Studi kepustakaan yang baik akan menyediakan dasar untuk menyusun kerangka teoritis yang komprehensif. Kajian teori yang berkaitan dengan permasalahan yang akan diteliti. Hal ini dimaksudkan agar para peneliti mempunyai wawasan yang luas sebagai dasar untuk mengembangkan atau mengidentifikasi variable–variable yang akan diteliti. Disamping itu, kajianteori ini juga dimaksudkan agar peneliti dapat mengidentifikasi masalah yang ingin diteliti dalam konteks ilmu pengetahuan yang relevan. Oleh karena itu, Kajian pustaka ini menjadi dasar dalam merumuskan Kerangka Teori yang selanjutnya menjadi dasar untuk mengembangkan Kerangka Konsep penelitian.

Kajian dari hasil penelitian lain yang berkaitan dengan masalah yang akan diteliti. Hal ini penting, selain akan memperluas pandangan dan pengetahuan peneliti, juga dapat untuk menghindari pengulangan penelitian yang telah dilakukan orang lain (menjaga Originalitas penelitian).

Oleh karena itu, pengertian kajian pustaka umumnya dimaknai berupa ringkasan atau rangkuman dan teori yang ditemukan dari sumber bacaan (literatur) yang ada kaitannya tema yang akan diangkat dalam penelitian. Dalam survei dan penelitian eksperimental, tinjauan literatur menyajikan berbagai latar belakang fungsi persiapan pengumpulan data aktual. Dalam pendekatan penelitian, kajian pustaka digunakan untuk menciptakan konteks dari masa lalu untuk studi baru yang akan dilakukan dengan penelitian baru.

  1. MACAM-MACAM KAJIAN PUSTAKAN DALAM PENELITIAN

a. Klasifikasi menurut bentuk dibedakan atas:
•    Sumber tertulis (printed materials yang biasanya disebut: dokumen): antara lain buku harian, surat kabar, majalah, buku notulen rapat, buku inventaris, ijazah, buku-buku pengetahuan, surat-surat keputusan dan lain-lain yang secara umum dapat dibedakan atas bahan-bahan yang ditulis tangan dan yang dicetak atau diterbitkan oleh penerbit, baik yang dipublikasikan secara umum maupun tidak.
•    Sumber bahan yang tidak tertulis (non printed materials): adalah segala bentuk sumber bukan tulisan antara lain rekaman suara, benda-benda hasil peningalan purbakala (relief, manuskrip, prasasti dan sebagainya) film, slide, dan lain-lainnya.

b. Klasifikasi menurut isi dibedakan atas:
•    Sumber Primer adalah sumber bahan atau dokumen yang dikemukakan atau digambarkan sendiri oleh orang atau pihak yang hadir pada waktu kejadian yang digambarkan tersebut berlangsung, sehingga mereka dapat dijadikan saksi. Dalam penelitian historis, kedudukan sumber primer sangat utama karena dari sumber primer inilah keaslian dan kemurnian isi sumber bahan lebih dapat dipercaya dibandingkan dengan sumber sekunder.
•    Sumber Sekunder adalah sumber bahan kajian yang digambarkan oleh bukan orang yang yang ikut mengalami atau yang hadir pada waktu kejadian berlangsung.

Menurut Singh (2006) ada berbagai macam kajian pustaka yang dapat digunakan untuk penelitian dilihat dari segi bentuk, yaitu:

1 . Buku dan buku teks Material

Daftar yang paling berguna dari buku yang diterbitkan dalam bahasa Inggris adalah Indeks Buku Kumulatif dan Buku Ulasan Index , Buku Ulasan Digest ataupun buku panduan. Selain itu, buku katalog nasional daerah juga berguna untuk tujuan ini. Ada beberapa publikasi yang spesifik yang mencakup wilayah tertentu. Seperti  Indeks Buku komulatif yang dipublikasikan secara bulanan untuk menyediakan referensi  dan semua buku tersebut diterbitkan dalam bahasa Inggris.

2 . Majalah

Merupakan publikasi yang dikeluarkan di bagian-bagian berurutan, biasanya secara berkala, dan sebagai aturan, dimaksudkan untuk dilanjutkan tanpa batas. Contoh majalah dalam hal ini termasuk Yearbook , Dokumen , Almanak , Indeks Buku kumulatif, Abstrak Internasional, Jurnal, Surat Kabar, Majalah, Indeks Internasional untuk Periodicals. Majalah umumnya ditempatkan di rak terbuka di ruang Berkala. Penggunaan yang efektif adalah diperkirakan pada penggunaan indeks untuk mengidentifikasi artikel pada subyek yang diteliti. Indeks Pendidikan sebagai indeks yang komprehensif dari hampir semua publikasi di bidang pendidikan. Indeks Pendidikan diterbitkan bulana .

3 . Abstrak

Tipe lain dari panduan referensi adalah abstrak, review, atau digest. Selain menyediakan sistematis daftar sumber-sumber referensi, termasuk juga ringkasan dari isi. Biasanya ringkasan singkat dari penelitian-penelitian diberikan dalam bentuk abstrak pendidikan, dan abstrak Internasional di humaniora. Abstrak Pendidikan, psikologis dan sosiologis yang diterbitkan termasuk studi penelitian di bidang ilmu tersebut. Berbagai macam indeks dan referensi umum dapat ditemukan untuk menutupi hampir semua daerah dimana peneliti modern yang mungkin tertarik menggunakannya.

4 . Ensiklopedi

Ensiklopedia memberikan informasi singkat pada sejumlah teori yang ditulis oleh spesialis. Mereka menyediakan sumber informasi yang mudah, dan sering termasuk ilustrasi dan bibliografi. Encyclopaedia of Educational Research diterbitkan setiap sepuluh tahun. Hal ini mengacu pada kepentingan bekerja pada masalah pendidikan.

5 . Buku Pegangan, Yearbooks dan Panduan

Ini kategori umum referensi termasuk publikasi-publikasi yang hadir lebih rinci up – to-date informasi tentang berbagai subyek, yang diselenggarakan di sekitar tema tertentu. Jenis referensi ini merupakan salah satu media untuk mencari informasi spesifik, sering bersifat statistik. Buku Pegangan Penelitian Pengajaran menyediakan penelitian yang komprehensif pada pengajaran dalam bibliografi mendalam dan luas. Year Book menyediakan publikasi tahunan yang meliputi data statistic masalah pendidikan utama dan gerakan dengan bibliografi yang luas dan panduan referensi.

7 . Kamus khusus

Ada kamus khusus pendidikan yang meliputi istilah, kata-kata dan artinya. Kamus Pendidikan , mencakup pendidikan teknis dan professional istilah. Istilah pendidikan asing yang digunakan dalam tulisan-tulisan pendidikan komparatif juga disertakan. Pekerja pendidikan sering membutuhkan informasi tentang pendidik lain atau orang terkemuka di luar bidang pendidikan. Ini penting untuk melakukan penelitian pendidikan. Hal ini membutuhkan referensi biografi dan auto-biografi.

7 . ERIC ( Educational Research Information Centre )

Ledakan pengetahuan saat ini membuat pengambilan data selektif untuk penelitian sebagai serta praktik pendidikan yang efektif. Perkembangan utama dalam hal ini yang berkaitan dengan literatur pendidikan adalah ERIC (Educational Research Information Centre ) dan SRIS ( Sekolah Penelitian Information Service). ERIC merupakan upaya untuk memfasilitasi pertukaran informasi dan meningkatkan nilai penelitian untuk komunitas pendidikan dengan hanya membuat hasilnya tersedia dalam bentuk yang dapat digunakan .

