Pengertian Model Pembelajaran Discovery Strategy

Diposting pada

Penerapan strategi pembelajaran kreatif dan inovatif yang dimaksud adalah pembelajaran berdasarkan penemuan (discovery based learning). Konsep ini, sejatinya masih terlalu asing bagi para siswa yang mengikuti proses pembelajaran disekolah mereka masing-masing. Gagasan strategi tersebut membutuhkan waktu lama dalam konteks pemahaman secara integral. Tidak heran bila pembelajaran discovery strategy sangat membutuhkan nalar kemampuan intelektual yang tinggi sebagai pijakan fundamental dalam mendapatkan pengalaman yang baru (new experience). Pada titik inilah, reorientasi model pembelajaran yang efektif terjadi, di mana seseorang guru dapat memberikan kesempatan sepenuhnya kepada siswa untuk menuangkan gagasan-gagasan yang dapat dipertanggung jawabkan. Hal tersebut mencakup penerapan discovery strategy yang dianggap relevan dengan realitas kehidupxsaan dan mampu memberikan ransangan positif bagi mereka untuk terlibat lansung, baik secara fisik maupun mental, dalam rangka menemukan sesuatu yang baru dalam kehidupan di masyarakat.

Aplikasi pembelajaran discovery strategy sebenarnya menitik beratkan pada kemampuan anak dalam memecahkan suatu persoalan yang dihadapi ketika dalam proses pembelajaran melalui pendekatan inquiry sebagai salah satu proses primordial dalam memahami model pembelajaran ini. Selain itu, discovery strategy juga menekankan pada proses pengembangan diri (self development) yang menuntut mereka bisa mengolah pikiran dan mengoptimalkan potensinya yang terpendam. Artinya, pengembangan diri bertujuan mematangkan potensi alamiah yang dimiliki. Tidak heran dengan pengembangan potensi tersebut akan berimplikasi pada peningkatan vocational skill (kecakapan kejuruan) yang merupakan target awal ditawarkannya penerapan discovery strategy dilembaga-lembaga sekolah.

Hamalik (Illahi, 2012) menyatakan bahwa discovery adalah proses pembelajaran yang menitik beratkan pada mental intelektual para siswa dalam memecahkan berbagai persoalan yang dihadapi, sehingga menemukan suatu konsep atau generalisasi yang dapat diterapkan di lapangan. Dengan kata lain, kemampuan mental intelektual merupakan faktor yang menentukan terhadap keberhasilan mereka dalam menyelesaikan setiap tantangan yang dihadapi, termasuk persoalan belajar yang membuat mereka sering kehilangan semangat dan gairah ketika mengikuti materi pelajaran.

Dalam tataran aplikasinya, discovery strategy disajikan dalam bentuk yang cukup sederhana, fleksibel, dan mandiri. Kendati demikian, masih diperlukan adanya pengkajian-pengkajian secara empiris dan praktis yang menuntut anak didik lebih peka dalam mengoptimalkan kecerdasan intelektualnya dengan matang, tanpa banyak bergantung pada arahan guru. Dalam sistem belajar-mengajar, guru tidak lansung menyajikan bahan pelajaran dalam bentuk final, tetapi siswa diberi peluang untuk mencari dan menemukan sendiri dengan menggunakan pendekatan pemecahan masalah (problem solving) yang sudah menjadi pijakan dalam menganalisis masalah kesulitan belajar.