8 . Microfiche

Perkembangan microfiche telah menjadi salah satu kontribusi paling signifikan dari layanan perpustakaan dengan menyediakan ekonomi dan kenyamanan menyimpan dan menampilkan bahan ilmiah. Microfiche adalah selembar film yang mengandung mikro-gambar bahan cetak. Salinan film 4″×6″ bahan kartu seratus halaman yang dicetak dari 9″ × 11″ ukuran. Ada banyak documentreproduction layanan yang memasok microfiche untuk perpustakaan pada pesanan khusus . Super- Ultra dan microfiche adalah perkembangan terbaru di bidang mikro-pencetakan. Memiliki mengubah proses penyimpanan materi yang dipublikasikan di perpustakaan masa depan.

9 . Disertasi dan tesis

Tesis dan disertasi yang mewujudkan sebagian besar menyajikan penelitian pendidikan, biasanya ditampung oleh lembaga dan universitas bahwa penghargaan penulis derajat lanjutan mereka. Kadang-kadang studi ini dipublikasikan secara keseluruhan atau sebagian dalam jurnal pendidikan. Disertasi terkait dan tesis adalah sumber utama dari tinjauan literatur .

10 . koran

Koran-koran saat ini memberikan informasi upto- data dan pidato, laporan, konferensi, perkembangan baru di bidang pendidikan. Peristiwa terkini dan berita pendidikan juga dilaporkan dalam koran. Hal ini juga salah satu sumber penting dari kajian pustaka.

Berdasarkan penggunaan acuan diatas yaitu: sumber acuan umum dan khusus, penelitian dapat melakukan dua penelaahan atau analisis dalam mengambarkan kajian pustaka yang berkaitan. Penalaran deduktif dilakuakn berdasarkan teri-teri atau konsep-konsep umum yang ada dan penalaran induktif dilakukan berdasarkan sintesis atau pemaduan hasil-hasil penelitian.

Secara garis besar sumber bacaan ini dibedakan menjadi tiga, yaitu:

1. Referensi umum: sumber yang dijadikan rujukan utama oleh peneliti, misalnya dari artikel tertentu, karangan ilmiah, buku, dan dokumen lainnya yang berkaitan langsung dengan pertanyaan penelitian. Referensi umum merupakan indeks, yaitu daftar pengarang, judul buku, tempat penerbitan artikel atau wacana atau berupa abstrak.

2. Sumber primer: adalah publikasi di mana seseorang melakukan penelitian penelitian kemudian diterbitkan. Penulis mengkomunikasikan temuannya secara langsung kepada pembaca. Sumber primer penelitian pendidikan adalah journal, misalnya Journal of Research in Science Teaching. Ada journal yang diterbitkan bulanan, tiga kali dalam setahun, dan artikel yang dimuat merupakan laporan hasil penelitian.

3. Sumber sekunder: adalah publikasi di mana penulis mendeskripsikan hasil karya orang lain. Sumber sekunder adalah buku (text books), ensiklopedia pendidikan, kajian penelitian, atau buku tahunan

  1. FUNGSI KAJIAN PUSTAKA DALAM PENELITIAN

Kajian pustaka memiliki beberapa fungsi vital yang di dalamnya terdapat aspek-aspek manfaat dalam penggunaannya. Diantara fungsi tersebut adalah sebagai berikut Leedy (dalam Djunaedi, 2000):

1). Mengungkapkan penelitian-penelitian yang serupa dengan penelitian yang (akan) kita lakukan; dalam hal ini, diperlihatkan pula cara penelitian-penelitian tersebut menjawab permasalahan dan merancang metode penelitiannya.

2). Membantu memberi gambaran tentang metoda dan teknik yang dipakai dalam  penelitian yang mempunyai permasalahan serupa atau mirip penelitian yang dihadapi.

3). Mengungkapkan sumber-sumber data (atau judul -judul pustaka yang berkaitan) yang mungkin belum kita ketahui sebelumnya.

4). Mengenal peneliti -peneliti yang karyanya penting dalam permasalahan yang dihadapi (yang mungkin dapat dijadikan nara sumber atau dapat ditelusuri karya-karya tulisnya yang lain yang mungkin terkait.

Baca Juga:   Metode Penelitian Kualitatif Dan Karakteristiknya

5). Memperlihatkan kedudukan penelitian yang (akan) kita lakukan dalam sejarah perkembangan dan konteks ilmu pengetahuan atau teori tempat penelitian ini berada;

6). Mengungkapkan ide-ide dan pendekatan-pendekatan yang mungkin belum kita kenal sebelumya.

7). Membuktikan keaslian penelitian (bahwa penelitian yang kita lakukan berbeda dengan penelitian -penelitian sebelumnya).

8). Mampu menambah percaya diri kita pada topik yang kita pilih karena telah ada pihak-pihak lain yang sebelumnya juga tertarik pada topik tersebut dan mereka telah mencurahkan  tenaga, waktu dan biaya untuk meneliti topik tersebut.

 Dalam penjelasan yang hampir serupa, Castetter dan Heisler (dalam Djunaedi, 2000) menerangkan bahwa kajian pustaka mempunyai enam kegunaan, yaitu:

1). Mengkaji sejarah permasalahan;

2). Membantu pemilihan prosedur penelitian;

3). Mendalami landasan teori yang berkaitan dengan permasalahan;

4). Mengkaji kelebihan dan kekurangan hasil penelitian terdahulu;

5). Menghindari duplikasi penelitian; dan

6). Menunjang perumusan permasalahan.

Pembahasan lebih lanjut tentang kegunaan kajian pustaka dalam tulisan ini mengacu pada penjelasan mereka. Satu persatu kegunaan (yang saling kait mengkait) tersebut dibahas dalam bagian berikut ini:

Kegunaan 1: Mengkaji sejarah permasalahan

Sejarah permasalahan meliputi perkembangan permasalahan dan perkembangan penelitian atas permasalahan tersebut. Pengkajian terhadap perkembangan permasalahan secara kronologis sejak permasalahan tersebut timbul sampai pada keadaan yang dilihat kini akan memberi gambaran yang lebih jelas tentang perkembangan materi permasalahan (kajiandari waktu ke waktu: berkurang atau bertambah parah; apa penyebabnya).

Mungkin saja, kajian seperti ini mirip dengan bagian “Latar belakang permasalahan” yang biasanya ditulis di bagian depan suatu usulan penelitian. Perbedaan dalam kajian pustaka, kajian selalu mengacu pada pustaka yang ada. Pengkajian kronologis atas penelitian–penelitian yang pernah dilakukan atas permasalahan akan membantu memberi gambaran tentang apa yang telah dilakukan oleh peneliti-peneliti lain dalam permasalahan tersebut. Gambaran bermanfaat terutama tentang pendekatan yang dipakai dan hasil yang didapat.

Kegunaan 2: Membantu pemilihan prosedur penelitian

Dalam merancang prosedur penelitian (research design), banyak untungnya untuk mengkaji prosedur-prosedur (atau pendekatan) yang pernah dipakai oleh peneliti-peneliti terdahulu dalam meneliti permasalahan yang hampir serupa. Pengkajian meliputi kelebihan dan kelemahan prosedur-prosedur yang dipakai dalam menjawab permasalahan. Dengan mengetahui kelebihan dan kelemahan prosedur-prosedur tersebut, kemudian dapat dipilih, diadakan penyesuaian, dan dirancang suatu prosedur yang cocok untuk penelitian yang dihadapi.

Kegunaan 3: Mendalami landasan teori yang berkaitan dengan permasalahan

Salah satu karakteristik penelitian adalah kegiatan yang dilakukan haruslah berada pada konteks ilmu pengetahuan atau teori yang ada. Pengkajian pustaka, dalam hal ini, akan berguna bagi pendalaman pengetahuan seutuhnya (unified explanation) tentang teori atau bidang ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan permasalahan. Pengenalan teori-teori yang tercakup dalam bidang atau area permasalahan diperlukan untuk merumuskan landasan teori sebagai basis perumusan hipotesa atau keterangan empiris yang diharapkan.

Kegunaan 4: Mengkaji kelebihan dan kekurangan hasil penelitian terdahulu

Di bagian awal tulisan ini disebutkan bahwa kegunaan kajian pustaka yang dikenal umum adalah untuk membuktikan bahwa penelitian (yang diusulkan) belum pernah dilakukan sebelumnya. Pembuktian keaslian penelitian ini bersumber pada pengkajian terhadap penelitian-penelitian yang pernah dilakukan. Bukti yang dicari bisa saja berupa kenyataan bahwa belum pernah ada penelitian yang dilakukan dalam permasalahan itu, atau hasil penelitian yang pernah ada belum mantap atau masih mengandung kesalahan atau kekurangan dalam beberapa hal dan perlu diulangi atau dilengkapi. Dalam penelitian yang akan dihadapi sering diperlukan pengacuan terhadap prosedur dan hasil penelitian yang pernah ada (lihat kegunaan 2). Kehati-hatian perlu ada dalam pengacuan tersebut. Suatu penelitian mempunyai lingkup keterbatasan serta kelebihan dan kekurangan. Evaluasi yang tajam terhadap kelebihan dan kelemahan tersebut akan  berguna terutama dalam memahami tingkat kepercayaan (level of significance) hal-hal yang diacu. Perlu dikaji dalam penelitian yang dievaluasi apakah temuan dan kesimpulan berada di luar lingkup penelitian atau temuan tersebut mempunyai dasar yang sangat lemah. Evaluasi ini menghasilkan penggolongan pustaka ke dalam dua kelompok:  1. Kelompok Pustaka Utama (Significant literature); dan 2. Kelompok Pustaka Penunjang (Collateral Literature).

 Kegunaan 5: Menghindari duplikasi penelitian

Kegunaan yang kelima ini, agar tidak terjadi duplikasi penelitian, sangat jelas maksudnya. Masalahanya, tidak semua hasil penelitian dilaporkan secara luas. Dengan demikian, publikasi atau seminar atau jaringan informasi tentang hasil-hasil penelitian sangat penting. Dalam hal ini, peneliti perlu mengetahui sumber-sumber informasi pustaka dan mempunyai hubungan (access) dengan sumber-sumber tersebut. Kajian pustaka, berkaitan dengan hal ini, berguna untuk membeberkan seluruh pengetahuan yang ada sampai saat ini berkaitan dengan permasalahan yang dihadapi (sehingga dapat menyakinkan bahwa tidak terjadi duplikasi).

 Kegunaan 6: Menunjang perumusan permasalahan

Kegunaan yang keenam dan taktis ini berkaitan dengan perumusan permasalahan. Pengkajian pustaka yang meluas (tapi tajam), komprehe nsif dan bersistem, pada akhirnya harus diakhiri dengan suatu kesimpulan yang memuat permasalahan apa yang tersisa, yang memerlukan penelitian; yang membedakan penelitian yang diusulkan dengan penelitianpenelitian yang pernah dilakukan sebelumnya.

Selain itu terdapat manfaat utama kajian pustaka berdasarkan kegunaannya. Diantaranya  adalah:

1). Menunjukkan pengetahuan yang menjadi dasar penelitian

2). Memperlihatkan bahwa kita telah membaca banyak tentang topik yang kita teliti

3). Menunjukkan emahaman kritis tentang teori yang diapakai

4). Mengakui hasil karya orang lain dan memberikan penghargaan kepada mereka yang telah bekerja sebelum kita dan hasil karyanya telah mempengaruh cara berpikir kita

5). Memberikan informasi dan memodifikasi penelitian kita

6). Memastikan status penelitian kita dengan menunjukkan bahwa orang lain belum meneliti topi kita atau tidak meneliti dengan cara yang sama atau untuk mengidentifikasi adanya gap dalam bidang yang kita teliti

7). Menunjukkan ketrampilan dan kemampuan analitis dan kritis penulis.

8). Menentukan dari apa yang akan dikaji.

9). Untuk membangun untuk penelitian kita, hal ini penting karena ada orang lain yang meneliti di bidang yang sama dengan kita

10). Menunjukkan pemahaman mutakhir tentang topik yang diteliti

Dalam bukunya, Singh (2008) juga menjelaskan beberapa fungsi dari kajia pustaka. Ada lima fungsi kajian pustaka/literatur :

1). Konseptual kerangka acuan untuk penelitian dimaksud.

2). Pemahaman tentang status penelitian di bidang masalah .

3). Petunjuk untuk pendekatan, metode, instrumentasi dan analisis data penelitian .

4). Perkiraan probabilitas keberhasilan penelitian dipikirkan dan signifikansi atau kegunaan dari temuan dan, dengan asumsi keputusan dibuat untuk melanjutkan .

5). Informasi khusus yang diperlukan untuk menafsirkan definisi , asumsi , keterbatasan dan hipotesis penelitian .

Penjelasan rinci tentang fungsi-fungsi ini dijelaskan sebagai berikut:

1). Bingkai Konseptual Referensi

Fungsi pertama, memberikan kerangka konseptual penelitian yang melibatkan kedua konseptual dan penelitian sastra. Cara yang paling langsung untuk melakukan ini adalah untuk membaca tulisan-tulisan dasar di lapangan sebagai tulisan-tulisan terbaru dari pemikian utama. Semua sudut pandang yang relevan dengan masalah penelitian harus disajikan sebagai kuat sebagai pendukung paling relevan pada sebuah sudut pandang. Fungsi pertama kajian pustaka memberikan kerangka konseptual suara penelitian.

2). Status Penelitian

Fungsi kedua dari kajian pustaka adalah untuk memberikan pemahaman tentang status penelitian di lapangan. Ini berasal dari tinjauan literatur penelitian. Fase ini memiliki beberapa khusus sub-fungsi yang dapat digambarkan dalam hal kata-kata pertanyaan: apa, kapan, siapa dan bagaimana. Keempat kata menyediakan infromation dasar yang mengungkapkan status penelitian. Dalam universitas tertentu atau para ahli komite gelar penelitian dapat membantu dalam arah ini.

Aspek lain dari apa, adalah mempelajari hasil penelitian sebelumnya. Setelah kajian intensif literatur konseptual dan penelitian di bidang tersebut, peneliti dapat mengembangkan keyakinan bahwa ia memiliki penjelasan untuk inkonsistensi.

Selain belajar apa yang telah dilakukan, peneliti berusaha untuk mengidentifikasi ketika penelitian telah dilakukan, khususnya bagaimana penelitian saat ini telah dilakukan.

3). Pendekatan Penelitian, Metode, Instrumentasi dan Analisis Data

Fungsi ini melayani petunjuk metodologi dan instrumentasi. Secara khusus, peneliti akan belajar sejauh mana penelitian sebelumnya telah memanfaatkan survei sejarah, atau pendekatan eksperimental, karena ini akan membantu untuk membimbing pilihannya sendiri melakukan pendekatan penelitian. Untuk alasan yang sama, peneliti akan mengidentifikasi penelitian metode yang telah digunakan sehingga pengalaman dengan ini dapat membantu pilihannya. Akhirnya, peneliti berusaha untuk menjadi akrab dengan instrumen pengumpulan data yang telah digunakan sehingga jika instrumen yang sudah ada sesuai, dan dapat digunakan utuh atau disesuaikan untuk penelitian sendiri.