Istilah discovery strategy dalam dunia pendidikan sudah mendapatkan perhatian dari elemen guru, terutama sekolah-sekolah yang berbasis kejuruan. Akan tetapi, hal ini masih dalam tahap pematangan untuk diterapkan pada semua jenjang pendidikan yang mengorientasikan siswa agar dapat mengembangkan potensi dan ketelampilan yang dimilikinya. Discovery strategy banyak diterapkan diberbagai sekolah yang menekankan pada pengembangan diri (self development). Penerapan ini membutuhkan keseriusan dari pihak guru dan siswa dalam merealisasikan strategi pembelajaran yang bersifat praktis, dinamis, dan kreatif. Mulyasa, seorang pakar kurikulum, menyatakan bahwa discovery strategy merupakan strategi pembelajaran yang menekankan pengalaman lansung di lapangan, tanpa harus selalu bergantung pada teori-teori pembelajaran yang ada dalam pedoman buku pelajaran. Dengan kata lain, proses pembelajran lebih diproyeksikan dari pada hasil yang hendak dicapai melalui perwujudan pembelajaran. Apalagi, proses pembelajaran ini tidak menekankan agar para anak didik dapat segera menguasai materi yang diajarkan, melainkan lebih menekankan pada pemahaman mereka, sehingga memberikan keyakinan utuh bagi pengembangan intelektual mereka selanjutnya. Dalam pandangan penulis, discovery strategy merupakan salah satu model yang memungkinkan para anak didik terlibat lansung dalam kegiatan belajar-mengajar sehingga mampu menggunakan proses mentalnya untuk menemukan suatu konsep atau teori yang sedang dipelajari.

Baca Juga:   Pengertian dan Langkah-Langkah Model Pembelajaran Kooperatif Teknik Kancing Gemerincing

Dengan keterlibatan lansung, para siswa diharapkan memiliki kesadaran pribadi untuk gigih menjalankan fungsi pendidikan sesuai realitas dilapangan dan mampu diterapkan di tengah-tengah lingkungan mereka tinggal, terutama lingkungan sekolah. Kesadaran pribadi tersebut dapat diperoleh melalui pengalaman lansung dalam kegiatan belajar-mengajar, dengan mengacu pada tingkat intensitas pemahaman yang muncul dalam memori otak mereka. Dalam konteks ini, pengalaman lansung dalam penerapan metode pembelajaran menjadi faktor yang cukup dominan dalam rangka memberikan sumbangan pemikiran bagi kelancaran di dalam kelas.

Pada titik inilah, belajar dari pengalaman lebih baik dari pada hanya berbicara dan tidak pernah berbuat sama sekali. Dengan demikian, tidak salah ketika discovery strategy dapat juga dikatakan sebagai proses pengalaman (expriencing process). Hal ini karena pembelajaran discovery strategy bertujuan untuk mendapatkan pengalaman belajar yang sesuai dengan kondisi fisik dan mental anak didik dalam menerima materi pembelajaran yang diberikan. Setidaknya, pengembangan discovery strategy memerlukan percobaan-percobaan yang memungkinkan siswa merasa senang dengan nuansa pembelajaran yang dianggap menarik dan memberikan daya pikatyang cukup mengesankan. Discoveri strategy juga menekankan pada upaya pendidikan untuk memberikan pengalaman belajar tentang efektivitas model pembelajaran, sehingga pembelajaran yang kreatif dan inovatif menjadi modal serta bekal untuk mendapatkan pengalaman secara optimal, sesuai dengan strategi pembelajaran yang diterapkan dan dianggap relevan dalam mendukung dunia kerja.   

  1. Kelebihan Discovery Strategy

Berikut beberapa kelebihan belajar-mengajar dengan discovery strategy, yaitu:

  1. Dalam penyampaian bahan discovery strategy, digunakan kegiatan dan pengalaman lansung. Kegiatan dan pengalaman tersebut akan lebih menarik perhatian anak didik dan memungkinkan pembentukan konsep-konsep abstrak yang mempunyai makna.
  2. Discovery strategy lebih realitis dan mempunyai makna. Sebab, para anak didik dapat bekerja lansung menerapkan berbagai bahan uji coba yang diberikan guru, sehingga mereka dapat bekerja sesuai dengan kemampuan intelektual yang dimiliki.
  3. Discovery strategy merupakan suatu model pemecahan masalah. Para anak didik lansung menerapkan prinsip dan langkah awal dalam pemecahan masalah. Melalui strategi ini, mereka mempunyai peluang untuk belajar lebih intens dalam memecahkan masalah, sehingga sehingga dapat berguna dalam menghadapi kehidupan dikemudian hari.
  4. Dengan sejumlah transfer secara langsung, maka kegiatan discovery strategy akan lebih mudah diserap oleh anak didik dalam memahami kondisi tertentu yang berkenaan dengan aktivitas pembelajaran.
  5. Discovery strategy banyak memberikan kesempatan bagi para anak didik untuk terlibat lansung dalam kegiatan belajar. Kegiatan demikian akan banyak membangkitkan motivasi belajar, karena disesuaikan dengan minat dan kebutuhan mereka sendiri.
  1. Kelemahan Discovery Strategy

Beberapa kelemahan dalam penerapan discovery strategy, yaitu:

Baca Juga:   Pengertian Model Pembelajaran Creative Problem Solving

  1. Berkenaan dengan waktu. Belajar-mengajar menggunakan discovery strategy membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan dengan metode lansung. Hal ini disebabkan untuk bisa memahami strategi ini, dibutuhkan tahapan-tahapan yang panjang dan kemampuan memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya.
  2. Bagi anak didik yang berusia muda, kemampuan berpikir rasional mereka masih terbatas. Dalam pembelajaran discovery, sering mereka menggunakan empirisnya yang sangat subjektif untuk memperkuat pelaksanaan prakonsepnya. Hal ini disebabkan usia mereka yang muda masih membutuhkan kematangan dalam berfikir rasional mengenai  suatu konsep atau teori.
  3. Kesukaran dalam menggunakan faktor subjektifitas ini menimbulkan kesukaran dalam memahami suatu persoalan yang berkenaan dengan pengajaran discovery strategy.
  4. Faktor kebudayaan dan kebiasaan. Belajar discovery strategy menuntut kemandirian, kepercayaan, kepada dirinya sendiri, dan kebiasaan bertindak sebagai subjek.
  1. Langkah-langkah pembelajaran Discovery Strategy

Menurut (Ilahi, 2012:93), Langkah-langkah pembelajaran discovery strategy menjadi suatu keniscayaan untuk diimplementasikan dalam kegiatan belajar-mengajar. Dengan kata lain, untuk mempermudah penerapan discovery strategy, dibutuhkan langkah-langkah pokok yang harus dilalui terlebih dahulu, diantaranya sebagai berikut:

  1. Berdiskusi

Dalam melaksanakan discovery strategy, kegiatan berdiskusi memegang peranan penting dalam menganalisis suatu persoalan yang sedang dihadapi. Berdiskusi mempunyai manfaat sangat besar dalam memecahkan suatu persoalan yang berkaitan dengan efektivitas pembelajaran. Diskusi dalam pendekatan discovery strategy akan memberikan kesempatan kepada kelompok diskusi untuk bertukar fikiran tentang persoalan yang sedang diperbincangkan, sehingga dapat mempertajam seluas-luasnya masalah yang dikategorikan bersifat opened.

  1. Bertanya

Kegiatan bertanya bagi para siswa menjadi suatu keniscayaan untuk dilaksanakan, karena kegiatan bertanya mempunyai implikasi yang besar guna merangsang mereka untuk melatih dan mengembangkan daya pikir, kemampuan intelektual, dan daya ingatan. Selain itu, kegiatan bertanya juga dapat menumbuhkan keberanian dan keterampilan mereka dalam menjawab dan mengemukakan gagasan yang berkenaan dengan suatu persoalan. Kegiatan bertanya merupakan landasan primordial untuk mematangkan kemampuan berpikir, sehingga pada gilirannya, memudahkan penerapan discovery strategy yang dilaksanakan di berbagai sekolah.