Untuk pertimbangan ini bagaimana penelitian sebelumnya peneliti harus sama tertarik mengidentifikasi alasan untuk pemilihan metode pendekatan tertentu, atau instrumen. Selanjutnya peneliti juga harus tertarik pada apa pendekatan metode dan instrumen alternatif dianggap dan/atau mencoba dan mengapa ini ditolak. Sayangnya alasan untuk pemilihan penelitian metode pendekatan , dan instrumen, dan pemikiran yang memotivasi penolakan alternatif .

4). Probabilitas Sukses dan Pentingnya Temuan

Keberhasilan yang lain telah melakukan penelitian di bidang masalah dan kegunaan dari temuan penelitian sebelumnya. Apabila orang lain telah sukses dan temuan yang berguna, maka prognosis untuk penelitian sendiri adalah baik, dan keputusan untuk melanjutkan dengan penelitian ini adalah jelas dan sederhana untuk membuat. Namun, jika orang lain telah berhasil dan menghasilkan penelitian meyakinkan atau penelitian nilai kecil, maka peneliti memiliki lebih sedikit jalan untuk membuat keputusan. Untuk literatur yang benar-benar untuk melayani fungsi ini menyediakan sebagai estimasi potensi keberhasilan penelitian dipikirkan, peneliti harus bersedia untuk membuat keputusan negatif untuk meninggalkan atau mengubah proyek , serta yang positif

melanjutkan sebagaimana dimaksud.

5). Definisi , Asumsi , Keterbatasan , dan Hipotesis

Setelah mempertimbangkan isi kajian pustaka dan ​​dapat menyimpulkan bahwa ada ekspektasi yang wajar bahwa peneliti akan berhasil menyelesaikan penelitian dipikirkan dengan hasil yang akan memberikan kontribusi bidangnya. Lalu peneliti akan menggunakan bahan dari literatur sebagai dasar untuk menyatakan definisinya, asumsi, keterbatasan, dan hipotesis. Setelah membaca karya-karya menyajikan pendapat dan teori dalam bidang masalah, dan setelah meninjau penelitian yang relevan juga, peneliti harus benar-benar akrab dengan cara di mana istilah telah digunakan , baik dalam arti teoritis dalam konseptual sastra, dan dalam arti lebih fungsional dalam literatur penelitian.

 

  1. PENELUSURAN KAJIAN PUSTAKA DALAM PENELITIAN

Penelitian dimulai dengan penelusuran pustaka yang berhubungan dengan subyek penelitian tersebut. Penelusuran pustaka merupakan langkah pertama untuk mengumpulkan informasi yang relevan untuk penelitian. Penelusuran pustaka dapat menghindarkan duplikasi pelaksanaan penelitian. Dengan penelusuran pustaka dapat diketahui penelitian yang pernah dilakukan dan dimana hal itu dilakukan.

Bagi seorang peneliti membaca hasil penelitian orang lain, selain mutlak harus dilakukan untuk membantu mengorientasikan dirinya, juga akan memberikan berbagai keuntungan. Karena hal itu akan memberi informasi tentang kegiatan yang pernah dikerjakan orang dan menunjukkan batas perkembangan yang dicapai ilmu. Kepustakaan akan memberikan daerah yang belum diketahui ilmu.

Pada penelusuran kepustakaan peneliti melakukan uji awal, atas gagasan-gagasan awalnya, atas formulasi awalnya untuk menyelesaikan masalah penelitian. Pada saat ini, (hampir) tidak mungkin ada salah satu masalah dalam cabang ilmu tertentu yang belum pemah diteliti sama sekali. Selalu akan dijumpai, penelitian-penelitian terdahulu yang sejalan/sejenis/dekat dengan penelitian yang sedang dilakukan. Oleh karena itu peneliti harus sangat hati-hati menempatkan penelitiannya pada ‘jalur’ yang tepat sehingga tidak terjadi duplikasi.

Pada penelusuran kepustakaan diuraikan secara sistematik semua keterangan yang diperoleh dari pustaka. Perlu diperhatikan bahwa ‘pendapat pribadi’ tentang penelitian yang sedang dilakukan tidak boleh diikutkan dalam kajian pustaka, kecuali kalau ‘pendapat pribadi’ itu diacu dari peneliti terdahulu.

Setelah masalah dirumuskan, maka langkah selanjutnya adalah mencari teori-teori, konsep-konsep, generalisasi-generalisasi yang dapat dijadikan landasan teoritis bagi penelitian yang akan dilakukan. Landasan ini perlu ditegakkan agar penelitian mempunyai dasar yang kokoh, dan bukan sekedar perbuatan coba-coba (trial and error). Untuk mendapatkan informasi mengenai berbagai hal yang disebutkan di atas itu orang harus melakukan penelahaan kepustakaan. Memang, pada umumnya lebih dari lima puluh persen kegiatan dalam seluruh proses penelitian itu adalah membaca. Karena itu sumber bacaan merupakan bagian penunjang yang esensial.

Secara garis besar, sumber bacaan itu dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu (a) sumber acuan umum, dan (b) sumber acuan khusus. Teori-teori dan konsep-konsep pada umumnya dapat diketemukan dalam sumber acuan umum, yaitu kepustakaan yang berwujud buku-buku teks, ensiklopedia, monograp, dan sejenisnya. Generalisasi-generalisasi dapat ditarik dari laporan hasil-hasil penelitian terdahulu yang relevan bagi masalah yang sedang digarap. Hasil-hasil penelitian terdahulu itu pada umumnya dapat diketemukan dalam sumber acuan khusus, yaitu kepustakaan yang bersifat jurnal, buletin penelitian,. tesis, disertasi, dan lain-lain sumber bacaan yang memuat laporan hasil penelitian. Dua kriteria yang biasa digunakan untuk memilih sumber bacaan adalah (a) prinsip kemutakhiran (recency), dan (b) prinsip relevansi (relevance).

Baca Juga:   Sejarah SPSS

Dari teori-teori atau konsep-konsep umum dilakukan perincian atau analisis melalui penalaran deduktif, sedangkan dari hasil-hasil penelitian dilakukan pemaduan atau sintesis dan generalisasi melalui penalaran induktif. Proses induksi dan deduksi itu dilakukan secara interaktif, dan dari deduksi dan induksi yang berulang-ulang itu diharapkan dapat dirumuskan jawaban terhadap masalah yang telah dirumuskan, yang paling mungkin dan paling tinggi taraf kebenarannya. jawaban inilah yang dijadikan hipotesis penelitian.

Seperti telah sebutkan di atas, sebagian besar kegiatan dalam keseluruhan proses penelitian adalah membaca, dan membaca itu hampir seluruhnya terjadi pada langkah penelahaan kepustakaan ini. Orang harus membaca dan membaca, dan menelaah yang dibaca itu setuntas tuntasnya, agar dia dapat menegakkan landasan yang kokoh bagi langkah langkah berikutnya. Membaca merupakan keterampilan yang harus dikembangkan dan dipupuk.

Penyusunan landasan teoritis tidak akan produktif sebelum bahannya cukup banyak. Karena itu perlu lebih dahulu dibaca banyak-banyak sumber-sumber bacaan, baru kemudian dikajian, dibanding-bandingkan, lalu diambil kesimpulan-kesimpulan teoritis. Supaya hasil pembacaan itu dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya, perlulah hal tersebut direkam (dicatat) dengan cara yang mudah pemanfaatannya. Informasi nama yang perlu dicatat, tidak ada aturan umumnya. Sementara orang menganggap informasi minimal, yaitu informasi yang berisi hal-hal seperti yang tertulis dalam katalog di perpustakaan, telah cukup, sementara

orang-orang yang lain menganggap bahwa catatan itu perlu memuat intisari atau garis-garis besar isi bacaan. Untuk Indonesia, kiranya pendapat yang ke dua itulah yang lebih sesuai, karena pada umumnya sumber bacaan sangat terbatas, sehingga ada kemungkinan sumber yang pernah dibaca tidak lagi tersedia di perpustakaan sewaktu diperlukan kembali.

Dari informasi-informasi yang telah terkumpul sebagai hasil kegiatan membaca itulah peneliti melakukan penelahaan lebih lanjut terhadap masalah yang digarapnya. Dengan deduksi dia berusaha melakukan pemerincian atau pengkhususan, dengan induksi dia melakukan pemaduan dan pembuatan generalisasi-generalisasi, dan akhirnya meramu kesemua bahan itu ke dalam suatu sistem yang berupa kesimpulan-kesimpulan teoritis, yang akan menjadi landasan bagi penyusunan hipotesis penelitian. Di dalam kesimpulan-kesimpulan teoritis itu peneliti harus mengidentifikasikan hal-hal atau faktor-faktor utama yang akan digarap dalam penelitiannya. Faktor-faktor inilah yang akan menjadi variabel-variabel yang akan digarap dalam penelitiannya. Peramuan ini penting, karena di situlah letak mutu sistem pemikiran teoritis si peneliti. Penyatuan hasil-hasil bacaan secara kronologis dan kompilatif saja tidak cukup. Hasil-hasil itu harus diramu berdasarkan suatu garis pemikiran yang konsisten. Garis pemikiran inilah yang melandasi kesimpulan- kesimpulan teoritis yang menjadi dasar hipotesis penelitian.

Sebuah penelusuran pustaka yang baik harus memenuhi tiga tujuan utama, yaitu:

  • memperoleh perspektif yang ilmiah
  • menghindari duplikasi penelitian
  • menghindari masalah konsepsual dan prosedural

Setelah mengetahui tujuan utama dari penelusuran pustaka yang baik, di bawah ini dipaparkan tentang  teknik penelusuran pustaka :

1). Cara manual

– mengunjungi perpustakaan;

– mengunjungi tempat-tempat sumber informasi (BPS).

2). Pencarian Pustaka secara elektronis/on-line

Pada saat ini, banyak informasi ilmiah yang tersedia untuk diakses secara elektronis atau on-line. Informasi ilmiah tersebut tersedia dari media seperti: CD-ROM (yang dibaca lewat komputer), pita rekaman suara, pita rekaman video, dan lewat internet. Beberapa keuntungan mencari informasi ilmiah secara on-line, yaitu antara lain: tersedia jutaan informasi dalam bentuk elektronis yang dipasarkan mendunia, publikasi elektronis biasanya lebih baru karena prosesnya lebih cepat daripada publikasi cetak, dan pencarian informasi berkecepatan tinggi (karena menggunakan komputer).  Masalah yang saat ini dihadapi adalah beberapa institusi pendidikan belum mempunyai standar pengacuan bagi informasi ilmiah yang didapat dari sumber elektronis.

Selain itu penelusuran pustaka juga meliputi hal-hal berikut,antara lain:

1. Memilih bidang dan deskriptor yang sesuai dengan minat,

2. Menelusur judul-judul dan abstrak yang relevan,

3. Menempatkan dokumen sumber-sumber primer yang sangat penting.

Penelusuran literatur atau pustaka memerlukan suatu arahan dan fokus. Langkah pertama adalah mengidentifikasi bidang kajian yang sesuai dan sekaligus termasuk deskriptornya. Langkah berikutnya adalah menelusur judul-judul dan abstrak yang relevan. Penelusuran yang baik mencakup tiga kategori dokumen, yaitu:

1. Artikel-artikel yang diterbitkan,

2. Artikel-artikel yang tidak diterbitkan,

3. Disertasi atau tesis.

Diantara tiga dokumen penting yaitu artikel-artikel jurnal, disertasi atau tesis, dan laporan tak dipublikasikan (laporan penelitian), artikel-artikel jurnal adalah paling ringkas dan secara teknis paling baik karena adanya tuntutan yang amat tinggi dari jurnal yang akan diterbitkan. Dalam mengkaji bahan pustaka kita dapat melakukan dengan cara mengidentifikasi sumber atau bahan yang relevan dengan masalah penelitian, mencari judul-judul hasil penelitian yang relevan, memilih dan memilah sumber pustaka yang paling relevan dari hasil penelitian, menyusun bahan pustaka mana yang paling sesuai untuk mendukung penelitian, menuliskan bagian kajian literatur, dan menyusun bahan acuan.

  1. PENGKAJIAN KAJIAN PUSTAKA DALAM PENELITIAN

Setelah kita mengatahui sumber-sumber bahan bacaan, kita pun perlu mengatahui langkah-langkah mengkaji dan mengumpulkan hasil kajian, dua hal yang kami rangkumkan adalah membaca dan mencatat, serta mengenal perpustakaan.

  1. Membaca dan Mencatat

Membaca dan mencatat adalah bagian terpenting dalam kajian teks/pustaka. Membaca adalah melakukan kegiatan studi pustaka yang mempunyai fungsi dan kegunaan memperoleh ilmu pengetahuan dan metodologi serta data-data yang relevan dengan rencana penelitian yang akan dilakukan. Membaca dalam arti sekedarnya saja tentu mudah dilakukan, namun membbaca untuk memperoleh dalil, konsep, variable, hasil-hasil penelitian dan lain sebagainya yang dibutuhkan dalam membuat rencana penelitian tentu tidak mudah seperti yang dibayangkan. Untuk memudahkan kegiatan membaca yang “berhasil guna”, Supardi memberikan petunjuk sebagai berikut:

  • Bacalah secara sepintas dari keseluruhan sumber pustaka yang telah ditentukan.
  • Ulangi secara mendalam untuk masing-masing bab yang terdapat pada sumber pustaka yang dibaca dan segera buatlah kutipan informasi dan data yang kiranya diperoleh yang relevan dengan yang dibutuhkan untuk rencana penelitian yang akan disusun.
  • Kemudian buatlah kutipan sebagai hasil kegiatan membaca dengan mencatat apa yang akan diambil atau dikutip.

Dalam menyusun kutipan dapat melakukannya dalam berbagai bentuk yang diantaranya adalah sebagai berikut:

  1. Quotasi, adalah mengutib secara langsung tanpa mengubah satu katapun dari kata-kata pengarang. Dalam hal ini harus digunakan dua tanda kutib.
  2. Paraphrase, adalah mengutib seluruh isi bacaan dengan menggunakan kata-kata si peniliti atau si pembaca sendiri.
  3. Summary atau Ikhtisar, adalah mencatat sinopsis atau kependekan dari keseluruhan pemikiran yang ada dalam bacaan dengan menggunakan kata-kata sendiri.
  4. Precis (baca:praisi), adalah kependekan isi yang lebih padat dari summary, dengan memilih secara hati-hati materi yang akan dipendekkan dengan menggunakan kata-kata sendiri yang tidak lari dari rencanna orisinal artikel.