  1. Melakukan pengamatan (Observation)

Kegiatan pengamatan (observation) merupakan salah satu bentuk kegiatan discovery yang dilakukan dalam kelas. Kegiatan ini berguna untuk melihat secara jelas satu persoalan atau aktivitas yang berkaitan dengan proses pembelajaran. Dengan kegiatan ini, secara tidak lansung siswa akan mengetahui secara jelas aktivitas yang dilaksanakan dalam discovery strategy.

  1. Mengadakan percobaan (Experiment)

Bentuk kegiatan discovery strategy melalui jalan percobaan akan memberikan pengalaman baru bagi siswa dalam proses pembelajaran melalui jalan percobaan. Kemudian, mereka dilatih untuk bersikap berani mencoba menerapkan suatu konsep atau teori yang dijadikan sarana dalam mengimplementasikan proses dan hasil belajar. Dengan jalan ini, diharapkan mereka dapat menghasilkan suatu konsep atau teori yang diterapkan melalui percobaan. Sebab, kegiatan percobaan tersebut bertujuan melatih dan mengembangkan keterampilan mereka dalam menghadapi tantangan masa depan.

Baca Juga:   Pengertian Learning Cycle dan Alasan Menggunakan Learning Cycle

  1. Menstimulasi

Kegiatan menstimulasi dalam penerapan discovery strategy sangat penting untuk diaktualisasikan, karena mempunyai pengaruh yang besar, yaitu dapat mengoptimalisasikan keterampilan yang dimiliki anak didik dalam bentuk nyata. Dengan kata lain, kegiatan tersebut bermanfaat dalam menumbuh kembangkan kecakapan (skill) berpikir kreatif, akademik, sosial, dan vokasional (Vocational skill) dalam pribadi anak didik. Itulah sebabnya, seorang guru harus menstimulasi kemampuan pribadinya, sehingga mencapai hasil maksimal sebagaimana yang diharapkan.

  1. Melakukan penelitian (Inquiri Approach)

Melalui bentuk kegiatan ini, siswa dihadapkan pada suatu proses yang akan dicapai dalam penerapan discovery strategy. Dalam pendekatan penelitian, siswa dituntut untuk memulai proses penelitian dengan pencarian yang sangat cermat, sehingga mereka mampu menggunakan proses mental dalam usaha menemukan konsep-konsep atau teori-teori yang bisa diterapkan. Proses-proses mental yang dilakukan melalui pendekatan ini, misalnya dengan mengamati, mengukur, menduga, dan menarik kesimpulan dari apa yang telah diteliti.

  1. Memecahkan masalah

Memecahkan masalah merupakan salah satu penerapan dari discovery strategy. Kegiatan ini bertujuan mendapatkan kesimpulan dari satu persoalan yang diperbincangkan guna menghasilkan suatu rumusan masalah yang jelas dan jawaban sementara dari masalah tersebut. Langkah-langkah dalam memecahkan masalah dapat ditempuh melalui beberapa cara, diantaranya:

  1. Adanya masalah yang jelas ketika dipecahkan. Masalah ini harus tumbuh dari anak didik sesuai dengan taraf kemampuannya.
  2. Melalui data atau keterangan yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah tersebut, misalnya dengan membaca buku, meneliti, bertanya, diskusi, dan lain-lain.
  3. Menetapkan jawaban sementara dari masalah tersebut. Jawaban yang diberikan ini tentu saja didasarkan pada data yang telah diperoleh pada langkah kedua.
  4. Menguji kebenaran jawaban sementara. Melalui langkah ini, anak didik harus berusaha memecahkan masalah, sehingga betul-betul yakin bahwa jawaban tersebut sesuai dengan jawaban sementara atau sama sekali tidak sesuai. Untuk menguji kebenaran jawaban, tentu saja diperlukan metode-metode lainnya, seperti demonstrasi, diskusi, dan lain-lainnya.
  5. Menarik kesimpuan, artinya anak didik harus sampai pada kesimpulan terakhir tentang jawaban masalah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.