Agar hasil mebaca dapat didokumentasikan, maka kutipan yang disusun tadi perlu dilakukan pencatatan secara sistematis dan praktis. Mencatat hasil bacaan diseyogyakan menggunakan model kartu. Buatlah kartu ukuran (misalnya) 7,5 X 12,5 cm atau lebih kecil/besar (sesuai dengan tingkat kepraktisan masing-masing) dari kertas manila atau linen baik berwarna putih maupun berwarna-warni.  Walaupun hal ini tergantung pada selera, namun bagian-bagian terpenting harus dituliskan, antara lain :

  • Nama variable
  • Nama pengarang atau pencetus ide tentang pokok masalah
  • Nama sumber dimana dimuat penjelasan tentang variable atau pokok masalah
  • Tahun yang menunjukan pada waktu sumber tersebut dibuat atau diterbitkan
  • Nama instansi (lembaga, unit, penerbit, dan sebagainya) yang bertanggung jawab atas penulisan atau penerbitan suber kajian.
  • Nama kota tenpat penulisan atau penerbitan sumber kajian.
  • Isi penjelasan tentang variabel atau pokok masalah.
  1. Mengenal Perpustakaan (Library)

Sumber bacaan (teks/pustaka), sebagian besar akan diketemukan di perpustakaan. Perpustakaan secara umum dapat diartikan sebagai tempat pengelolahan bahan-bahan bacaan yang dilembagakan dan dikelola secara professional. Namun bukan berarti sumber bacaan hanya ditemukan di perpustakaan perguruan tinggi, lembaga penelitian dan instansi lainnya. Akan tetapi pustaka lebih luas dapat juga diperoleh dari perpustakaan pribadi, took buku, museum dan sebagainya.

Seorang peneliti juga sedikit banyak harus mengenal seluk beluk tentang perpustakaan. Mengenal perpustakaan berarti akan mengenal tentang sistem pelayannan dan catalog. Sistem pelayanan. sistem pelayanan perpustakaan pada umumnya dibagi menjadi dua macam sistem yaitu, sistem terbuka (self servicce) dan sistem tertutup. Sistem terbuka adalah system pelayanan yang para peminat baca dapat langsung menunjuk tempat penyimpan dan penyediaan buku atau bahan yang diperlukan. Sedangkan sistem tetutup adalah pelayanan perpustakaan dimana para peminat baca tidak dapat secara langsung melihat, memilih dan mengambil bahan bacaan yang diperlukan.

Dari kedua sistem tersebut paling tidak pembaca/peminjam buku harus mengenal sistem katalog yang diatur oleh perpustakaan tersebut. Pada dasaranya katalog merupakan kartu-kartu daftar koleksi bacaan yang dapat disediakan oleh perpustakaan tetentu. Kartu katalog biasanya memberi informasi tentang nama penulis, judul,  edisi (kalau ada), nama penerbit, tahun penerbitan, maupun data-data dari bahan bacaan tersebut lainnya. Dewasa ini katalogisasi perpustakaan pada institusi yang mampu telah dilaksanakna dengan berbasis komputerisasi catalog perpustakaan. Sehingga secara cepat dan akurat pengunjung memperoleh referensi yang sesuai keinginan.

  1. PEREKAMAN KAJIAN PUSTAKA DALAM PENELITIAN

Secara sederhana studi teks (kajian pustaka) sebenarnya menekankan pada pemahaman seseorang (peneliti) terhadap sebuah makna teks. Jika demikian maka apa pun pemahaman seseorang terhadap teks merupakan hak dari setiap individu sesuai dengan perspektif dan kepentingannya sendiri-sendiri, tanpa harus terikat dari pemikiran dan kemauan penggagasnya. Agar dapat mengungkap makna dengan benar maka disini seorang peneliti perlu membedakan beberapa komponen yang penting dalam proses pemaknaan teks yakni; 1) terjemah atau translation, 2) tafsir atau interpretasi 3) ekstrapolasi, dan 4) pemaknaan atau meaning.

Terjemah merupakan upaya mengemukakan materi atau substansi yang sama dengan media yang berbeda, media tersebut mungkin berupa bahasa yang satu ke bahasa yang lain, dari verbal gambar dan sebagainya. Sementara penafsiran tetap berpegang pada materi yang ada, dicari latar belakangnya, konteksnya agar dapat pemahaman yang lebih jelas. Ekstrapolasi  lebih menekankan pada kemampuan daya pikir manusia untuk menangkap hal dibalik yang ada.

Sementara memberikan makna adalah hal yang lebih dalam dari tafsir, dan mempunyai kesejajaran dengan ekstrapolasi. Pemaknaan lebih menuntut kemampuan integratif manusia seperti indrawi, daya pikir, dan akal dan budinya. Materi yang disajikan, seperti juga ekstrapolasi dilihat tidak lebih dari tanda-tanda atau indikator bagi sesuatu yang lebih jauh.

Tidak jarang kita jumpai didalam proposal  penelitian, tumpukan buah pikiran orang-orang penting, uraian tenttang kebijakan, laporan hasil penelitian dan lain-lain yang merupakan hasil kajian seorang peneliti, tanpa ditambah sedikitpun dengan ulasan atau kesimpulan peneliti tentang isi hasil kajian tersebut. Dengan sendirinya cara menuangkan hasil kajian seperti itu bukan sesuatu  yang dikehendaki bagi penyajian hasil karya seperti tulisan yang berkenaan dengan kegiatan penelitian.

Secara tegas (pada prinsip akademis) Arikunto mengatakan bahwa ada peneliti yang dapat dikategorikan sebagai “ilmuan yang ketinggalan zaman!”, mereka itulah peneliti yang kurang antisipatif, sehingga permasalahan yang diteliti sudah pernah menjadi topik penelitian yang lain bahkan mungkin sudah menjadi laporan jurnal atau bahkan telah menjadi pembendaharaan ilmu pengetahuan yang belm diketahui oleh peneliti. Disinilah tampak lagi pentingnya membaca dan menelaah sumber bahan pustaka agar dia mengetahui secara terus-menerus (sekali dan sekali lagi).

Bagian dari proposal yang lengkap, yaitu proposal untuk penyusunan tesis mahasiswa S2 dan disertasi untuk calon doctor yang juga memerlukan hasil kajian pustaka/teks sebagai dukungan teori yang dikenal dengan “kerangka teori” dan “kerangka berfikir”. Kerangka teori adalah bagian dari penelitian, tempat peneliti memberikan penjelasan tentang hal-hhal yang berhubungan dengan variabel pokok, sub variabel atau pokok masalah yang ada dalam penelitiannya. Sedangkan kerangka berfikir adalah bagian teori dari penelitian yang menjelaskan tentang alasan atau argumentasi bagi rumusan hipotesis. Kerangka berfikir merumuskan alur berfikir peneliti dan memberikan penjelasan kepada orang lain mengapa dia mempunyai anggapan seperti yang diutarakan dalam hipotesis. Hal ini tentu penulisannya berdasarkan pendapat para ahli yang mendahuluinya.

Menuangkan hasil kajian di dalam sebuah narasi bukan merupakan pekerjaan yang mudah. Di dalam buku-buku penelitian banyak disebutykan bahwa menuangkan hasil kajian dapat dilakukan denmgan dua cara yaitu, kutipan langsung dan kutipan tidak langsung

1). Kutipan lansung, yaitu apabila peneliti dalam menuangkan hasil kajian memindahkan hasil karya orang lain masih dalam bentuk asli, baik utuh maupun sebagian.

Baca Juga:   Kelebihan dan Kekurangan Penelitian Kualitatif

2). Kajian tidak langsung, yaitu apabila di dalam menuangkan hasil kajian peneliti telah menuangkan dalam bentuk intisari, makna pengertian atau  meramunya  dengan hasil-hasil karya yang lain. Di dalam kutipan tidak langsung pembaca agak sukar melihat wujud asli hasil karya dari pencetus ide, tetapi masih dapat memahami isi pengertian atau konsepnya.

Dalam melakukan aktivitas kajian kepustakaan yang paling penting adalah membuat catatan hasil kajian pustaka sebab dengan catatan yang sistematis memudahkan peneliti mencari kembali apabila sewaktu-waktu dibutuhkan, juga penggunaanya dikelak kemudian hari. Apabila cara pencatatan dari peneliti kurang sistematis, kurang hati-hati, atau peneliti tidak menyimpannya, maka kemungkinannya terlupakan apa yang telah dibaca atau  yang  telah dicatat. Selanjutnya hasil dari catatan kajian kepustakaan tersebut dapat diklasifikasi atas empat prinsip, antara lain:

1. Quation, kalimat per kalimat apa yang ditulis oleh penulis dikutip, bahkan apabila perlu di-copy, sehingga memudahkan bagi peneliti dalam penyusunan catatan kaki (footnote).

2. Paraphrase, peneliti mencatat konklusi pernyataan penulis dalam bentuk bahasa peneliti.

3. Summary, Isi artikel dikutip oleh peneliti dalam bentuk pernyataan.

4. Evaluation, peneliti mencoba mengungkapkan reaksinya, setuju ataupun tidak setuju terhadap pernyataan peenulis pustaka, atau peneliti mencantumkan interpretasinya.

Secara teknis penulisan catatan hasil kajian pustaka dapat diwujudkan dalam bentuk “index card system” yang ada pada perpustakaan, baik yang berkaitan dengan kode sumber (journal, textbook, thesis, disertasi, professional paper, other source type), maupun berdasarkan kode dasar warna, serta berbagai modifikasi yang dapat memperjelas ataupun mempertegas penggunaannya sehingga tidak membingungkan peneliti.

Di samping itu penting untuk dipahami oleh peneliti bahwasannya kajian pustaka mencakup kajian teori dan temuan hasil penelitian yang relevan sebagai acuan dan landasa untuk menunjukkan ketepatan tentang tindakan yang akan dilakukan dalam mengatasi permasalahan penelitian.

  1. KAJIAN PUSTAKA DIBERBAGAI MACAM PENELITIAN
  • Kuantitatif

Sebelum mengajukan hipotesis peneliti wajib mengkaji teori-teori dan hasil-hasil penelitian yang relevan dengan masalah yang di teliti yang dipaparkan dalam Bab Kajian Pustaka. Kajian Pustaka di sini memuat dua hal pokok, yaitu:

  1. Deskripsi teoritis tentang objek(variabel) yang di teliti.
  2. Kesimpulan tentang kajian yang antara lain berupa argumentasi atas hipotesis yang diajukan.

Untuk dapat memberikan deskripsi teoritis terhadap variabel yang diteliti, maka diperlukan kajian teori yang mendalam. Selanjutnya, argumentasi atas hipotesis yang diajukan menuntut peneliti untuk mengintegrasikan teori yang dipilih sebagai landasan penelitian dengan hasil kajian mengenai temuan penelitian yang relevan. Pada bagian akhir dari kajian pustaka dalam tesis dan disertasi penelitian kuantitatif perlu ada bagian tersendiri yang berisi penjelasan tentang pandangan atau kerangka berpikir yang digunakan peneliti berdasarkan teori-teori yang dikaji.

  • Kualitatif

Dalam penelitian kualitatif, kajian pustaka ( literature  review) merupakan bagian yang sangat penting. Berbeda dengan penelitian kuantitatif, tujuan pokok melakukan kajian pustaka dalam penelitian kualitatif bukan untuk mengemukakan teori yang relevan yang kemudian dideduksikan pada gejala yang hendak diteliti untuk kemudian peneliti membangun hipotesis dan mengupayakan operasionalisasi konsep serta kemudian pengukuran-pengukuran, melainkan untuk melakukan jelajahan literatur guna menemukan beberapa hal, misalnya gambaran bagaimana  penelitian dengan topik yang sama atau mirip telah dilakukan oleh peneliti lain, penggunaan konsep-konsep tertentu oleh peneliti lain yang mungkin juga akan digunakan atau setidaknya dianggap relevan dan temuan-temuan empirik oleh peneliti lain yang mungkin dapat dirujuk.

Sesuatu yang sangat menarik dalam penelitian kualitatif terkait dengan kajian pustaka ini adalah, bahwa upaya kajian pustaka tetap dilakukan pada saat peneliti mencoba mengupayakan analisis data dan hendak menarik  simpulan.  Di sini, ada kemungkinan peneliti harus membuang sebagian data yang diyakini tidak relevan (reduksi data) , mengganti konsep yang telah dijelaskan sebelumnya dengan konsep baru atau konsep lain yang lebih tepat, atau peneliti harus membuang pandangan-pandangan  teoritik dan atau temuan peneliti lain yang belakangan diyakini tidak atau kurang relevan lagi untuk diganti dengan pandangan teoritik lain yang sekiranya lebih dapat membantu upaya memahami kecenderungan dari data yang ada.

Secara lebih terinci kajian pustaka dalam penelitian kualitatif memiliki beberapa tujuan penting yang beberapa di antaranya adalah sebagai berikut:

  1. Menemukan acuan definisi bagi konsep-konsep penting yang digunakan, serta penjelasan aspek-aspek yang tercakup di dalamnya. Meskipun penelitian kualiatif tidak pernah dimaksudkan untuk menguji hipotesis sehingga peneliti memang tidak harus berpegang pada definisi-definisi tertentu untuk konsep-konsep yang digunakan, tetapi peneliti tetap membutuhkan penjelasan mengenai konsep yang dihadirkan.
  2. Memeroleh pijakan untuk dapat mengemukakan penjelasan-penjelasan teoritik tentang pendekatan-pendekatan yang digunakan peneliti dalam uyapa menjawab pertanyaan-pertanyaan penelitian.
  3. Memeroleh acuan dalam upaya mengidentifikasikan dan mengemukakan justifikasi mengenai ruanng-ruang lingkup dari gejala komunikasi yang diteliti.
  4. Memeroleh ilustrasi penelitian sejenis baik dilihat daris egi metode dan atau prosedur penelitian yanag digunakan maupaun temuan-temuan yang dihasilkan peneliti lain.
  5. Membantu menemukan keyakinan mengenai posisi-posisi penelitian yang sedang dilakukan di antara penelitian-penelitian lain yang  sudah ada sebelumnya, sambil mengemukakan catatan-catatan kritis terhadap penelitian-penelitian lain yang sudah ada, baik berkenanan dengan prosedur penelitian maupun pendekatan-pendekatan yang digunakan.
  6. Dapat mengemukakan penegasan mengenai posisi hasil ( temuan) penelitian yang dilakukan di antara hasil-hasil (temuan ) penelitian lain.
  • Pengembangan

Mengungkapkan kerangka acuan komprehensif mengenai konsep, prinsip, atau teori yang digunakan sebagai landasan dalam memecahkan masalah yang di hadapi atau dalam mengembangkan produk yang diharapkan (PPKI UM (2007:37))

Uraian-uraian dalam bab ini diharapkan menjadi landasan teoritik mengapa masalah itu perlu dipecahkan dan mengapa cara pengembangan produk tersebut dipilih. Di samping itu, bagia ini juga dimkasudkan untuk memberikan gambaran tentang kaitan upaya pengembangan dengan upaya-upaya yang lain yang mungkin sudah pernah ada dan ditempuh oleh peneliti lain . sehingga dalam hal ini upaya pengembangan yang dilakukan memiliki landasan empiris yang kuat dan mantap.

  • Perujukan Dan Pengutipan

Bagian ini berisi petunjuk yang berkaitan dengan cara merujuk, mengutip secara langsung atau tidak langsung, dan cara menulis daftar rujukan dan berbagai sumber.

  • Cara Merujuk

Perujukan dilakukan dengan menggunakan nama akhir dan tahun di antara tanda kurung. Jika ada dua penulis, perujukan dilakukan dengan cara menyebut nama akhir kedua penulis tersebut. Jika penulisnya Iebih dan dua orang, penulisan rujukan dilakukan dengan cara menulis nama pertama dan penulis tersebut diikuti dengan dkk. Jika nama penulis tidak disebutkan, yang dicantumkan dalam rujukan adalah nama lembaga yang menerbitkan, nama dokumen yang diterbitkan, atau nama koran.

Untuk karya terjemahan, perujukan dilakukan dengan cara menyebutkan nama penulis aslinya. Rujukan dan dua sumber atau Iebih yang ditulis oeh penulis yang berbeda dicantumkan dalam satu tanda kurung dengan titik koma sebagai tanda pemisahnya.

Dalam merujuk, hindari penggunaan catatan kaki untuk mencantumkan sumbernya rujukan. Catatan kaki hanya digunakan untuk memberi keterangan yang sangat diperlukan, misalnya untuk memberi keterangan tentang isi teks atau tentang mekalah yang disajikan dalam suatu kegiatan, tempat, dan waktu kegiatn ilmiah (seminar, pelatihan, atau lokakarya).

Sumber rujukan anonim tidak dikehendaki. Mengutip kutipan juga tidak diperkenankan. Pengutipan dapat dilakukan secara Iangsung atau tidak langsung. Namun pengutipan sebaiknya dilakukan secara tidak Iangsung untuk menghindarj parade pengutipan. Pengutipan secara Iangsung hendaknya dilakukan hanya atas pernyataanpernyataan yang “fenomenal” atau “monumental” dan tokoh atau karya legendaris.
Cara Menulis Kutipan Langsung

Kutipan Kurang dan 40 Kata

Kutipan yang berisi kurang dan 40”kata ditulis di antara tanda kutip (“…“) sebagai bagian yang terpadu dalam teks utama, dan diikuti nama penulis, tahun dan nomor halaman. Nama penulis dapat ditulis secara terpadu dalam teks atau menjadi satu dengan tahun dan nomor halaman di dalam kurung. Lihat contoh berikut.

Nama penulis disebut dalanm teks secara terpadu.

Contoh:

Soebronto (1990:123) menyimpulkan “ada hubungan yang erat antara faktor sosial ekonomi dengan kemajuan belajar”.

               Nama penulis disebut bersama dengan tahun penerbitan dan nomor halaman.

Contoh:

Kesimpulan dan penelitian tersebut adalah “ada hubungan yang erat antara faktor sosial ekonomi dengan kemajuan belajar” (Soebronto, 1990:123).
Jika ada tanda kutip dalam kutipan, digunakan tanda kutip tunggal (‘...‘).

Contoh:

Kesimpulan dan penelitian tersebut adalah “terdapat kecenderungan semakin banyak ‘campur tangan’ pimpinan perusahaan semakin rendah tingkat partisipasi karyawan di daerah perkotaan”(Soewignyo, 1991:101).
Kutipan 40 Kata atau Lebih
Kutipan yang berisi 40 kata atau Iebih ditulis tanpa tanda kutip secara terpisah dan teks yang mendahulul, ditulis 1,2 cm dan garis tepi sebelah kin dan kanan, dan diketik dengan spasi tunggal. Nomor halaman juga harus ditulis.

Contoh:

Smith (1990: 276) menarik kesimpulan sebagai berikut.
The ‘placebo effect’, which had been verified in previous studies, disappearedwhen behaviors were studied in this manner. Furthermore, the behaviors werenever exhibited again, even when real drugs were administered. Earlier studieswere clearly premature in attributing the results to a placebo effect.
    Jika dalam kutipan terdapat paragraf baru lagi, garis barunya dimulai 1,2 cm dan tepi kiri garis teks kutipan.

Kutipan yang Sebagian Dihilangkan
    Apabila dalam mengutip Iangsung ada kata-kata dalam kalimat yang dibuang, maka kata-kata yang dibuang diganti dengan tiga titik.
Contoh:

“Semua pihak yang terlibat dalam pelaksanaan pendidikan di sekolah ... diharapkan sudah melaksanakan kurikulum baru” (Manan, 1995: 278).
    Apabila ada kalimat yang dibuang, maka kalimat yang dibuang diganti dengan empat titik.

Contoh:

“Gerak manipulatif adalah keterampilan yang memerlukan koordinasi antara mata, tangan, atau bagian tubuh lain .... Yang termasuk gerak jnanipulatif antara lain adalah menangkap bola, menendang bola, dan menggambar” (Asim, 1995: 315).
Cara Menulis Kutipan Tidak Langsung
Kutipan yang disebut secara tak langsung atau dikemukakan dengan bahasa penulis sendiri ditulis tanpa tanda kutip dan terpadu dalam teks. Nama penulis bahan kutipan dapat disebut terpadu dalam teks. Nama penulis bahan kutipan dapat disebut terpadu dalam teks, atau disebut dalam kurung bersama tahun penerbitan.

Kaitan Kajian Pustaka dengan Daftar Pustaka

Di bagian awal tulisan in telah disebutkan bahwa sering terdapat penulisan kajian pustaka yang mirip daftar pustaka. Misal: “Tentang hal A dibahas oleh si H dalam buku . . . . . . , si B dalam buku . . . . . . ; sedangkan tentang hal J diterangkan oleh si P dalam buku . . . . . . “. Peninjauan seperti ini biasanya tidak menyebutkan apa yang dijelaskan oleh masing masing pustaka secara rinci (hanya menyebutkan siapa dan dimana ditulis).

Penyebutan judul buku, yang seringkali tidak hanya sekali, tidak efisien dan menyaingi tugas daftar pustaka. Dalam tulisan ini, cara peninjauan seperti itu tidak disarankan. Pengacuan pustaka dalam kajian pustaka dapat dilakukan dengan cara yang bermacam-macam, antara lain: penulisan catatan kaki, dan penulisan nama pengarang dan tahun saja. Setiap cara mempunyai kelebihan dan kekurangan; tapi peninjauan tentang kelebihan dan kekurangan tersebut di luar lingkup tulisan ini.

Dalam tulisan ini hanya akan dibahas pemakaian cara penulisan nama akhir pengarang dan tahun penerbitan (dan sering ditambah dengan nomor halaman. Pengacuan cara di atas mempunyai kaitan erat dengan cara penulisan daftar pustaka.

Penulisan daftar pustaka umumnya tersusun menurut abjad nama akhir penulis; dengan format: nama penulis, tahun penerbitan dan seterusnya. Susunan dan format daftar pustaka tersebut memudahkan untuk membaca informasi yang lengkap tentang yang diacu dalam kajian pustaka. Misal, dalam kajian pustaka:

“. . . . . . Mittra (1986) . . . . . .”

Dalam daftar pustaka, tertulis:

Mittra, S. S., 1996, Decision Support System: Tools and Techniques, John Wiley & Sons, New York, N. Y.

Sering terjadi, seorang penulis (usulan penelitian atau karya tulis) ingin menunjukan bahwa bahan bacaannya banyak; meskipun tidak dibahas dan tidak diacu dalam tulisannya, semuanya ditulis dalam daftar pustaka. Maksud yang baik ini sebaiknya ditunjukan dengan membahas dan mengemukakan secara jelas (menurut aturan pengacuan) apa yang diacu dari pustaka-pustaka tersebut dalam tulisannya. Tentunya hal yang sebaliknya, yaitu menyebut nama pengarang yang diacu dalam kajian pustaka tanpa menuliskannya dalam daftar pustaka (karena lupa) tidak perlu terjadi.

Demikian artikel singkat tentang Pengertian dan Definisi Kajian Pustaka semoga dapat dijadikan referensi bagi anda, dan jika dirasa artikel ini bermanfaat bagi anda, silahkan share artikel ini. Terima Kasih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.